"Keadaan pasien sudah stabil, hanya saja ia belum sadarkan diri. Saya harap anda segera memberitahukan kabar ini kepada keluar pasien."
Abi mengangguk menanggapi perkataan Dokter tersebut, "baiklah nanti saya akan mengabari mereka, Dok," balas Abi dengan santai.
Setelah memberi tahu keadaan Zahra setelah operasi pengangkatan janin, Dokter tersebut berlalu pergi meninggalkan Zia yang masih terisak sembari memandangi Zahra yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri.
Sementara Abi, ia hanya menundukkan kepalannya. Tidak pernah ada dalam bayangannya semua ini akan terjadi, sugguh Abi sebenarnya merasa takut dengan keadaan Zahra. Entah apa yang akan terjadi dengan wanita itu setelah ia mengetahui semuannya.
Zia terduduk di lantai, sungguh kakinya sangat lemas. Zia menangis terseduh-seduh, ia membekap mulutnya agar suarannya tidak kedengaran oleh orang lain. Masih jelas dalam ingatan Zia saat Zahra dengan begitu semangatnya bercerita tentang masa depan yang manis kepada bayinya yang sekarang sudah pergi ke surga untuk selamanya.
'Bukh Bukh Bukh'
Mendengar suara pukulan itu Zia menghentikan tangisnya dan mendongakkan kepalanya kedepan. Betapa terkejutnya Zia saat melihat Zuan memukuli Abi dengan brutal. Zia segera berlari mendekati mereka berdua.
"Stop!" pekik Zia, tapi Zuan tak kunjung melepaskan Abi.
"Bajingan," teriak Zuan kemudian ia kembali memukuli wajah Abi dengan brutal.
Sampai Fatah datang dan menarik Zuan menjauh dari Abi, Zuan tidak berhenti mengumpat dan mengucapkan kata-kata kasar untuk Abi.
Fatah dan Zuan memang datang karena Zia yang memberitahu mereka berdua tentang kondisi Zahra saat ini, tapi Zia sama sekali tidak tahu akan jadi seperti ini. Ia menghampiri Abi yang terjatuh di lantai dengan beberapa memar di wajahnya dan sedikit luka di bagian pelipisnya, Zia membantu Abi bangun dan mendudukannya di kursi yang tersedia di sana.
"Lo, apa-apaan sih!" bentak Zia kepada Zuan yang masih marah-marah.
"Dia, yang apa-apaan kenapa dia buat Zahra sampai kayak gini!"tegas Zuan.
Akhir-akhir ini Zuan memang sibuk dengan perkerjaan di kantornya karena ada proyek baru yang mengharuskan dirinya pergi ke luar kota untuk bertemu klien. Dan saat ia sedang miting tiba-tiba orang suruhannya datang dan memberikan kabar bahwa Zia menghubungi dan memberitahukan tentang keadaan Zahra.
Zuan sangat terkejut, bahkan ia sempat diam membeku seperkian detik kemudian berlari dengan terburu-buru keluar dari kantor meninggalkan tanda tanya untuk para karyawan yang melihat ia berlarih seperti itu.
"Kenapa mukulin, Abi?"tanya Zia.
Zuan diam mendengar perkataan Zia barusan, kemudian ia melihat Zia dengan tatapan devilnya lalu tersenyum singkat.
"Lo, mau tahu kenapa?" lirih Zuan.
Melihat tatapan menusuk Zuan tiba-tiba nyali Zia menciut 'dia bisa seseram ini, ampun gue takut' batin Zia.
"Karena dia udah bunuh anak gue!" tegas Zuan.
Perkataan ah ralat bukan perkataan tapi pernyataan Zuan barusan sudah cukup membuat semua yang berada di sana terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Di tempatnya duduk Abi hanya mampu terdiam, otaknya sungguh menolak untuk mengerti perkataan Zuan barusan. Hanya satu yang menjadi pokusnya saat ini yaitu 'Zuan'.
Tiba-tiba Abi bangkit dari duduknya dan mendekati Zuan lalu mencengkeram kerah baju Zuan sembari menatapnya dalam.
"Apa maksudnya?" Lirih Abi.
Zia hanya mampu menatap kosong ke depan, sama seperti Zia Fatah juga tidak berniat untuk memisahkan mereka berdua. Bahkan Fatah menggenggam tangannya erat berusaha menahan emosi yang di akibatkan dari perkataan Zuan barusan.
"Maksudnya, Lo itu seorang pembunuh!" jelas Zuan.
"Dan yang harus kalian semua tahu anak yang ada di kandungan Zahra itu anak gue, dan Lo yang udah MEMBUNUH anak gue!" sambung Zuan yang semakin membuat suasana semakin tegang.
'Bukh'
Satu pukulan berhasil mendarat di pipi Zuan dan Abi yang melakukannya. mendapat respon seperti itu dari Abi Zuan bangun kemudian tersenyum tipis. Tanpa ba bi bu ia melayangkan satu pukulan ke perut Abi.
Keadaan semakin kacau, beberapa petugas keamanan datang dan memisahkan mereka. Keadaan mereka berdua sama-sama kacau, Bahkan wajah tampan Abi banyak luka-luka kecil bahkan sudut bibirnya sobek akibat dari pukulan keras yang diberikan Zuan. Zuan sendiri keadaanya tidak bedah jauh dari keadaan Abi. Zia meminta bantuan kepada para perawat untuk mengobati mereka berdua.
"Zi, Zahra sudah sadar," tutur Fatah sedikit tersenyum karena merasa legah setelah Zahra sadar.
"Syukurlah," ucap Zia kemudia tersenyum manis, bahagia karena sahabatnya sudah sadar.
Mendengar perkataan Fatah Zuan dan Abi kompak berjalan mendekati ruangan rawat Zahra, tapi segerah di halangi oleh Zia. Ia menatap kedua laki-laki itu secara bergantian.
"Jangan coba-coba buat nemuin Zahra di saat kondisi kalian seperti ini," peringat Zia, Abi dan Zuan kompak memperhatikan penampilan mereka masing-masing yang terlihat sangat kacau.
"Ayo Zi, kita lihat Zahra dulu," ucap Fatah.
Zia mengangguk kemudian berjalan menghampiri Fatah dan masuk meninggalkan Zuan dan Fatah yang saling menatap penuh kebencian.
Kemudia Abi bergerak sedikit menjauh untuk menelpon orang tua Zahra, setelah selesai ia memilih untuk mengobati lukanya.
.......
KAMU SEDANG MEMBACA
ABIZHA [END]
Literatura FemininaBuruan baca part nya udah lengkap!!!!! 😀 #Dilarang plagiat #Tinggalkan jejak Ini kisah hidup dimana seorang gadis harus hidup menderita dan terbebani, semua orang membencinya bahkan jijik kepada dirinya termasuk keluarganya karna dia hamil diluar...
![ABIZHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/237915476-64-k79843.jpg)