26. Penyesalan

2.6K 363 55
                                        




Hari ini adalah hari operasi Ally dilakukan, wanita itu terus saja mengumbar senyuman dengan wajah pucatnya. Rose tahu, dibalik senyuman itu Ally menahan rasa sakit, namun Rose jadi dibuat merenung karenanya. Jika sebelum ini Ally sudah sakit dan menyembunyikannya dari kelurga, maka selama ini Ally selalu menahannya? Lagi-lagi mata Rose dibuat berkaca-kaca karena memikirkan beban hidup Ally yang berat.

"Kata Papa kamu mau tetap kuliah di California?" Alliy mengenggam jemari Rose dengan lembut.

Mata Rose menatap jari keduanya, bahkan jemari Ally sudah terasa semakin kurus dari sebelumnya. Sepertinya selama ia dirawat di rumah sakit, berat badan Ally banyak berkurang. Dengan mengusap matanya yang sedikit berair, Rose menaikkan pandangannya menatap Ally. Ia mengangguk dengan senyuman, dengan tangan satunya menepuk punggung tangan Ally.

"Gue suka di sana, gue mau belajar bahasa Inggris dengan lebih baik."

Ally kembali tersenyum, namun ia melepas genggaman tangan keduanya, memasukkan satu tangannya kedalam selimut. Kening Rose mengernyit saat melihat Ally mengeluarkan sebuah cincin berlian, dan kini disodorkan kearahnya.

"Ambilah,"

Dengan ekspresi panuh tanya, Rose menggeleng menolak, apa maksud Ally, melihat kakaknya menyerahkan sebuah cincin, mengapa Rose jadi memikirkan yang tidak-tidak. Ia takut kalau,

"Lo minta gue ambil cincin ini? Ini cincin apa? Jangan bilang cincin tunangan lo sama Marco!"

Ally terkekeh, lalu memukul lengan Rose dengan pelan, namun Rose sedikit memekik dengan ringisan lebar.

"Ini cincin dari Jungkook!"

Jungkook? Mengapa bisa di Ally?

"Aku tahu Marco sudah menceritakannya, cincin ini harusnya milikmu, tapi Marco memaksa meminjamnya karena ingin melamarku. Aku tahu sekarang cincin ini sudah menjadi barang bekas, tapi aku ingin kau menyimpannya. Untuk bukti kalau Jungkook pernah akan menyatakan cintanya padamu, dulu." Ally berucap dengan senyuman geli, meraih tangan Rose dan memaksa Rose untuk mengenggam cincin itu.

Namun pikiran Rose masih berkelana kesana kemari untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya. Bagaimana mungkin Jungkook pernah akan menyatakan cinta padanya? Sedang sedari dulu Jungkook selalu menolaknya.

"Sebenarnya, dulu aku dan Jungkook pernah membuat janji. Eum.. kurasa saat kita duduk di bangku SMP, ah iya.. saat itu!" Seru Ally semangat.

"Janji apa?"

Ally tersenyum lebar, melirik kearah jam di dinding yang semakin mendekat ke waktu operasi Ally akan dilaksanakan. Wanita itu menepuk sisi lain dari ranjangnya, dan dengan binggung Rose mendekat untuk ikut duduk di sana.

"Kita membuat janji, jika kita akan terus bersahabat, dan tidak boleh saling jatuh cinta. Tidak hanya itu, kita berjanji untuk tidak berhubungan dengan saudara masing-masing. Bodohnya Jungkook menyukaimu saat kau duduk di bangku SD, hahaha." Ally tertawa dengan lepas, membuat Rose ikut tersenyum karenanya. Hal konyol yang membuat hati Rose merasa bahagia tanpa alasan yang kuat.

"Kurasa Jungkook masih menganggap jika perjanjian kita tidak boleh di langgar, dan dia mengaku menyukaimu. Kau ingat, saat di mana kita bertengkar karena kau tidak sengaja merusak prakarya yang harus ku kirim hari itu juga ke guruku?"

Rose mengangguk membenarkan, ia ingat saat itu, dimana ia dan Ally bertengkar hebat. Rose yang tidak mau disalahkan, dan Ally yany frustasi karena tugasnya hancur tersiram jus mangga. Mereka bertengkar hingga saling jambak, bahkan sampai sekarang masih ada bekas sayatan kecil di rahang Ally yang membekas akibat cakaran Rose. Sekedar infomasi, Rose memiliki tenaga yang kuat, ia bukanlah gadis muda yang mudah mengalah saat itu. Berkahirlah mereka bertengkar dan saling diam hingga satu minggu lamanya.

Pentagon ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang