Setelah Sarada berbincang dengan Hinata, dirinya meminta ijin pada Naruto untuk menjenguk Boruto.
"Om, boleh Sarada jenguk Boruto?"
"Boleh, masuklah!" ucap Naruto mengangguk.
Sarada berjalan perlahan-lahan memasuki ruang ICU. Di ranjang yang diletakkan di tepi dinding kaca, dia melihat Boruto sedang tertidur. Disentuhnya kaca di depannya dengan satu tangan seakan ingin menyentuh Boruto.
"Cepat sembuh Boruto!"
Sarada mengucapkannya sambil menahan isak tangisnya. Namun sebuah pikiran terlintas di benaknya.
Bagaimana jika kehidupan selanjutnya nanti Boruto tidak ada lagi di sampingnya selamanya? Membayangkannya saja membuat Sarada merasa sesak & takut akan menjadi kenyataan!
"Kalau kamu sudah sembuh, kamu boleh mengejek aku semau kamu. Aku gak akan keberatan!" lanjutnya.
Seakan mendengar suara Sarada, Boruto perlahan membuka matanya. Boruto memandang sekelilingnya dengan bingung. Hal terakhir yang ia ingat adalah...
Flashback On
Boruto bersiap berangkat sekolah seperti biasanya. Namun entah mengapa dia merasakan nyeri di bagian dadanya. Tapi hilang seketika nyeri itu hanya dirasakan selama 3 menit.
Kemudian, ia menuju meja makan untuk sarapan. Naruto & Hinata melihat putranya agak sedikit heran dan khawatir. Pagi ini wajah Boruto terlihat pucat menurut mereka.
"Boruto, wajah kamu kok pucat sih? Dada kamu sakit lagi ya?" tanya Hinata.
"Emm...enggak Ma. Cuman nyeri dikit aja tadi. Tapi sekarang udah gakpapa kok." ucapnya sambil tersenyum.
"Sayang, hari ini kamu gak usah masuk dulu ya. Istirahat dulu, Papa takut kamu kenapa-napa di sekolah." usul Naruto.
"Jangan Pa. Hari ini Boruto ada ujian dan Boruto gak mau ikut susulan." tolak Boruto.
Naruto menggelengkan kepalanya, heran dengan keras kepalanya Boruto.
"Yaudah gini aja, you're going to school but Pak Sai nemenin kamu sampai ke kelas ya? Kalau kamu tolak, Papa larang kamu ke sekolah! Oke?"
Boruto hanya mengangguk pasrah daripada dia dilarang masuk.
Tiba-tiba di tengah sarapan, Boruto kembali memegang Dadanya dan merasakan sakit yang luar biasa. Nafasnya mulai sesak dan ritme nafasnya terdengar pendek. Matanya mulai berkunang-kunang dan akhirnya Boruto pingsan seketika.
Naruto & Hinata berteriak histeris. Naruto langsung memeriksa denyut nadi dan jantung Boruto. Mereka panik karena tidak menemukan denyut sama sekali!
Flashback Off
Di Ruang ICU
Boruto ingat kejadian tadi pagi.
'Sudah berapa lama aku disini?' tanyanya dalam hati.
Kemudian, pandangan Boruto beradu dengan mata Sarada yang menatapnya dengan sedih. Boruto tertawa lemah.
"Hai!" ucap Boruto lemah sambil melambaikan tangannya.
Walaupun Sarada tak bisa mendengarnya, namun dia bisa membaca gerakan mulut Boruto disana.
"Hai!" balas senyum Sarada.
Senyum Sarada menghangatkan hati Boruto. Karena Boruto tak bisa mendengar suaranya, Sarada menggerakan tangannya di kaca dan menulis dengan jarinya.
"SAKIT?"
"TIDAK LAGI!" balasnya dengan cara yang sama.
Keduanya tersenyum. Tapi, Boruto baru ingat kalau hari ini ada ujian! Lalu dia mengerakkan tangannya lagi ke Sarada.
"UJIAN?"
Sarada mulai terdiam. Dia kan tadi tidak ikut ujian dan membolos karena dia ingin segera tau keadaan Boruto. Tapi dia tak ingin membuat Boruto kepikiran dan akhirnya dia berbohong dengan mengangkat jempolnya ke atas.
"BOHONG!"
Saat itu Sarada tertawa, rupanya dia tak bisa membohongi Boruto.
Boruto meletakkan tangan kanannya di kaca. Perlahan Sarada meletakkan tangan kirinya di kaca. Seakan kedua telapak tangan mereka bertemu secara langsung. Mereka bertatapan tanpa mengatakan apapun.
Keesokan Paginya
Sarada masih tertidur pulas dengan mata yang masih sembab. Iya, semalaman dia menangis kepikiran Boruto setelah pulang dari Rumah Sakit!
Tak lama, dering telepon HPnya berbunyi dan dia mencoba menggapai HPnya dengan mata yang masih tertutup.
"Halo?" jawabnya dengan suara serak.
"Sarada? Selamat pagi!"
Sarada langsung terbangun dan duduk seketika. Kaget mendengar suara Boruto yang kembali menghubunginya. Artinya Boruto sudah sehat kan?
"Boruto?" panggilnya senang.
"Iya ini Boruto. Kamu udah siap-siap belum ke sekolah? Ntar kamu telat lagi!"
"Lu udah, lu udah nyampe sekolah?"
"Aku masih di Rumah Sakit!"
Sarada langsung terdiam seketika.
"Hmm...kok diem? Sarada, kamu tenang aja Sarada! Aku akan baik-baik aja dan aku akan secepatnya bakal keluar dari Rumah Sakit ini! Tapi kamu harus janji, kamu tuh gak boleh sedih."
Sarada tak tau apa yang harus ia jawab ke Boruto. Jujur saja, ia tak mungkin tak sedih sekarang Boruto tak ada duduk di sampingnya. Dia sadar, air mata perlahan menetes dari matanya mendengar suara lemah Boruto saat ini.
"Kalau kamu sedih melulu, ya aku bakal lama ntar sembuhnya! Kamu dengar kan yang aku omongin tadi?"
Sarada langsung mengusap hidung dan pipinya yang habis menangis. Dan menjawab yang Boruto katakan.
"Iya, iya denger."
"Yaudah kamu harus terus semangat ya! Karena setiap-"
"Karena setiap kali lu tersenyum, satu masalah hilang." jawab Sarada mengulangi nasihat Boruto.
Boruto tersenyum mendengar Sarada mengikuti dan mendengar nasihatnya dengan baik.
"Bye!" tutup Boruto.
'Mungkin setelah ini aku akan beritahu Sarada kalau ia datang. Tapi pasti dia gak akan suka dengan keputusanku ini.' batin Boruto.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
762 words ❣
KAMU SEDANG MEMBACA
3600 DETIK [DISCONTINUED]
RomanceHighest Rank : [#5] Boruto (20.10.2020) . . . Hidup Sarada mendadak berubah ketika Papa dan Mamanya bercerai. Untuk menunjukkan kemarahannya, Sarada mengecat rambutnya menjadi merah. Kini tidak ada lagi yang mau berteman dengan Sarada. Mama mencoba...
![3600 DETIK [DISCONTINUED]](https://img.wattpad.com/cover/232718469-64-k529559.jpg)