bagian 3

29.9K 2.1K 95
                                        

🌾selamat membaca


  Uhuk...uhuk..

Pukulan keras ia tujukan tepat mengenai perut rafa serta kepalanya. Darah segar itu mulai mengalir dari mulutnya. Nyeri itu kian terasa setelah pukulan keras itu. Air mata nanjernih milik rafa mulai turun. Kaki itu tersentak kuat karena tak dapat menahan sakit yang teramat sangat.

Setelah zidan memukul rafa ia beranjak ke sudut gudang untuk meletakkan kayu yg ia gunakan tadi untuk memukul adiknya. Setelah itu ia mulai mendekati adiknya yang sudah terkapar dilantai kotor itu.

"gua udah berusaha sabar ngeliat sikap lo tau ngga?! Setidaknya lo ada gunanya sedikit. TAPI LO MALAH NYUSAHIN HIDUP GUA!" ." ucapnya tepat ditelinga rafa. Namun semua kegiatan itu terhenti ketika terdengar suara ketokan pintu dari arah depan.

Tok tok tok...

Zidan yang mendengar itu lantas  beranjak pergi meninggalkan rafa yang hampir kehilangan kesadaran itu sendirian. Semua badannya sudah terasa mati rasa. Tak lama setelah itu pandangannya mulai mengabur.

Zidan pov

Zidan sedikit mempercepat langkahnya ke arah pintu depan karena suara ketukan itu kian terdengar. Ia membuka pintu kayu yang dipenuhi ukiran itu dengan sesikit perlahan yang melihatkan seorang laki laki sebayanya tengah menunggu didepan pintu.

   Ceklek...

"Edo!!" zidan kaget mendapati sahabat karibnya itu berada dirumahnya sekarang. Yap, zidan jarang sekali membawa temanya ke rumah. Ia lebih suka menutup diri dan bersikap dingin termasuk ke sahabatnya.

"Dan, nih duit 50.000 lo. " edo mengeluarkan uang tersebut dari saku kanannya lalu memberikan uang itu ke zidan.

"Duit apaan nih?" Perasaanya mendadak tak enak.

"Sorry kemarin gua ngga bilang ambil duit lo. Soalnya ada urusan mendesak banget, tapi pas gua kesini lo ngga ada. Ya gua ambil aja." Jelasnya edo yang membuat zidan terdiam di hadapannya.

Zidan tertegun mendengar penjelasan edo. Ia sudah salah paham. Ia mengira rafalah yang mengambil duit tersebut. Namun perkiraannya salah. Tepat setelah itu ia mengambil duit yang diulurkan edo lalu menutup pintu dengan cepat.

BRAK...

pintu itu ia tutup dgn keras tanpa menghiraukan sahabatnya yg masih diluar. Edo yakin ada kesalah pahaman disini. Bagaimanapun juga zidan dan dia sudah berteman 4 tahun lebih. Ia sudah tau sifat asli sahabatnya itu.

   Ceklek...

Saat membuka pintu, Adiknya masih berada pada posisi yg sama, tak bergerak dan tak bergeser seinci pun. Perasaan zidan mulai tak karuan. Ia bahkan melihat darah itu semakin banyak dilantai.

"Fa!" Panggil zidan dengan sedikit memelankan suaranya. Namun tak ada pergerakan sedikitpun oleh rafa. Zidan agak terkejut melihat darah yang masih setia keluar dari mulut adiknya itu.

Tanpa pikir panjang lagi zidan membawa adiknya yang sudah berlumuran darah itu ke kamar pribadinya. Ia perlahan menyelimuti sang adik. Mematikan AC kamarnya lalu menelpon salah satu keluarganya yang kebetulan bekerja dirumah sakit.

//

Tok tok tok...

Zidan langsung berlari ke arah pintu lalu membukanya, memperlihatkan seorang laki laki berjas putih. Laki laki itu lalu tersenyum dan menyapa zidan.

"Om langsung kedalam aja ya?" Ujar zidan pada laki laki itu.

"Adik kamu kenapa lagi zidan?" Tanyanya dengan lembut pada zidan.

"Aduh.. Susah jelasinnya. Ayo om masuk!" Mereka berdua pun lalu masuk ke rumah itu dan langsung menagarah ke kamar zidan.

