Chapter 25

522 63 13
                                        

Sarada saat ini duduk di taman yang pernah ia duduki bersama Boruto. Namun, saat ini wajahnya hanya penuh kesedihan mengingat memorinya bersama Boruto saat itu.

"Ini salah lu!"

"Ya bukan salah gua lah!"

"Salah lu!"

"Heh heh heh...dengerin gua baik-baik ya! Kalau lu belajar lu gak bakal dapet nilai 4!"

Salah satu momen yang dia ingat, karena Boruto mengomelinya dapat ulangan nilai 4. Sungguh, dia rela Boruto memarahinya atau mengajak dia belajar kembali. Asalkan Boruto terus ada di sisinya selamanya!

Lalu Sarada berjalan menuju wastafel toilet. Dia melihat dirinya di cermin dan mengingat lagi ucapan Boruto tentang penampilannya.

"Emm Sar, gua rasa lu lebih cantik tanpa gunain anting-anting di hidung lu itu!"

Dia pelan-pelan melepas tindikan-tindikan yang ada di kedua telinganya, anting yang di hidungnya, lalu merapikan seragam yang lengannya ia lipat sekarang diturunkan. Tak lupa, ia menguncir rambutnya agar tak terlihat berantakan lagi. Terakhir, ia memasukkan bajunya ke dalam roknya. Persis seperti siswi sekolah normal.

Sebelum ke Rumah Sakit, ia pergi ke salon sebentar untuk mengecat rambutnya menjadi hitam lagi. Semua perubahan itu ia lakukan karena Boruto yang mengubahnya. Ia rasa mungkin pemuda itu akan terkejut dengan perubahannya!














RS. Harapan Kasih

Sementara Boruto, saat ini dia sudah dipindahkan ke Ruang Rawat. Karena keadaannya yang makin membaik, dia tidak dirawat di ICU lagi.

Tak lama, Sarada datang & perlahan membuka pintunya dan melihat Boruto sedang membaca buku pelajaran.

Pemuda itu mendengar suara decitan pintu terbuka, wajahnya langsung terpancar senang karena Sarada sekarang bisa menjenguknya secara langsung.

"Hai!" sapanya Sarada.

Remaja perempuan itu masuk dan menuju kursi jenguk di samping ranjang Boruto.

"Hai!"

"Hai! Ya ampun, penampilan kamu sekarang udah gak aneh ya! Apa karena aku masuk Rumah Sakit kali ya jadi penampilannya kayak gini?"

"Enggak! Enggak enggak!" jawab Sarada malu mengakuinya.

"Yaudah deh, udah siap belum?"

"Siap? Siap apaan?"

"Hah, masih aja lemot ya! Belajar lah ini, kamu udah bawa buku loh masa lupa!"

Boruto mengambil buku yang dibawa Sarada tadi sambil menjelaskan materinya pada Sarada.

Sedangkan orang yang tengah diajari, sedang mengamati wajah Boruto. Sempat-sempatnya, Boruto mengejek dia 'lemot' walaupun wajahnya masih pucat.

Lalu, dia memainkan rambut Boruto dan mengelusnya. Sarada tak ingin kehilangan momen dengan pemuda yang mulai ia sayangi ini. Boruto yang sadar Sarada tidak fokus pada pelajaran, langsung ditegur.

"Kamu masih inget kan misi rahasia kita?"

"Inget dong."

"Yaudah, kamu harus jalanin itu sampai selesai."

"Bukan aku. KITA, ya! Bareng-bareng." kata Sarada dengan lembut.

Sarada terus datang ke Rumah Sakit sambil membawa buku. Ujian akhir sebentar lagi tiba, dia ingin sekalian menghabiskan waktu bersama Boruto.

Hari kedua, ketiga, dan seterusnya remaja itu datang. Sampai terkadang Sarada belum pulang pada malam hari. Untungnya, Sakura tak melarang dirinya menjenguk Boruto.

Kadang, sampai Boruto ketiduran dan Sarada melihat pemuda itu tertidur karena mengajarinya. Dia menaikkan selimut Boruto, ada rasa kagum Sarada pada Boruto. Karena pemuda itu walaupun masih sakit, rela mengajarinya sampai kelelahan seperti ini.











Hari ke-6, RS Harapan Kasih

Boruto sudah diizinkan pulang ke rumah karena keadaannya yang semakin membaik. Dokter Lee menyarankan agar Boruto istirahat di rumah selama beberapa hari.

Sarada yang datang ke Rumah Sakit sangat senang mendengar Boruto sudah diizinkan pulang.

"Ini suatu keajaiban, Boruto cepat pulih bahkan tidak sampai seminggu dirawat disini!" ucap Dokter Lee tersenyum bahagia.

"Mungkin belum waktunya!" ucap Boruto tersenyum tenang.

Sarada melihat Boruto sedang merapikan pakaian dan tasnya. Dia bergegas menuju Boruto membantunya.

"Sini, biar aku rapikan!"

"Makasih Sar, mungkin sebentar lagi Pak Sai ngejemput! Aku mau nungguin dia di depan pintu Rumah Sakit biar Pak Sai gak usah parkir lagi! Aku gak sabar pengen keluar dari sini!"

"Kalau gitu ayo pergi!" ucap Sarada sambil membawa tas Boruto.

"Biar aku yang bawa tasnya, Sar!"

"Kamu baru sembuh! Biar aku yang bawa!" ucap Sarada menepis tangan Boruto.

Boruto & Sarada langsung menuju pintu Rumah Sakit dan duduk disana. 5 menit sudah berlalu namun mobil Boruto belum ada tanda-tanda datang. Di luar pun juga cuaca mulai mendung dan angin mulai bertiup. Pertanda hujan akan turun sebentar lagi.

Cuaca yang dingin itu membuat Sarada melihat Boruto. Pemuda itu baru saja sembuh, dengan cuaca dingin seperti ini pasti akan membuat pemuda itu sakit atau takut-takut penyakitnya kambuh lagi.

"Boruto, sebaiknya kita masuk dulu yuk ke dalam!"

"Aku gak mau masuk lagi kesana setelah aku bisa keluar sekarang!" ucap Boruto menggeleng.

"Tapi di luar cuacanya dingin." kata Sarada yang melihat hujan mulai turun dengan derasnya.

"Tenang aja, bentar lagi Pak Sai datang kok!"

Huh, susahnya menasehati pemuda ini. Jika bukan karena sakit, pasti Sarada sudah memukulnya. Akhirnya Sarada inisiatif membuka jaketnya dan memakaikannya ke badan Boruto.

"Pake ini!"

Boruto melihat jaket tersebut dengan warna merah mencolok dan tulisan 'Are You Ready For School'. Boruto langsung menggeleng ngeri.

"Aku gakmau pake ini!"

"Kamu harus pakai, kalau kedinginan dan sakit lagi gimana?"

"Aku lebih milih kedinginan aja daripada pake jaket itu!"

"Aku gak akan biarin kamu sakit lagi!" sanggah Sarada.

Sarada langsung memakaikannya dan langsung menutup resleting jaketnya sampai ke atas. Dengan begitu Boruto setidaknya hangat.

"Nah selesai!"

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Hai hai minna, pada nungguin ya? 😊

Mohon maaf aku hiatus berminggu-minggu lagi ya! 🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️

Memang sedang dalam mood gak baik untuk perluas cerita lagi dan 2 minggu kemarin Nenekku meninggal 🥺🥺🥺 jadi aku perbaikin mood dan sibuk bantuin tahlilan di rumah. Insya Allah sekarang aku bisa lanjutin lagi!

829 words❣

3600 DETIK [DISCONTINUED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang