Bab 28

2.1K 73 0
                                        


Happy Reading👑

"Zahra, ayo cepat katanya kamu mau belanja," ucap Zia.

Sudah dari satu jam yang lalu ia menunggu Zahra bersiap-siap untuk pergi ke pasar tetapi sampai sekarang Zahra belum kunjung keluar, Zia tahu apa yang sedang Zahra lakukan pasti dia sedang memilih pakaian soalnya emang seperti ini kalau akan pergi ke mana-mana. Zahra sangat risi dengan penampilannya dan soal baju pasti akan ia pertimbangkan dulu sebelum memakainya.

"Iya iya, sabar napa," balas Zahra ia mengunci pintu rumahnya itu kemudian berjalan bersama Zia menuju terminal Bus terdekat.

Oh iya, Zahra sudah pinda dari rumah Zia ke satu kosan yang lumayan utuk di tempati, memang tidak sebegus rumah Zia tapi Zahra masi bersyukur masih ada tempat tinggal. Tiga bulan yang lalu Zahra memutuskan untuk pindah dari rumah Zia.

Saat di rumah sakit Zahra tidak kembali untuk menemui Abi, ia memilih pulang ke rumah Zia. Malamnya Zahra memberitahu kepada Zia bahwa dia ingin pindah saja, Zia memang sempat menolak tetapi Zahra berusaha keras meyakinkan Zia agar mau mengizinkannya pindah. Bukan apa-apa, Zahra hanya ingin melupakan semua rasa sakitnya kala bersama dengan Abi.

Biarkan saja itu menjadi masa lalu
hangus terbakar menjadi abu
menuntunmu menuju masa depan yang baru

Zahra mencoba ikhlas dengan kenyataan yang ia terima, dengan susah paya ia menutupi segala dukanya dan sekarang waktunya untuk maju. Kehilangan, ah ralat dia bukan kehilangn tapi memang tak pernah mendapatkan cinta itu.

"Zahra, kok ngelamu?" tutur Zia, ia mengelus pelan pundak sahabatnya itu, tanpa Zahra sadari Zia juga merasa bersedih melihat Zahra yang tidak bersemangat tiga bulan terakhir ini.

"Gak pa-pa, Zi,"

Zia sudah berusaha bertanya ratusan kali dan jawaban Zahra sama, padahal banyak sekali yang ingin ia tanyakan kepada Zahra apa lagi perihal Abi, aneh bahkan sangat aneh menurut Zia saat Zia mengajak Zahra untuk menjenguk Abi ke rumah sakit tiga bulan yang lalu Zahra menolaknya mentah-mentah tanpa ada kejelasan sedikitpun. Bahkan Zahra menyuruh Zia merahasiakan tempat barunya kepada siapa pun.

Dan sejak tiga bulan yang lalu Abi juga sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya berkunjung ke rumah Zia untuk mencari atau menemui Zahra. Entahlah apa yang sudah terjadi hari itu Zia sama sekali tidak mengerti.

"Zahra, kamu mau enggak makan dulu?" tutur Zia.

Zahra nampak berpikir sebentar kemudian melihat ke arah Zia.

"Makan di mana, Zi?" tanya Zahra kepada Zia.

"Ke tempat biasa gimana,"

"Hmmmm, yaudah di situ aja," putus Zahra menyetujui usul dari Zia.

Setelah selesai berbelanja Zahra dan Zia bergegas pergi untuk ke tempat makan yang biasa mereka kunjungi. Setelah sampai mereka langsung memesan makanan, hanya ada suara beberapa motor dan mobil yang lewat serta beberapa orang yang sedang memesan makanan dan bercanda gurau dengan keluarga mereka sedangkan Zahra dan Zia hanya diam menikmati makan siang mereka.

Setelah selesai membayar Zahra dan Zia berjalan berdampingan menyusuri jalan yang terlihat sepi, mungkin karena ini bukanlah jalan yang sering di gunakan oleh orang-orang karena terletak sedikit sudut.  Pohon-pohon di sini jug terlihat rimbun menyejukkan.

"Za, kamu sebenarnya kenapa? aku lihat kamu suka ngelamun," tanya Zia pelan.

Zahra mengembuskan nafas pelan, jujur ia belum siapa jika harus bercerita kepada Zia sekarang. Pernyataan Abi waktu di rumah sakit sangat melukai perasaannya.

"Gak pa-pa, aku nggak lagi mikirin apa-apa kok," ucap Zahra dengan tersenyum manis kepada Zia.

Tidak dapat Zia pungkiri bahwa sahabatnya ini memang sangatlah cantik dan manis, tapi sayang cobaan hidup Zahra lebih sulit. Zahra tidak hanya kehilangan kehormatannya tapi juga keluarga dan kehidupannya. Bahkan Zia tidak yakin kalau dia sanggup berada di posisi Zahra saat ini.

"Kalau kamu belum siap cerita gak pa-pa, Zahra," Zia membalas senyum Zia dengan tersenyum manis kepada Zahra.

Zahra tersenyum senang, bagaimana mungkin dia membuat Zia kepikiran dengan masalahnya ini, dan seharusnya Zahra tidak usah merepotkan Zia seperti saat ini.

"Gimana kerjaan," tanya Zia.

"Lancar," balas Zahra bersemangat, memang sejak pindah Zahra sudah mulai berkerja lagi di tempatnya yang lama, sebenarnya ia khawatir dengan perkerjaannya bagaimana kalau mereka sudah tidak mau menerimanya kembali berkerja. Tetapi takdir berkata lain Zahra sangat bersyukur karena diterima kembali.

"Kamu, sama Fatah gimana?" Zahra bertanya balik kepada Zia.

"Lancar, kamu jangan lupa datang ke acara pernikahan kami, Za. Atau kamu nginap aja gimana," ucap Zia bersemangat.

Zahra hanya terkekeh," lihat nanti saja," balas Zahra.

Zahra dan Zia sibuk bercanda sesekali Zahra tertawa menanggapi lelucon dari Zia. Sampai tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju sedikit kencang dan melewati air bekas hujan yang berada tepat di samping Zahra.

"Aaaaaa!" teriak Zahra.

Pakaian yang Zahra gunakan seketika basah dan kotor ketika air kubangan itu mengenai pakaiannya bahkan wajah Zahra. Zia menatap Zahra terkejut.

"Yampun, Zahra," Zia membantu Zahra membersihkan pakaiannya.

Mobil yang mencipratkan air kubangan ke tubuh Zahra berhenti tidak jauh dari posisi Zahra dan Zia berhenti. Seseorang memakai pakaian pormalnya dengan kaca mata hitam yang setia bertengger di hidung mancungnya keluar dari mobil itu dan menatap ke arah Zahra.

Saat Zahra mengalihkan pandanganya ke depan tiba-tiba mulutnya terasa keluh saat melihat orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Pria itu berjalan mendekati Zahra dan Zia.

Deg

Jantung Zahra seakan berdetak dengan kencang, kenapa harus sekarang, 'aku belum siap untuk bicara' pikir Zahra.

"Loh, Abi," bukan Zahra yang berucap melainkan Zia.

......

ABIZHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang