Bab 19

2.5K 98 1
                                        

"Bagaimana bisa, Zahra, sudah pulang dari rumah sakit!" bentak Zuan pada Sem.

Sem yang melihat sang Tuan marah besar merasa takut melihatnya, ia berpikir sekarang harus apa.

"Nona Zahra, memaksa untuk pulang, Tuan," jawab Sem takut-takut. Ia sudah mengenal Tuannya ini dari lama jika ada yang mengganggu pikirannya maka ia akan menghancurkan sesuatu.

Dan dalam beberapa bulan terakhir ini Zuan sangat sering bahkan terlampau sering marah-marah. Anehnya Zuan selalu menyuruh Sem mencari seseorang sampai mereka menemukannya dan harus selalu mengawasi serta menjaganya.

"Prank."

Zuan melempar barang-barang yang berada di dekannya, Zahra sangat ceroboh, pikirnya.

"Buat rencana agar aku bisa bertemu dengan, Zahra," printah Zuan kepada Sem, ia tidak akan bersembunyi lagi. Lihat saja apa yang aku lakukan, ucap Zuan dalam hati.

Ruangan yang sunyi ini sekali lagi menjadi saksi di mana Zuan selalu mengingat sang pujaan hatinya itu.

Sem pergi ke luar dari ruangan itu, sementara Zuan masih setia berada di sana memandangi poto Zahra yang terpampang rapi di dekat jendela.

Matannya berembun, Zuan tidak pernah menangis untuk orang lain tapi mengingat Zahra semua pertahanannya runtuh dengan sekejap.  Ia tidak menyangka ini akan terjadi.

"Ini semua terjadi karena, Ayah," ucap Zuan sembari menatap satu poto yang memperlihatkan pria paruh baya di sana.

Ia mengambilnya kemudian menghancurkan poto itu.
--------
•Zahra POV

Aku sangat bahagia Abi perlakukan seperti ini, rasannya semua rindu yang selama ini ku pendam terpenuhi sudah.

"Ini calon tunanganku, Zahra," tutur Fatah yang masih setia merangkul mesra Zia di hadapan kami bertiga.

Aku seketika terkejut tidak menyangka, bagaimam ceritanya hingga Fatah dan Zia bisa dekat.

Selama tinggal bersama Zia tidak sekalipun ia menceritakan tentang Fatah kepadaku. Apa jangan-jangan Zia selalu pulang terlambat karena bertemu Fatah, pikirku dalam hati.

Aku menatap Zia meminta penjelasan, saat ingin menghampirinya perutku kembali terasa sakit akibat kelalaianku sendiri.

"Awssss," rintihku menahan sakit.

"Kenapa, Zahra?" tanya Karel yang sudah berada di depanku.

"Sakit," balasku kepada Karel.

Abi menggendongku dan menyuruh Zia untuk membuka pintu rumahnya, pandangku tidak pernah lepas dari wajah Abi. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk memeluknya erat.

Zia membuka pintu kamar yang aku gunakan sehari-hari. Sedangkan Fatah dan Karel menunggu di ruang tamu. Setelah selesai membantu Abi membaringkanku Zia keluar dari kamar itu.

"Ceroboh."

Abi duduk di sampingku sembari mengatai bahwa aku ceroboh, ah rasanya sudah lama Abi tidak berbicara seperti ini denganku. Aku tersenyum ke arahnya.

ABIZHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang