Noushafarina Tavisha, gadis cacat yang mampu bersekolah di SMA Mekar yaitu salah satu sekolah paling bergengsi yang dihuni oleh para murid yang high class. Namun, hanya Shafa yang berbeda mengingat gadis itu hanyalah gadis cacat dari kelas rendah ya...
⭐Bisakah aku meminjam kebahagiaanmu untukku? Hanya sementara.⭐
🐞Kumbang🐞
Now Playing => Fiersa Besari - Waktu Yang Salah
...
Senja datang bersama sebuah perjanjian yang tak terucap. Lukas menatap gadis yang sedang menatap takjub senja yang mereka saksikan di Le Bridge, Ancol. Lukas membawa gadis itu untuk menemani hari-harinya dari pagi hingga malam tiba, hanya untuk memastikan ia dapat melihat Shafa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lukas mencoba meraih lengan Shafa yang masih asik tersenyum menikmati waktu mereka disana. Namun, sebelum Lukas meraih lengan itu, tangannya gemetar. Dia gugup padahal Lukas adalah tipikal semaunya namun kali ini ia takut gadis itu tak menyukai tindakannya karena Lukas ingin mencoba membuat Shafa menaruh eksistensinya di hati gadis itu walau hanya sepertiga dari rasa cinta gadis itu pada Genta.
Tangannya basah, jantungnya berdegup tak karuan lagi membuat Lukas diam diam meremat dadanya ketika tatapan Shafa masih pada langit oranye itu. Lukas mengatur nafasnya sejenak agar ia tak mendapat rasa nyeri di dadanya.
Percayalah.. Lukas masih rajin menemui dokter yang menanganinya dan dirinya memohon pada dokter itu untuk membuat detaknya berfungsi sedikit lebih lama, ia ingin menikmati hari-harinya bersama Shafa sebagai ganti ketika gadis itu pergi karenanya.
Lukas kembali meraih tangan Shafa namun dalam gerakan cepat karena ia takut rasa gugupnya tertera jelas.
"Maaf tangan gue basah. Tapi, gue butuh tangan lo."
Cara bicara Lukas masihlah dingin, pria itu selalu menutupi segala emosinya dengan sikap dinginnya, entah itu bahagia, gugup, sakit. Semuanya ia sembunyikan menjadi tatapan ketus dan suara yang dingin.
"Gak masalah."
Detik ini ucapan Shafa membuat Lukas terkejut, ia tak pernah mengira jika reaksi Shafa akan seperti itu. Tak peduli jika kepedulian atau kebaikan Shafa hanyalah rasa kasihan bukan cinta, Lukas sungguh tak peduli. Yang penting Shafa ada di sampingnya, hanya itu.
"Tumben?" Lukas hanya ingin mencairkan suasana dengan pertanyaan itu.
Shafa menoleh mendapati mata Lukas yang sedikit tak percaya akan perlakuannya.
"Shafa gak mau bikin Lukas marah. Shafa tau kok setiap Lukas marah, Lukas itu lagi kesakitan, makanya Lukas suka teriak marah-marah sebenernya lagi teriak nahan sakit. Shafa bener kan?"
Penjelasan Shafa seratus persen benar. Akhirnya gadis itu mengerti mengapa sikap Lukas selalu terlihat kejam tanpa perlu ia jelaskan. Karena menjelaskan kelemahan bukanlah gayanya.
Shafa tersenyum, "Shafa sadar... Shafa cuma punya Lukas sekarang. Lukas pun cuma punya Shafa. Lebih baik kita saling.."