🌾Selamat membaca
Rafa memutuskan untuk berpamitan ke Zidan untuk berbelanja bahan makanan karena stoknya yang sudah menipis. Ia memutuskan berjalan kaki saja karena takut boros bila harus menggunakan angkutan umum. Sebenarnya pasar yang ia tuju tak terlalu jauh, taoi karena badannya yang masih lemas membuat kakinya sedikit lemas untuk berjalan.
Disisi lain, seorang laki-laki paruh baya tengah tersenyum sini ke arah Rafa yang baru saja keluar dari rumahnya. Ia mengikuti langkah anak itu dengan menggunakan mobil jeep hitamnya. Hingga ketika keadaan sepi, ia mulai melakukan tugasnya. Pria itu turun bersama anak buahnya yang berbadan besar itu lalu menarik tangan Rafa secara kasar.
"Eh kalian siapa? LEPASIN! TOLONG!! TOLONG!! HMMMPP..." Teriakan itu tak terdengar lagi. Melihat Rafa yang sudah tak sadarkan diri, mereka lalu membopong badan lunglai tersebut ke dalam mobil yang sudah mereka siapkan. Mobil itu melaju dan mengarah ke arah pabrik tua yang sudah tampak usang.
Rafa masih terpejam karena di beri cairan chloroform yang membuat matanya memberat. Mereka menyeret badan ringan itu lalu mengikatnya di kursi yang sudah disiapkan. "Bagus, kita biarkan dia disini dulu. Jaga dia! Jangan sampai kabur." Sang ketua berucap dengan tegas kepada 3 anak buahnya.
"Baik bos."
Ketua penculikan bernama Reza itu melangkahkan kakinya keluar lalu menelpon seseorang yang pasti kalian ketahui siapa.
"Halo."
"Bagaimana? Berhasil?" Yap, Itu suara fitri. Dialah dalang dari penculikan ini.
"Seperti yang anda perintahkan."
"Hahahaha Bagus sekali. Yasudah, nanti malam saya ke sana."
Sambungan Fitri matikan begitu saja. Reza menyeringai tepat setelah itu.
"Kita lihat permainannya nanti, Fitri." Ujarnya penuh penekanan.
//
Zidan kini tengah berdiri di teras rumahnya. Matahari bahkan hampir tenggelam, namun sosok Rafa yang ia tunggu tak kunjung terlihat. Jujur saja kekhawatiran menguasainya saat ini. Tapi mengingat kesalahan anak itu, otaknya slalu berpikiran untuk membenci adiknya tersebut.
"Lama banget pulangnya. Ngga tau gua udah lapar." Kata Zidan dengan kesal. Bahkan ia tak sama sekali memikirkan keadaan Rafa yang pamit dan pergi dengan keadaan wajah yang sudah pucat pasi.
//
22.00
Fitri akhirnya datang ke tempat Rafa disekap. Mata dan mulut Rafa ditutup dengan kain dan tengah tersandar dikursi dengan peluh yang membasahi bajunya dan pelipisnya.
"Anak malang." Ucapnya sambil mengangkat dagu Rafa kemudian menampar pipinya hingga mata yamg tadinya terpejam kini terbuka. Rafa benar-benar tampak syok melihat sosok Fitri yang tengah berdiri dihadapannya.
"T-tante? Hiks..hiks.. Lepasin Rafa! Sakit..hiks..hiks.." Isak rafa dengan tubuh menunduk. Bukannya merasa iba, Fitri malah tersenyum mendengar lirihan lemah Rafa. "Hahahaha... Enak aja. Ngga akan saya biarkan kamu pulang dengan selamat kali ini." Ucap fitri sambil mencengkram dagu Rafa kasar.
"Jangan, tan. Jangan! Tolong lepasin Rafa." Pintanya dengan lemah.
"Kita main sebentar ya? Baru saya lepasin kamu." Fitri berucap dengan remeh.
Reza dan anak buahnya memperhatikan kedua orang yang sedang berbicara itu. Ia melihat anak yang ia sekap dengan uraian air mata dan tengah memohon kepada Fitri. Hati nurani siapa yang tak terketuk melihat anak yang seharusnya dilindungi malah diperlakukan seperti ini.
"Sepertinya tidak bisa berlama-lama disini. Keinan anak saya pasti tengah menunggu sekarang. Jaga dia! Habisi dia besok." Ucap fitri sambil menenteng tas zara miliknya. Fitripun mulai menjauh dari sana.
"Tante!!" Teriakan itu berhasil membuat langkah Fitri terhenti. Ia lu membalikkan tubuhnya menghadap Rafa.
"Jangan lakuin ini sama Rafa, tan." Hati Fitri berdesir mendengar lirihan tersebut. Namun dengan cepat ia hapus kekhawatirannya itu dan pikiran yang dipenuhi dengan nama Rafa itu.
"Kamu yang bikin saya menjadi begini. Maka terima akibatnya." Jawab Fitri dengan yakin Lalu ia lanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
"Hiks.. Tantee!! Hiks.. Lepasin Rafa..."
"DIAM!! Belum juga disiksa." Kata salah satu anak buah rmReza. Hal itu sontak membuat Rafa ketakutan setengah mati.
"Om lepasin Rafa..."
//
Zidan kini benar-benar bingung dimana adiknya berada. Sudah hampir tengah malam tapi Rafa belum juga terlihat. Zidan yang saat itu sedang menontonpun mematikan televisi yang menyala itu lalu mengeluarkan hanphonenya
Kini satu-satunya cara adalah dengan menelpon semua teman terdekat Rafa.
☏
"Halo! Ini teman Rafakan?"
"......."
"Hmm Rafa ada kerumah kamu ngga?"
"......."
"Ooh gitu ya? Yaudah makasih."
Karena tak kunjung mendapat keberadaan sang adik, kini Zidan baru teringat bahwa ia belum menelpon Keinan, yang dulunya sahabat dekat Rafa.
☏
"Halo kei."
"Kenapa nelpon gua?"
"Rafa belum pulang dari tadi sore, dia ada kerumah lo ngga?"
"Kalaupun dia kesini ngga bakal gua biarin."
Tut
Tut
Tut
Zidan mulai tersulut emosi. Ntah mengapa ia merasa jengah bila ada sesuatu yang berkaitan dengan Rafa seperti ini.
"SELALU AJA BEGINI. DASAR NYUSAHIN!!" Tanpa rasa bersalah Zidan mengucapkan kalimat itu lalu melenggang pergi.
Sedangkan Keinan yang barusan ditelpon oleh kakak sahabatnya itu, tiba-tiba memikirkan hal yang menurutnya aneh. Mamanya juga belum pulang, Apa mamanya ada kaitan dengan hilangnya Rafa?
[TBC]
Double up deh hihihi🎉
Makasih yang udah baca sampai habis, udah vote dan komen juga😚😘
MAKASIH BANYAAAAAK💜💫
*kalau masih ada kesalahan setelah direvisi, tolong dikoreksi yaa😉
KAMU SEDANG MEMBACA
P L E A S E! [End]
Teen FictionDia yang hidup hanya sebagai pelampiasan kemarahan dari seseorang yang tak lain adalah kakaknya sendiri. ......... "LO ITU CUMA NUMPANG BANGS*T!! "Maaf kak..." #48 friendship → 20200831 #10 brotheship→ 20200907 #06angst → 20210217 ⚠AKU TEKANIN, CER...
![P L E A S E! [End]](https://img.wattpad.com/cover/229644042-64-k897193.jpg)