8 - Rani Hilang

10.2K 1.2K 54
                                        

Rani baru saja keluar dari mini market, sendirian. Ketika ia sedang menunggu angkutan umum tiba-tiba dari belakang ada yang membekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah disemprot oleh racun hingga ia menjadi pinsan. Rani dibawa oleh mobil hitam ber- plat B 4567 KAJ. Orang itu membawa Rani ke rumah tua yang ada di Bandung ia sengaja membawanya ke sana agar tidak mudah ditemukan, katanya.

Setelah beberapa jam tertidur pulas akhirnya Rani bangun juga, ia mengedarkan pandangannya ke tiap sudut ruangan ia merasa pusing dan kebingungan.

"Di-dimana ini?"

"Akhirnya bangun juga lo." Suara itu sangat Rani kenal, sudah tak asing lagi bagi telinganya.

"Udah lama, ya, kita enggak ketemu."

"Ma-mau apa lo?!" jawabnya sedikit ketakutan, dan tempat ini juga sangat gelap. Lalu orang di depannya ini menyalakan lampu. Seketika Rani terkejut karena yang kini di depannya adalah ...

"Udah gue duga kalau lo sendirian lo pasti akan lemah dan ketakutan. Lo itu tetap sama dengan Rani yang dulu, lemah!" cewek itu mendekat.

"Gara-gara lo gue dikeluarin dari sekolah, dan gara-gara lo juga gue dimarahin habis-habisan oleh orangtua gue. Bahkan keluarga gue nyaris bangkrut gara-gara video itu!"

"Gue enggak salah, karena itu memang faktanya. Lo emang ngebully gue. Semua orang juga tahu."

Gadis itu tertawa seraya menarik rambut Rani dengan kuat lalu mencengkram dagu cewek itu.

"Hidup gue hancur karena lo, repotasi keluarga gue juga hancur! Untung bokap gue kaya raya enggak ketulungan jadi gue enggak akan bangkrut. Coba kalau gue miskin? Apa lo akan merasa bersalah atas hancurnya gue dan keluarga gue?!"

"Lepasin gue!"

"Gue enggak akan lepasin lo, gue pengen lo hancur gue pengen lo mati! Kalau gue sengsara lo juga harus lebih sengsara dari gue. Setidaknya lo mati, gue akan merasa bahagia."

"Dari dulu lo enggak berubah-berubah, tetap sama kayak iblis. Gue kira dengan lo dikeluarkan dari sekolah lo bakal berubah menjadi lebih baik, nyatanya? Gue bener-bener kasihan sama hidup lo, miris."

"Udah gue duga lo pasti ngomong kayak gitu, bosen gue dengernya."

Rani tertawa sinis, "dasar pecundang."

Ajeng tak terima dengan ucapan yang Rani katakan tadi seakan kepalanya semakin memanas. Ia semakin kesal, lalu ia menggoreskan pisau ke kaki Rani hingga mengeluarkan darah dan Rani pun meringis kesakitan. Ajeng tak menghiraukan ituia meninggalkan Rani dan mematikan lampu. Yang ia tahu, Rani sangat ketakutan jika berada di ruangan gelap. Ia menutup rapat mulut Rani menggunakan lakban agar tidak berisik.

Kini Rani merasa ketakukan di dalam, ia tak bisa berbuat apa-apa. Tangannya diikat juga kakinya. Ingin meminta bantuan kepada siapa jika ia terikat seperti ini? Saking tak kuatnya Rani menjadi pinsan.

Dari siang hari, Bimo terus menelfon dan mengirimi pesan kepada Rani namun tak ada jawaban. Lebih tepatnya ponselnya mati. Bimo menjadi khawatir takut terjadi sesuatu tak hanya cowok itu teman-teman Rani pun sangat khawatir. Mulai besok, mereka semua akan mencari Rani mumpung hari esok libur.

***

Pagi ini semua berkumpul di rumah Lala, mereka akan mulai pencarian atas hilangnya Rani. Untung saja Ayah Ikke sedang berada di luar negeri jadi gadis itu bisa ikut untuk mencari Rani.

Bimo mencoba melacak nomor handphone Rani dan akhirnya ia mendapat jawaban dimana keberadaan Rani sekarang. Mereka semua langsung bergegas pergi ke tempat itu.

Rani terlihat sangat lemas, dari semalam ia pinsan akibat ketakutan dengan kegelapan. Ia paling tidak bisa sendirian di tempat seperti itu, ia benar-benar ketakutan.

Bimo, Kevin, Lala dan Ikke akhirnya sampai di tempat tujuan mereka berempat mengedarkan pandangannya mengamati rumah tua itu lalu berhenti pada satu mobil yang tak asing bagi mereka. Tanpa berlama-lama Bimo langsung menggebrak pintu dengan keras karena pintu itu terkunci tadi. Yang lain ikut menyusul ke dalam.

"Rani, lo dimana? Ini gue Lala."

"Ran, Rani ... Lo dimana?"

"Rani..."

Rani pun terbangun karena suara seseorang yang memanggil namanya. Ia kenal betul pemilik suara itu siapa.

Rani mencoba menjatuhkan barang di dekatnya untuk memberikan kode kepada mereka bahwa dirinya ada di situ.

Lala menoleh lalu mereka mengajak yang lainnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Seketika mereka terkejut karena ada seseorang yang mengarahkan pisau ke leher Rani namun, mereka tak mengetahui itu siapa. Karena wajahnya ditutup tetapi dilihat dari postur tubuhnya seperti seorang gadis remaja.

"Kalau kalian mendekat, cewek ini gua bunuh!"

"Lepasin dia, atau gue laporin lo ke polisi!" sahut Lala dengan lantang.

"Silakan, gue enggak akan takut."

"Dih, nantangin lo, ya?!" Lala mendekat ia menghajar gadis itu hingga terjatuh dan tertindih oleh beberapa kardus.

Bimo dan yang lainnya membukakan tali yang diikat di tangan dan kaki Rani. Ikke mengajak Rani keluar dan masuk ke dalam mobil ia menemani gadis itu. Jika ia tinggalkan, bisa-bisa ada yang membawa kabur Rani, benar kan?

"Lo siapa? Berani-beraninya ngusik temen gua."

"Buka topeng lo," timpal Kevin.

Bimo mengamati gadis itu dengan tajam sepertinya ia tahu siapa gadis itu.

"Lo ... Lo Ajeng kan?" Tebak Bimo seketika gadis itu terkejut dan mencoba melarikan diri namun oleh Lala dan Kevin ditahan.

"Eits, mau kemana lo? Atau ... Emang bener lo itu Ajeng? Jawab?!" Kevin dan Lala memegang lengan gadis itu dengan kuat dan Bimo pun menghampiri lalu perlahan mebuka topeng gadis itu dengan perlahan.

Dibalik topeng orang itu tampak ketakutan jika ia ketahuan oleh mereka bisa gawat.

Dan ternyata gadis itu bisa lepas dari genggaman Kevin dan Lala. Ia lari lewat jendela dan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sial, mereka belum tahu siapa seseorang dibalik topeng tersebut.

•••

VOTE & KOMEN!

FOLLOW IG: @/deiviraelzikra

BIMO [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang