Happy Reading
_________________________
DOR!
"Akh! Bangsat!" teriak Wulan saat merasakan lengannya tergores peluru yang sengaja dipelesetkan.
"SIAPA YANG BERANI NEMBAK GUE?!" teriak Wulan dengan wajah kesakitannya.
"Gue."
Seluruh pasang mata menatap ke arah timur, seorang laki laki yang menggunakan jaket dan celana hitam, topi hitam dan masker hitamnya dengan pistol ditangannya.
"Lo siapa bangsat! Gue gak ada urusan sama lo!"
"Ngelukain Audie, berurusan sama gue." Laki laki itu menodongkan pistolnya tepat dikepala Wulan.
"Pergi atau mati?"
Secepat kilat Wulan berlari menuju UKS sambil meringis kesakitan karena lengannya.
"Lo gak papa?" tanya Laki laki itu.
Saat laki laki itu hampir menyentuh Audie, Refan langsung menarik Audie dan memeluknya erat.
"Lo siapa?!" tanya Refan.
Laki laki itu berdecak kesal dan melepas maskernya.
"Lah?! Satya! Anjrit gue kirain siapa!?" seru Andre yang tadi sangat bingung.
"Lo gapapa kan dek?" tanya Satya yang dibalas gelengan oleh Audie.
"Biasa aja sih mukanya, cuma lecet dikit doang!" seru Audie.
"Tapi kan tetep aja, berdarah."
"Udah biasa, ayo balik. Ngantuk banget gue!"
"Ke UKS dulu, ayo!" seru Refan sambil menarik tangan Audie yang tidak terluka.
"Gausah, pul-"
"Gue bilang ke UKS, ya ke UKS Audie..."
Audie menghela nafas sebentar dan mengangguk.
Audie, Refan, Andre dan Satya berjalan menuju UKS. Sedangkan yang lainnya kembali ke kelas untuk mengambil tas dan menunggu di parkiran.
Saat mereka ber empat sampai di UKS, mereka mendapati Wulan sedang menangis dan berteriak kesakitan saat Vita dan Tika mengobati lengannya.
"Lemah! Baru kesrempet peluru aja nangis!" ejek Andre.
"Nyampah banget lo disini, pergi sana! Obatin luka lo dikamar mandi!" usir Satya.
"Gue luka gara gara lo bangsat!" seru Wulan marah.
"Kalo lo gak ngelukain Audie, lo bakal selamat tadi. Tapi sayangnya lo udah bikin darah dia keluar, jadi setimpal kan balasannya?"
"G-"
"Udah gausah banyak bacot, kalian keluar sekarang. Ruangan mau dipake Audie!"
"Awas lo Audie!" ucap Wulan sambil berjalan keluar ruangan.
"Akhirnya pergi juga tuh mak lampir!"
"Sini Au, gue obatin!" ucap Refan dan diangguki Audie.
*********
"Gimana Au? Lengan lo gapapa kan?" tanya Ely saat Audie Refan Andre dan Satya sampai dirumah.
"Gapapa."
"Gue keatas dulu mau mandi," ucap Audie dan berjalan menuju kamar atas.
"Gue juga deh," ucap Andre dan berjalan menuju kamarnya.
"Kalian istirahat dulu sana, nanti malem kita bakar bakar an."
Ucapan Refan membuat Bayu dan Elang senang bukan main. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang menyenangkan, mengingat besok adalah hari sabtu dan tidak sekolah.
********
"El, tolong bawa ini ke atap. Gue mau ambil jagung dulu," ucap Zilla dan diangguki Ely.
"Zilla mana El?" tanya Elang.
"Dibawah ngambil jagung." Elang mengangguk dan turun kebawah.
"Butuh bantuan gak?" tanya Satya saat melihat Ely kesusahan membawa barang barangnya.
"Boleh nih, bawain ya."
Satya mengangguk dan berjalan menuju atap.
Diatap, Bayu Elang Sisi Andre Refan dan Audie sedang bersantai, Audie memakai kaos pendek. Sehingga luka dilengannya terlihat jelas.
Refan yang melihat Audie kedingingan langsung melepas jaketnya dan memakaikannya ke Audie.
"Kalo malem pake lengan panjang!" Audie hanya mengangguk malas.
"Heh kalian! Sini! Pacaran mulu!" teriak Zilla membuat Refan dkk mendekat dan mulai membakar beberapa potong ayam dan jagung.
"Ini sebernya acara apaan sih? Kok mendadak banget?" tanya Bayu.
"Gaada. Buat seru seruan aja," balas Refan.
"Lo mau jagung bakar gak?" tanya Andre ke Sisi.
"Boleh."
"Gue bakarin ya?" Sisi mengangguk dan Andre membakar dua jagung untuk dinikmati.
"Lice, nyicip jagung lo dong!" seru Bayu.
"Lo kan bisa bakar sendiri!" balas Alice.
"Males, minta napa, dikit doang!?" Alice mengangguk malas dan memberikan jagungnya ke Bayu.
Melihat itu, Ely cemberut, dan memakan asal ayam bakarnya.
"Rakus banget sih lo!" tegur Satya tak nyaman melihat cara makan Ely yang aneh.
"Diem lo!"
"Dih, biasa aja dong. Nih gue kasi jagung, mau gak?" tawar Satya memberikan jagung bakar ke Ely.
Dengan senang hati Ely menerima jagung itu dan menyantapnya dengan perasaan yang tetap dongkol.
"Muka lo bisa biasa aja ga sih?" sewot Satya.
"Gak, udah sono pergi!" usir Ely.
"Si anjir, udah dibakarin bukannya makasih malah ngusir! Ga lagi lagi deh gue baik sama lo!" kesal Satya dan menjauh dari Ely yang sedang mencibikkan bibirnya kesal.
******
"Kapan kapan temenin gue, ya?" tanya Audie ke Refan.
"Ke?"
"Psikolog," balas Audie.
"Ngapain ke psikolog segala?" tanya Refan penasaran.
"Mau ngecek, gue waras atau enggak," balas Audie santai.
"Maksud lo?"
Audie mengangkat bahunya. "Entahlah, beberapa tahun ini gue ngerasain hal beda sama diri gue sendiri."
"Gue ngerasa ada kepuasan sendiri pas ngelakuin sesuatu, terutama saat gue ngebunuh para penghianat."
Refan mengangguk paham, dia paham apa yang dimaksud Audie.
Refan merangkul Audie, dan mengusap rambut perempuan itu.
"Gue bakal nemenin lo kok, mau berangkat kapan?"
"Belum tau juga, besok kalo jadwal gue longgar."
"Sok sibuk lo!" Refan mengacak acak rambut Audie.
"Gue emang sibuk, ya!"
"Iya iya deh, nih makan. Keburu jagungnya dingin!"
Refan memberikan jagung bakarnya ke Audie.
Keduanya menikmati suasana malam ini yang terbilang ramai karena suara berisik Ely Zilla Alice dan lainnya.
Tbc
Karena ada yang minta Double up, nih double up
Masih anget, baru aja selesai diketik....
Maaf kalo gajelas, udah ngantuk jd ngetik yang seadanya diotak...
_Tsa
KAMU SEDANG MEMBACA
Audie is the Queen
Teen FictionHIATUS Cerita ini bukan untuk diplagiat. [FOLLOW SEBELUM MEMBACA, JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN] Tentang kehidupan seorang gadis bernama Audie. Hargai jika ingin dihargai. Start: 26 Mei 2020
