bagian 17

14.9K 1.1K 31
                                        



🌾Selamat membaca


Sudah seminggu zidan menunggu kelopak mata itu terbuka. Dokter pun sudah memberitahu bahwa Zidan bahwa adiknya itu hanya bisa bertahan kurang lebih 1 bulan lagi, itupun dengan alat bantu. Jujur perasaan Zidan tak karuan saat ini. Ia bingung apa ia tetap memperjuangkan Rafa atau membiarkan rasa sakit itu pergi dari tubuh Rafa.

"Udah seminggu fa, udah seminggu lo begini. Lo ngga rindu sama gua? Lo mau gua gimana biar lo bangun? Kasih tau apa yang harus gua lakuin?" Ujarnya sambil mengusap pelan kening sang adik dengan lembut.

Ia membawa tangan rafa yang terbebas dari infus itu ke pipinya. Melepaskan semua yg ia rasakan selama ini. Yaitu kerinduannya terhadap Rafa.

Ceklek...

Salah satu dokter memasuki kamar rawat Rafa secara tiba tiba. Zidan yang melihat itupun lantas berdiri lalu menatap dokter itu dengan tatapan kebingungannya.

"Permisi! Maaf mengganggu. Saya akan mengecek keadaan Rafa dulu sebentar." Ucap dokter itu sambil meletakkan stetoskop yang ada dilehernya itu ke kedua telinganya lalu beralih ke dada rafa.
Dokter itu meraba dada rafa dengan alat tersebut. Menyenter bola mata rafa lalu mengecek urat nadinya.

"Gimana dok? Kapan adik saya bangun?" Tanya zidan dengan serius.

"Kita belum bisa memastikan kapan adik kamu bangun. Tapi alhamdulillah keadaanya sudah mulai berangsur membaik."  Jelas dokter tersebut sambil tersenyum me arah Zidan yang masih menekukkan mukanya.

"Jadi belum ada kepastian Rafa bakal bangun dok?" Tanya Zidan lagi dengan raut wajah sendu miliknya.

"Jangan berbicara seperti itu. Cukup yakini dalam hati kamu, kalau Rafa akan bangun." Nasehat dokter itu sambil menepuk bahu Zidan pelan.

"Makasih dok." Zidan menganggukkan kepalanya seraya berkata benar kepada dokter yang ada didepannya ini.

"Sama-sama. Nanti malam saya akan sempatkan untuk mengecek keadaan Rafa. Saya harap kamu bisa memantau keadaannya ya?" Ujarnya.

"Iya dok, Pasti." Jawab Zidan dengan pasti.

"Yasudah saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa memanggil suster yang berjaga." Dokter itupun melangkahkan kakinya keluar diiringi Zidan yang menghantar dokter itu ke depan ruangan. Setelahnya iapun kembali masuk ke ruang rawat sang adik.

Zidan mendudukkan dirinya disofa yang telah disediakan, Lalu membuka handphone yang ia letakkan di saku celananya. Zidan kembali membuka pesan yang menjadi penyebab Rafa terbaring lemah seperti sekarang.

"Siapa sih yg ngasih foto ini? Kurang ajar banget. Kayaknya yang ngirim bener-bener ngga suka sama Rafa." Ucapnya seorang diri sambil memijat pelipisnya yang sedikit terasa nyeri.

"Ngapain sih kak?" Keinan tiba tiba datang lalu duduk disamping zidan.

"Ngga, gua cuma lagi mikirin, Kayaknya ada yang ngga suka sama rafa sampai ada yang fitnah dia pake foto ini." Ujar Zidan seraya menunjukkan handpone miliknya ke keinan.

"Jadi gara-gara ini?" Tanya keinan dengan nada seriusnya.

"Hmm." Ia menundukkan kepalanya ke bawah. Ia merasa menyesal meninggalkan rafa malam itu dan termakan oleh foto yang tidak jelas ini.

"It's okey kak, Gua ngerti lo udah salah paham. Ngga usah lama lama ngerasa bersalahnya." Keinan berucap sambil menepuk bahu zidan.

"Gua ngerasa bodoh banget." Jawab Zidan dengan kepala yang masih setia menunduk.



//

21.30

Ruangan itu terasa sepi sekarang. Padahal televisi jelas jelas berada dihadapan mereka berdua. Tapi Zidan menolak, ia takut mengganggu ketanangan Rafa. Sedangkan Keinan, laki laki itu sibuk dengan handphonenya saat ini.

"Kak, gua pulang duluan ya? Soalnya nyokap sendiri dirumah. Ini barusan dia ngechat. Oh iya, tadi katanya juga Rencana besok dia kesini ngejenguk Rafa." Keinan membuka suara ditengah keheningan itu.

"Oh iya. Udah malem juga, ngga baik lo di luar. Sekali lagi makasih ya kei, bilangin juga sama mama lo makasih." Jawab Zidan sambil berdiri.

"Oke. Yaudah gue balik dulu. Jaga Rafa kak." Keinan lantas keluar dari kamar rawat rafa hingga punggung itu tak lagi kelihatan.

Zidan kembali duduk di samping brankar rafa. Menatap adiknya itu, Sambil melafalkan semua doa agar sang adik kembali bangun dan tersneyum ke arahnya.
Ia lalu menggenggam tangan rafa, tak lupa juga Zidan mengoleskan minyak zaitun ditangan rafa agar tangannya tetap lembab. Tanpa ia sadari tangan yang sedari tadi ia pegang bergerak pelan.

"Tangan lo kering tau ngga fa? Jadi kasar gini." Ucapnya seorang diri yang masih sibuk memijat tangan kecil nandingin itu.

"Eungh..." Zidan yang dari tadi sibuk mengoleskan minyak di tangan Rafa mulai tersadar bahwa adiknya mulai merespon, yang menandakan Rafa akan segera bangun.

"Rafa? Yaampun akhirnya lo sadar juga." Dengan sigap Zidan menekan tombol merah di samping brankar adiknya dan tak henti tersenyum ke arah Rafa yang masih mengerjapkan matanya lucu.



//

Dokter benar-benar lega mendengar salah satu pasien yang kemarin sempat kritis bangun hari ini. Tampak dari mukanya, wajah dokter itu tampak berbinar.

"Syukurlah, semuanya sudah membaik. Hanya saja karena keadaannya terlalu lemah kita terpaksa membiusnya kembali. Insyaallah hari besok bila keadaanya semakin membaik, Rafa akan kami pindahkan ke kamar inap supaya mudah menjenguknya." Dokter tersebut tersenyum sambil menjelaskan keadaan rafa ke Zidan.

"Terima kasih banyak dok." Zidan turut membalas senyum manis dokter itu.























[TBC]

Makasih yaa yang udah vote dan komen💜😉

Maaf kalo banyak tulisan aku yg typo, yg salah karakter sama dialognya.

MAKASIH BANYAAAKK 💜✨

*kalau masih ada kesalahan setelah direvisi, tolong dikoreksi yaa😉

P L E A S E! [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang