32. 10 Daftar Keinginan

75 13 0
                                        

Aku akan membuatmu tak pernah menyesal telah terlahir di dunia ini.

🐞Kumbang🐞

Now Playing => Lewis Capaldi - Hold Me While You Wait

...

Lukas mengedarkan pandangan melihat begitu banyak bunga di tempat itu. Hari ini Lukas berniat mendatangi tempat kerja Shafa, ia hanya ingin tau kebiasaan Shafa agar dirinya bisa mencoba lebih dekat pada gadis itu. Namun, gadis yang sedang merangkai bunga itu mampu mengalahkan cantik berbagai bunga hanya dengan paras fokusnya.

Lucu sekali, bibir Shafa akan maju jika sedang merangkai bunga akibat terlalu fokus. Seperti saat Shafa merangkaikan mahkota bunga, bibirnya bisa lebih maju dari idungnya membuat Lukas terkekeh ditempatnya mengingat hal lucu yang sepele pada gadis manis itu.

Sadar akan kekehan Lukas yang tertuju padanya, Shafa menoleh pada Lukas, menatap pria itu keheranan.

"Lo kenapa?" tanya Shafa.

"Lo??"

Lukas sedikit terkejut bahwa Shafa berbicara tanpa kehalusan pada dirinya. Shafa jarang berbicara khas anak Jakarta, tutur katanya selalu lembut dan sopan menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Namun, ada apa dengan gadis itu hari ini?

"Gue gak boleh ngomong kaya lo? Lo juga dari Sukabumi kan." Shafa menghentikkan aktivitas merangkai bunganya, ia menghampiri Lukas dengan tongkatnya.

Beberapa hari ini Lukas selalu menemani Shafa walau rasa sakit di dada Lukas bisa saja menjadi alibi pria itu. Namun, sosok Lukas yang selalu mengikutinya seakan telah mengganti sosok Genta yang tiada henti memperhatikannya, tentu saja mereka sangat berbeda namun... Lukas seakan membutuhkan Shafa. Pikiran Shafa muncul seperti itu karena jika tak ada dirinya disamping Lukas ia takut jika Lukas mendadak merintih menahan sakit dan tak ada orang yang dapat menolongnya karena Lukas seperti anak yang sebatang kara.

Terakhir kali Lukas menghubungi Shafa saat acara makan makan bersama sahabatnya mampu membuat Shafa panik setengah mati karena Lukas mengatakan bahwa tak ada siapapun yang dapat menolongnya kecuali Shafa. Walau sekali lagi Shafa katakan, bahwa dirinya bukanlah seorang dokter namun membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Lukas ketika tak ada satupun yang datang membuat Shafa khawatir, khawatir sebagai rasa kemanusiaan bukan rasa cinta.

Shafa meneliti setiap jengkal wajah Lukas. Dulu Shafa sangat tergila-gila pada pria itu, namun rasa cintanya memudar karena tatapan amarah Lukas dan ucapan tajam Lukas yang mengatakan bahwa dirinya adalah wanita murahan. Rasa sakit hatinya tak pernah lupa akan ucapan Lukas yang Shafa ketahui bahwa Lukas juga punya rasa penyesalan.

Shafa memakaikan mahkota bunga yang kedua yang dia berikan pada Lukas. Lukas terdiam ditempatnya menatap setiap detail wajah Shafa dari jarak yang sangat dekat.

"Oh! Jadi ini cowok yang gue bilang pangeran?"

Shafa menjauhkan dirinya, memberi jarak untuk menatap Lukas yang terlihat sangat tampan dengan mahkota rangkaiannya.

"Kenapa sih lo hobi banget bikinin gue mahkota bunga?" tanya Lukas memberi kesan ketus. Lukas memang memiliki ciri khas seperti itu, ketus tapi tulus.

Shata berfikir sejenak, "Muka lo cantik."

Ucapan Shafa mampu membuat Lukas mendengus hendak melepaskan mahkota itu dari kepalanya namun Shafa buru-buru menahannya.

"Sebentar!" sergahnya.

Kumbang [Complete]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang