39. Dari Lukas Untuk Shafa

97 13 0
                                        

Jika kau memang ingin pergi... bawa aku bersamamu.

🐞Kumbang🐞

Now Playing => Eric Nam - Before The Sunset

...


Senja datang, dan Shafa hanya bisa mengenang dengan cara berjalan di Le Bridge, Ancol tanpa genggaman. Ia hanya menggenggam keterpurukannya di bawah langit jingga, bernyanyi secara lirih diiringi hembusan angin yang membelai surai Shafa lembut.

Setidaknya, disini, di tempat itu untuk pertama kalinya Shafa telah memberi keinginan Lukas. Untuk pertama kalinya Shafa belajar untuk membuka hati. Untuk pertama kalinya Lukas menggenggam lengannya dengan ketulusan bukan obsesi. Semakin Shafa mengingat semakin hatinya berlabuh di permukaan yang berduri, wahana cinta ternyata lebih menakutkan dibanding apapun. Ia tak pernah mengira akan jatuh cinta hingga hidupnya menggelap, ia kira jatuh cinta akan membuat hidupnya semakin berwarna. Dan semuanya telah berlalu, dan inilah akhir yang Shafa miliki.

Tak ingin Shafa menghentikkan langkahnya namun suara familiar menghantui pikirannya, entah ia sedang berhalusinasi atau memang dirinya sudah gila namun terlintas jelas sebuah kalimat yang membuat hatinya terguncang.

"Kumbang.. Kamu hanya memiliki satu sayap. Tapi, biarkan aku mengganti hidupku sebagai sayapmu untuk terbang menggapai semua yang kamu inginkan."

Shafa telah menduga bahwa dirinya memang sudah tak waras namun tetap ia tegakkan kepalanya hingga matanya bertemu mata keruh yang selalu Shafa tatap, sangat lama sekali hingga banyak potongan yang berlabuh di benaknya.

Bintang...

Shafa hanya mengucap itu dalam batinnya, ia tak ingin pria di hadapannya menanam harap. Lagipula Shafa belum memastikan apakah ia sedang berimajinasi atau sedang bermimpi. Karena tak mungkin pria itu tau keberadaannya, ia tak pernah mengatakan apapun tentang tempat itu, tempat yang kadang Shafa kunjungi ketika matahari terbenam lirih.

Suasana semakin mengetuk hati Shafa ketika pria itu mendekat, semakin dekat hingga Shafa berakhir menutup matanya, ia terlalu takut. Entah apa yang membuatnya takut, namun detak yang sebelumnya lambat mendadak cepat, tepat ketika Shafa merasakan belaian lembut di pipinya.

"Buka mata kamu.." ucapnya.

Shafa bersikukuh merapatkan kelopak matanya hingga beberapa detik kemudian ia merasa sedang masuk ke sebuah rumah yang terasa sangat hangat, entah pria itu nyata namun pelukan yang Shafa rasakan terasa sangat nyata bahkan tak dapat ia tahan lagi air mata yang sebelumnya telah mengering akan rasa yang telah padam, semuanya mendadak kembali. Shafa tak benar-benar memadamkan perasaannya, ia hanya berusaha mengabaikan. Dan satu pelukan itu telah berhasil membuat perasaannya hancur lagi.

Genta. Pria itu kembali mengembalikan semua kenangan dalam satu rengkuhan, entah Shafa akan menerima kenangan itu kembali atau hanya berakhir dibuang ke tempat yang tak pernah ia jangkau. Namun, detik ini Genta berharap semuanya telah berhenti, ketika dirinya memeluk erat gadis yang sangat ia rindukan melebihi apapun. Ini adalah pelukan pertama yang terasa sangat menyakitkan namun mampu membayar segala rindu yang sebelumnya menyiksa tanpa henti. Dengan lembut dan penuh perasaan Genta mengusap surai Shafa, mencoba menenangkan hati Shafa yang terluka, Genta sangat mengerti betapa sakitnya hati Shafa saat ini.

Jika saat itu Genta masih mengurung niatnya untuk tak membuka buku merah itu, mungkin ia tak akan pernah tau tentang 10 permintaan yang tertera disana. Atau mungkin Genta tak akan pernah tau bahwa selama ini Shafa ada disini dengan kerapuhan mendalamnya. Genta sangat menyesal ia telah meninggalkan Shafa dengan cara yang salah, Genta hanya dapat berandai bahwa Shafa akan mengerti posisinya saat itu. Entah mengapa Genta selalu berada di posisi yang salah.

Kumbang [Complete]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang