Pagi ini Rose berangkat sekolah dengan helaan nafas lega. Pasalnya tadi Taehyung menelponnya dengan merengek—macam suara kambing yang akan disembelih—katanya ia tak berangkat sekolah hari ini karena sakit. Ada sedikit rasa khawatir, kemarin malam kan Taehyung main dirumahnya, lalu paginya lelaki miskin otak itu malah sakit.
Beruntung Taehyung adalah lelaki yang cerewet, tanpa ditanyapun ia sudah nyerocos mengatakan sebab mengapa ia sakit. Lelaki itu demam, entah karena apa, yang pasti karena virus kan? Tapi setidaknya nanti siang Rose akan menjenguknya bersama Mika dan Alin. Walau bagaimanapun lelaki itu jatuh sakit sesaat setelah main di rumah Rose.
Pim.
Suara klakson membuat Rose yang berjalan dipinggir jalanan komplek perumahan otomatis meminggirkan diri. Padahal ia sudah dipinggir, tapi masih diklakson? Jangan-jangan Rose hanya terlalu percaya diri? Klakson itu bukan untuknya?
Namun saat membalikkan badan, Rose mendapati mobil Jungkook melaju pelan mensejajarinya. Membicarakan tentang Jungkook, pagi tadi Rose dibuat tercengang begitu bangun tidur. Ada 29 panggilan tak terjawab dari daddy gadungannya itu. Satu kemajuan yang luar biasa, Jungkook menghubungi Rose terlebih dahulu adalah salah satu keajaiban dunia yang sangat mustahil, bahkan sampai 29 kali! Luar biasa.
Bahkan dulu saat lelaki itu kecelakaan—jatuh dari tangga—yang dihubungi adalah Ally. Padahal yang ada di rumah adalah Rose, tetangga terdekatnya. Bukankah ini kemajuan besar untuk hubungan 'gila' keduanya?
"Naik!"
Rose memutar bola matanya lalu kembali melangkah maju. Jujur ia masih kesal pada Jungkook, kemana saja lelaki itu selama 2 hari ini? Pesannya, telponnya, gedoran di gerbang dan pintu rumah lelaki itu bahkan diabaikan. Lalu dengan semena-mena ia datang dan memerintah seenaknya? Enak saja!
Jelas enak!
Karena di dalam hatinya kini Rose menjerit semringah, ia senang karena Jungkook kembali melangkah keluar dari zona nyamannya selama ini. Jungkook melakukan beberapa hal di luar nalar hanya kepada Rose, tentu saja itu kemajuan pesat.
"Rose! Ingat perjanjian kita!"
Sekuat tenaga Rose menyembunyikan senyumannya, ia bahkan menyempatkan diri untuk memunggungi mobil Jungkook yang mengiringinya, hanya untuk tersenyum. Kapan lagi ia dikejar Jungkook? Hanya di mimpi Rose saja! Tapi saat ini terkabul, tentu Rose akan menyorakinya dalam hati.
"Kita sedang diluar, perjanjian apa ya?" Judes Rose lalu kembali melangkahkan kakinya kian lebar.
Mata Rose membelalak saat mendengar suara pintu mobil yang tertutup, saat menoleh, sosok Jungkook mendekat dengan tatapan tajamnya. Reflek Rose berancang-ancang lari, namun belum sempat ia menjauh, sebuah lengan melingkari perutnya, dan dengan mudahnya ia diangkat macam karung beras.
"Kak Jungkook turunin! Rok aku!"
Bukannya menurunkan, Jungkook malah memukul pantat Rose, satu tangannya bertahan dipaha Rose untuk menutupi roknya yang tersingkap akibat gendongan.
Ini begitu mendebarkan untuk Rose, sangat liar dan panas, terlebih saat Jungkook mendudukkannya di kursi penumpang. Serta Jungkook yang membungkukkan badannya untuk memakaikan seatbelt, Rose hanya mampu menahan nafas kuat-kuat.
"Gadis nakal!" Ucap Jungkook dengan dingin, seraya mengusap pipi Rose.
Oksigen!
Rose akan pingsan saat ini juga!
Hembusan nafas Jungkook yang teramat dekat, tatapan tajam dan seringaian sexy itu, serta bagaimana lelaki itu menyentuh Rose dengan lembut! Rose seperti siap menjadi raper saat ini juga! Ia siap mendefinisikan betapa ingin rasanya berteriak dan mengoceh bahagia. Tapi! Lagi-lagi ia harus menahan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pentagon ✔
Fanfiction⚠️ Konten Dewasa "Aku cinta kak Jungkook!" "Tapi aku cinta Alice." Lagi-lagi di tolak, lagi-lagi disakiti, dan lagi-lagi Alice. Dua tahun mencintai Jungkook sepertinya bukan benteng yang kuat untuk meluluhkan hati sang tetangga. Ungkapan cinta yang...
