bagian 2

33.8K 2.2K 82
                                        


🌾selamat membaca



Pagi ini, rafa bangun dengan keadaan yang tak bisa dikatakan baik. Kepala yang terasa diputar sehingga pengelihatannya berubah buram membuat ia sedikit kesusuhan membuka mata.

"eunghh... Akhh.." rafa meringis memegang kepalanya. Ternyata ia masih disini. Tempat zidan menendang kepalanya semalam.

"kok lo bangun ? Gua udah seneng tadi. Kenapa ngga mati aja hah?" sarkas zidan yang berada didepannya.

"M-ma-maaf.." Lirihnya.

"Gua muak denger maaf maaf maaf dari mulut sampah lo itu." Zidan pun berlalu setelah mengucapkan kata itu.

"Terus apa yang harus rafa lakuin? Rafa ngga tau lagi kak..." Lirihnya dalam hati.

Rafapun mulai bangkit dengan tertatih-tatih. Tangannya mencoba menyangga badannya agar tak oleng. Namun tiba-tiba suara yang tadi menghilang kembali ke hadapannya dengan wajah yang tak sedingin tadi.

"Lo ikut gua hari ini!" Ujar Zidan dengan wajah yang sedikit memelas.

"T-ta-tapi Rafa seko-" kalimatnya dipotong terlebih dahulu oleh zidan.

"NURUT AJA!" Bentaknya.

"Iya kak." ia lalu segera beranjak dari ruang itu dan berlalu ke kamarnya untuk bersiap siap.


08.12

"RAFA!! BANGS*T SINI LO!" Panggilnya pada rafa yang dari tadi tak kelihatan wajahnya.

sedangkan Rafa, laki laki itu kini tengah meringis di tepi kasur miliknya. Ntah mengapa kepalanya serasa ingin pecah saja. Ia menekan kepalanya itu berkali kali mencoba menghilangkan rasa sakit itu.

BRAK...

Zidan masuk dengan keadaan wajah yang memerah. Ia tau kakaknya tengah menahan marah kini. Namun Rafa berusaha diam, Bila ia bersuara malah akan menambah masalah dengan sang kakak.

"LO PUNYA TELINGAKAN?! GUA CAPEK MANGGIL-MAGGIL LO, TAPI MULUT LO NGGA NYAUT SEDIKITPUN!" Bentaknya tepat didepan pintu kamar rafa.

"M-mm-maaf kak. R-rafa ngga dengar tadi." rafa meyakinkan kakaknya.

"KEMBALIIN DUIT GUA!" Sarkas zidan ke arah rafa yang masih terduduk itu.

"Duit? Rafa ngga ambil duit kakak." Jawabnya dengan jujur tanpa kebohongan sedikitpun.

"LO MAU KENA LAGI HA?! SINI, MANA DUIT GUA?!" bentaknya tanpa ada rasa percaya pada sang adik yang tampak ketakutan.

BRAK...

Zidan menutup pintu kamar rafa, lalu mengkuncinya. Kini tinggallah mereka berdua di dalam kamar itu.

"Lo udah ngelakuin kesalahan fatal sama gua." Ujarnya dengan kekehan menyeramkan yang ditujukan pada rafa.

Bugh

Bugh

Bugh

"DASAR NGGA TAU DIRI!! LO ITU CUMA NUMPANG BANGS*T!" Makian itu terdengar jelas ditelinga rafa.

Rafa mencoba untuk tidak meringis. Ia tak boleh terlihat lemah didepan kakaknya. Namun bila ia melawan, semuanya akan lebih parah dibanding sekarang.

"Kak... Kak liat rafa! Rafa ngga mungkin ambil barang kakak tanpa izin. Kakak harusnya ngerti kalau rafa-" ucapan itu dipotong oleh zidan yang menatap mata sendu sang adik. Yg ia tangkap hanya air mata yg mengalir deras dari matanya.

"Terserah. Lo mau nyangkal gimanapun tetap lo yg salah. Logikanya cuma lo dan gua disini. Terus siapa yang ngambil, ya pasti lo lah" sarkas zidan tanpa mendengar penjelasan dari rafa.

"....." Rafa tak mau lagi membela diri. Rasanya percuma. Ia tetap disalahkan. Sebegitu tak percayanya zidan terhadapnya? Kini ia hanya menunduk. Mencoba menahan tangis yang mungkin sebentar lagi akan meledak.

Zidan lalu beranjak, Ia tak keluar melainkan ke sudut gudang. Rafa baru sadar bahwa kakaknya tengah menenteng tongkat besi miliknya itu. Perasaan tak sedap mulai ia rasakan.

Tongkat baseball

Rafa lupa, ia masih menyimpan barang itu dikamarnya. Rafa yakin, Zidan akan menyakitinya lagi. Tapi kali ini mungkin akan terasa lebih menyakitkan dari pada biasanya.

"Kakak mau ngapain?" rafa benar benar ketakutan sekarang. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Badannya ia mundurkan kebelakang hingga tanpa sadar ia sudah bersandar di dinding dingin itu.

"Lo nanya gua mau ngapain? Lucu." zidan melangkah mendekati rafa.

"Kak... kak jangan kak! Bukan rafa yang ambil." Ujarnya sambil menatap sendu zidan yang tak ada iba sedikitpun.

Bugh

Satu pukulan itu ia layangkan di lengan kanannya. Rafa tampak meringis hebat, air mata yang ia tahan akhirnya mengalir deras dipipinya.

Bugh

Pukulan kedua ia layangkan ke punggung rafa. Kini laki laki itu tergeletak lemas dilantai nandingin dengan dahi yang berkerut. Kedua tangannya berusaha menutup kepalanya.

Bugh

Pukulan ketiga itu ia arahkan ke lengan kiri rafa. Tak ada lagi tenaga sedikitpun untuk melawan. Ia hanya bisa menutup kedua matanya dan berharap tuhan akan menyadarkan sang kakak.

Bugh

Brakh...
































[TBC]

Makasih yang udah baca, vote dan komen. Maaf kalo misalnya setiap part itu terlalu pendek😅😔

MAKASIH BANYAAAK💜💜💫

*Kalau masih ada kesalahan setelah direvisi, tolong dikoreksi yaa😉

P L E A S E! [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang