Bab 11

2.6K 120 0
                                        


A

ku berjalan menyusuri jalan saat matahari sedang panas-panasnya, sedari tadi aku tidak tahu harus pergi kemana. Apakah harus kembali ke rumah keluargaku.

"Hmm, sekarang aku harus kemana," aku menghapus pelan air mataku yang terus mengalir sedari tadi.

Sudah beberapa kali aku mencoba menyetop kendaraan meminta tolong untuk diberikan tumpangan, sampai sekarang pun tidak ada yang bisa menolongku.

Sebenarnya aku berharap ini hanya mimpi buruk yang akan hilang setelah aku mencoba bangun kembali, tapi realitanya ini tidak seperti yang diharapkan.

Entah takdir apa yang sedang aku jalani, tapi ini terasa sakit. Abi mengusirku dari rumahnya dengan kasar, dan sekarang aku berjalan tanpa tentu arah seperti sekarang. Ayah tidak akan mau menerima diriku lagi.

"Zia, ia dia mungkin bisa membantuku," ucapku, aku harap dia bisa membantuku.

Zia adalah taman sekolahku dulu kami satu SMA, pertama kali bertemu dengannya saat kami dihukum bersama karna terlambat, sejak saat itu kami berteman baik. Dia tinggal sendiri sejak Ayah dan Ibunya meninggal tertembak akibat perampokan di sebuah pertokoan, saat itu terjadi kami baru saja naik ke kelas 2 SMA.

"Aku harus bertemu dengannya,"lirihku.

Saat kakiku mulai melangkah tiba-tiba kepalaku terasa berat dan sangat pusing, tetap aku paksakan untuk berjalan. 

Rasa sakit di kepalaku sangat mengganggu, disaat aku mencoba melangkah kembali dunia seakan berputar. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, disaat itu juga aku terjatuh dan pandanganku seakan buram dan semuanya menghilang.
-----
Saat pertama kali membuka mataku semua yang terlihat terasa asing, setelah beberapa saat baru aku tersadar kalau sekarang sedang berada di rumah sakit.

"Kamu sudah sadar?"

Aku merasa kenal dengan suara itu.

"Dokter Karel?" ternyata yang bertanya padaku adalah Karel. Pantas saja aku merasa familiar dengan suaranya.

"Iya ini aku, keadaan kamu sekarang gimana?"

"Udah mendingan, Dok," jawabku diiringi senyum terbaikku.

Ia tersenyum simpul menatapku kemudian mengacak rambutku pelan.

"Udah dibilangin, panggil nama aja, Za," aku terkekeh sebentar, rasanya memanggil dengan panggilan seperti itu terdengar sedikit tidak sopan, apa lagi Karel adalah Dokter yang menanganiku selama ini.

Dia memang baik aku juga senang bisa berteman denganya, beruntung sekali wanita yang akan menjadi pendamping Karel,  dia pasti sangat bahagia pikirku.

"Iya," jawabku terkekeh canggung.

"Zahra, kok kamu bisa pingsan di pinggir jalan?"

Jadi aku tadi pingsan, lalu apakah Karel yang sudah membawaku ke rumah sakit.

"Kamu yang bawa aku kesini?" aku bertanya balik kepada Karel.

Karel menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaanku, kami bercerita banyak hal. Dia juga tidak mempertanyakan lagi kenapa aku bisa pingsan di tepih jalan,  entahla mungkin ia merasa tidak enak denganku,  aku juga tidak tahu.

Permasalahan yang sedang aku hadapi sekarang, kurasa ini bukanlah cerita yang baik untuk di umbar ke semua orang.

Aku meminta bantuan padanya untuk di antar ke rumahnya Zia, sudah aku bilang Karel memang sangat baik, buktinya ia mau membantuku tanpa banyak bertanya.

ABIZHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang