"Dika bisa main gitar?"
"Bisa bang, gue suka main gitar. Cita cita gue jadi penyanyi."
Iye, penyanyi lagu ambyar.
Dika memainkan gitarnya dengan santai, sebuah lagu pulasara dan gundah yang sudah ia mainkan berapa ratus kali. Baru hari ini ia bisa memainkan lagu yang menyayat hatinya di depan sang pujaan hati.
Jefri yang duduk manis di hadapannya, di dalam tenda biru mereka berdua, mengabaikan tatapan tidak suka Doni yang dihimpit Ecan dan Ojun yang sibuk berdebat soal indomie dan mie sedap.
"Ini lagu siapa Dika?"
"Afgan. Jodoh Pasti Bertemu."
Wajah dan suara Dika memang netral dan kalem kalem saja tapi batinnya menangis begitu Jefri yang semula terlihat penasaran menatapnya dengan sedikit sedih. Duh, miris banget lah keliatannya.
"Dika aku-
"JEFRI!"
Suara menggelegar yang amat familiar membuat Jefri menghentikkan apapun itu yang ingin dia sampaikan. Matanya membulat lebar dan melongo dengan lucu melihat sesosok, bukan seseorang yang tinggi datang dari semak semak dengan menuntun sepeda. Rambut merahnya teracak seperti terkena badai dengan ranting dan daun tersangkut. Kemeja yang harusnya tertata rapi mencuat dari celananya, dasi hampir lepas di leher dan juga wajah ganteng yang sedikit merah merah karena gigitan nyamuk.
"LOH MAS JOHAN?"
Jefri sangat senang, ia begitu rindu dengan kekasihnya dan melihatnya di depan matanya membuat ia tak sabar memeluk pria tinggi tersebut. Bangkit dari duduknya, Jefri hendak berlari menghampiri Johan yang membuang sepedanya dan mulai melangkah ke arahnya, namun seseorang menarik lengan Jefri. Membuat si manis hampir terpeleset dan jatuh pada dada seseorang. Mengerjap dengan bingung, Jefri yang pipi kanannya terhimpit dada Dika mendongak, menatap remaja jangkung yang arah pandangnya lurus pada Johan.
"Kok lo disini bang? Bukannye lo di Amrik ya, cepet banget lo sampenya bang. Naik angkot antar benua?"
Dika menatap curiga saudara sepupunya itu, kok roman romannya dia merasa dibadutin Johan ya?
"Berisik, sono ah gue mau peluk pacar gue. Lu kan jomblo."
Menyingkirkan Dika dengan tidak berperikemanusiaan dan mengabaikan tatapan terluka Dika yang terlihat lebay karena dikatai jomblo. Johan segera merengkuh erat erat kekasih hatinya. Menghirup wangi rambut halus Jefri yang sudah dua hari tidak menyapa penciumannya.
"Mas Johan aku kangen...."
Ucapan lirih Jefri yang tersirat perasaan senang dan juga lega serta kedua lengannya yang balas memeluk Johan membuat Johan tersenyum pada helaian rambut merah mudanya.
Bentar.
Dengan sedikit kaget, Johan mendorong sedikit Jefri yang mengerjap bingung padanya. Menangkup kedua pipi bulat dan putih Jefri lalu menatapnya lamat lamat.
"Yang.....rambut kamu ketumpahan cat dimana?"
Tanyanya dengan masih memandangi Jefri dan rambut barunya. Jefri sontak tersenyum. Kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit yang manis, deretan gigi kecil yang terpampang bersamaan kedua sudut bibirnya terangkat. Lesung pipit mengintip malu malu dari dua pipi yang dihiasi rona merah muda. Hidungnya berkerut, khas sekali ketika ia tersenyum, mirip kucing. Rambut merah muda yang masih tetap halus itu bergerak seiring dengan gelak tawa yang meluncur dari bibir sewarna buah persik.
Johan lagi lagi jatuh cinta.
Mungkin bagi orang lain warna sementereng rambut Jefri terlihat sangat berlebihan tapi ternyata Jefri malah tambah mempesona. Tambah manis. Tambah cantik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Larung Asmara 🌟
Fanfiction"Kamu butuh uang dan saya butuh teman, kita bisa menguntungkan satu sama lain kan." Dimana Jefri tidak pernah menyangka bahwa hidupnya sebagai mahasiswa biasa dengan keluarga sederhana akhirnya terikat cinta yang datang tidak sengaja dari pria berna...
