Semua murid tertawa mendengar suara sang guru piket bucin itu. guru piket yang membangkitkan mood mereka.
Sekolah ini ternyata Keren juga.
Revin mengambil buku diary nya, matanya berbinar menatap buku diary itu, sudah lama dirinya tidak menulis di atas kertas buku cantik itu.
"Kantin yu!" ajak Zila, dia bangkit dari posisi duduknya menatap wajah Revin dan juga Icha bergantian.
Revin menoleh,"Aku ke taman ya." ucapnya lalu pergih begitu saja, tanpa menghiraukan wajah Zila yang sedikit cengo mendengar jawaban gadis itu.
Langkah gadis itu menelusuri koridor sekolah yang tampak ramai, banyak pasang mata yang memperhatikannya, namun Revin hanya acuh gadis itu sedang sedang belajar menjadi manusia bodo amat.
Benar kata Rajen 'mereka hanya menghujat tanpa berkaca.'
Revin sampai di taman belakang sekolah, gadis itu duduk di rurumputan hijau dengan pohon rindang di samping nya, tempat yang lumayan sepi, bahkan hanya ada dirinya disini.
Angin sepoy sepoy menabrak wajahnya, banyak popohonan di taman ini, harusnya tempat ini di jadikan tempat favorit di sekolah, namun kebanyakan siswa akan ke kantin untuk menghabiskan waktu istirahat nya.
Tangannya membuka buku diary miliknya, mulai mencoret sesuatu di atas Kertas itu dengan perlahan, jari jemari nya asik mencatat sesuatu tidak lupa dengan senyum kecil di bibirnya.
Dear diary...
Aku bersyukur bisa mengenal laki laki seperti mu, berawal dari ketidak sengajaan, Dan ketidaksengajaan ku mencintai mu.
Aku beruntung bisa jadi seseorang yang kau sayangi.
Padahal ada banyak orang yang ingin di posisi itu, namun kau memilih ku