//

"gimana om?" raut yang sedikit khawatir itu masih tertera diwajah zidan. Bagaimanapun juga ini kesalahannya dan ia harus bertanggung jawab.

"kamu sebaiknya bawa rafa ke rumah sakit zidan, kayaknya ada luka dalam sampai darahnya ngga bergenti gini." ujarnya dengan jelas kepada zidan.

"Separah itu ya?" Tanya zidan lagi dengan tatapan penuh tanya itu.

"Berdoa aja, semoga rafa ngga kenapa-napa." Jawab laki laki tersebut sambil tersenyum ke arah zidan.

//

"gimana keadaannya dok?" Tanya zidan saat dokter berjas lengkap itu keluar dari UGD.

"keadaannya sudah stabil. Tapi untuk saat ini pasien masih dibius karena keadaannya masih terlalu lemah." ujar dokter yg menangani rafa tersebut. Zidanpun hanya bisa menaggukkan kepalanya sembari mengiyakan ucaopan dokter tersebut.

"makasih dok." Ujarnya. Dokter itupun berlalu pergi.

Setelah itu, tanpa ragu zidan memasuki ruangan tempat adiknya dirawat sekarang. Ia tertegun melihat kondisi adiknya yg dipenuhi kabel disekitar dadanya. Belum lagi oksigen yang menutupi hidung rafa membuatnya sedikit merasa bersalah.

"Sorry, gua udah salah paham sama lo." Ujar zidan saat berada didekat sang adik.

Tiba tiba ia melihat mata adiknya bergerak. Jujur rasa lega kini ia rasakan. Namun ntah mengapa kegengsiannya itu mulai menguasai diri zidan saat melihat sang adik bangun. Iapun kembali bersikap dingin seperti dulu.

"eungh..." Lenguhan itu keluar dari mulut rafa.

"udh bangun lo?!" ucap zidan ketus tanpa ada rasa ikhlas sedikitpun untuk mengatakannya.

"AKKHH!!" Saat rafa membuka mata, dengingan mulai menusuk telinganya dan membuat kepalanya pusing. Ia bahkan tak sanggup membuka matanya. Sesekali ia pukul keningnya yang masih di perban itu, namun segera dicegah oleh zidan yang sedari tadi hanya diam melihat rafa yang kesakitan.

"jangan digituin!" tangan zidan kini memegang tangan rafa yg sedari tadi memukul kepalanya sendiri.

"sakit kak..." suara itu benar benar lirih.

Karena zidan merasa sedikit tak tega melihat adiknya yg terus meraung kesakitan, ia menekan tombol merah yg ada disamping adiknya untuk memanggil perawat ataupun dokter yang berjaga.

Setelah menunggu 2 menit akhirnya dokterpun datang. Mereka menyuruh Zidan untuk menunggu diluar terlebih dahulu.

//

Sehabis memeriksa keadaan rafa dokter itu kini mendekati zidan dengan raut wajah yang tak terbaca. Zidan pun mengerti sepertinya ada yang tak beres.

"ada sesuatu yg harus saya bicarakan dengan wali pasien." Ujar dokter tersebut pada zidan.

"saya kakaknya dok." Jawabnya tanpa  paksaan sediktpun.

"apa saya bisa bicara dengan orang tua kalian?" Zidan terdiam sejenak.

"maaf, tapi orang tau kami... Udah.." Jawab zidan dengan sedikit gugup berharap dokter itu tau yang sedang terjadi

"Yasudah, tidak apa-apa. Saya mengerti kok. Nanti kamu bisa datang ke ruangan saya, Ada di ujung lorong ini." Jelas dokter tersebut kepada zidan. Zidanpun hanya bisa mengangguki perkataannya.

"iya dok, makasih." Dokter itu lalu menjauh dari zidan yang masih berdiri disana.










"Kenapa perasaan gua mendadak ngga enak gini ya?"


























[TBC]

Semoga suka yaa sama ceritanya. Sorry kalo banyak typo hehehe😅
Makasih yang udah mampir, ngevote dan ngekomen💜💜

MAKASIH BANYAAAK😘💜💫

*kalau masih ada kesalahan setelah direvisi, tolong dikoreksi yaa😉

P L E A S E! [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang