27. Maaf

2.4K 354 80
                                        





"Nggak! Kak Jungkook, pegang tangan aku, jangan pergi, jangan!!" Rose berteriak histeris seraya menggapai Jungkook yang pasrah saja saat kedua lengannya di dibimbing masuk kedalam kantor polisi.

"Mami, Mami tolong jangan penjarakan Kak Jungkook, jangan." Rose terus menangis histeris, namun Mami terus saja menggeleng.

"Dia adalah seorang kriminal sayang, tempatnya memang di sana!" Mami terus menghempas lengan Rose yang memohon belas kasihan, namun mata wanita itu terus mengeluarkan tetesan air.

Ibu mana yang akan diam saja saat anaknya sendiri ia jebloskan kedalam dinginnya ruang tahanan?

Rose kembali menggeleng, setelah merasa sia-sia memohon pada Mami, ia memilih kembali mencoba menggapai Jungkook yang diam saja. Badannya terus ditahan oleh polisi wanita, mereka terus memintanya untuk tenang. Namun mana bisa Rose tenang? Saat ini kepalanya dipenuhi oleh ketakutan-ketakutan yang akan Jungkook alami jika lelaki itu benar-benar akan mendekam di penjara.

Makan seadanya, mandi bersama penghuni lapas lain, tidak akan merasakan kebebasan udara luar, bahkan kriminal akan terus melekat di nama belakang Jungkook. Saat menusia terjerumus kedalam dinginnya lapas, namanya tidak akan bisa harum lagi.

"Kak Jungkook! Aku memaafkan Kak Jungkook, ayo pulang sama aku. Mi.." Rose berucap lirih, lalu berbalik untuk menatap Mami. "Cabut laporan Mami dan Papi, Rose mohon.. Rose sudah memaafkan Kak Jungkook." Dengan menangkupkan kedua tangannya, Rose terus menangis dan memohon, membuat Mami terbelalak terkejut.

Satu jam sebelumnya....

Jungkook berdiri dengan wajah menunduk, dihadapannya kedua orang tuanya menunggu Rose dengan cemas. Wajahnya membekaskan memar keunguan di beberapa sisi, sudut bibirnya pun membekaskan luka sobek dan darah yang mengering. Jemarinya yang mengepal, terdapat beberapa luka baru yang masih basah akibat darah.

Ia baru saja dijadikan samsak oleh Papi yang dibuat kecewa atas perbuatannya. Kemarin Jungkook menelepon Mami, mengatakan dengan jujur bahawa ia sudah melecehkan Rose. Awalnya Mami tak percaya, Mami bahkan terbahak dan mengira jika Jungkook hanya melakukan prank belaka. Mami jelas paham betul, jika Jungkook selalu menolak Rose, bahkan tidak pernah menyangka jika lelaki itu akan mempunyai rasa pada Rose.

Kepercayaan itu di dapat bukan hanya karena dugaan semata. Bagaimana Jungkook terus menolak dengan keras, dan tidak pernah berbuat manis dihadapan Rose, membuat Mami pesimis jika Jungkook dan Rose akan berakhir bersama. Namun, Jungkook yang terus menggumamkan kata maaf saat Mami terbahak, membuat Mami segera memesan tiket penerbangan terdekat dan memilih pulang ke Jakarta.

Setibanya di rumah, Mami di buat hampir pingsan saat melihat langsung bagaimana ekspresi Jungkook saat mengakui kesalahannya. Berbeda dengan Mami, Papi langsung melayangkan bogeman bertubi ke wajah Jungkook. Jika biasanya Mami akan melerai dan tidak rela putra satu-satunya disakiti, kali ini Mami memilih diam dengan wajah syok. Pukulan itu tidak berhenti, bahkan Papi meraih tongkat golf dan memukuli badan Jungkook. Luka di lengan dan telapak tangannya adalah bentuk perlindungan diri yang ia lakukan, untuk menjaga titik sensitif di tubuhnya agar tidak cidera akibat kemarahan Papi.

Saat ini, keluarga itu sedang menunggu kehadiran Rose, yang sudah 15 menit lamamya tidak kunjung pulang, padahal Mami sudah menghubunginya dan meminta Rose untuk pulang.

Pandangan Jungkook dan Papi saling bertemu, sorot mata pria berkepala 5 itu begitu tajam, dan Jungkook yakin, jika sampai sekarang pun amarah Papi belum juga reda. Rose memang putri kesayangan mereka, walau bukan anak kandung, namun Papi dan Mami sangat menyayangi Rose layaknya putri mereka sendiri. Kerap kali bahkan Jungkook merasa iri, itulah mengapa kekesalan keduanya terasa amat menyeramkan.

Pentagon ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang