10 - Curiga

9.1K 950 57
                                        

Rani, Lala dan Ikke sedang berada di mall untuk belanja sesuatu. Ketika mereka sedang asyik bergurau, tiba-tiba Rani tak sengaja melihat sepasang kekasih, ia seperti kenal dengan kedua orang itu lalu ia mengamati dari jauh. Sontak, Rani terkejut pasalnya yang ia lihat saat ini adalah Rona dan Alex. Ia langsung mematung dan mengamati dengan lebih dekat lagi untuk memastikan penglihatannya ini benar atau salah.

"Ran, mau kemana lo?" tanya Ikke.

Rani menoleh lalu pura-pura mencari barang agar tidak dicurigai oleh Lala dan Ikke.

"Hah? Enggak, ini lagi lihat-lihat barang hehe," Lala dan Ikke mengangguk, percaya. Lalu diam-diam Rani memotret Rona dan Alex yang sedang berkencan pada malam itu.

"Kita kemana lagi?" tanya Rona. Alex tampak berpikir.

"Nah kita kesana aja, yuk?" tunjuk Alex pada suatu toko dan Rona menyetujui.

"Kak Rona sama Alex? Ngapain mereka? Sejak kapan mereka bisa sedekat itu? Apa mereka pacaran?" hati dan pikiran Rani terus bertanya-tanya.

Rona menggandeng tangan Alex mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang bahagia serasa dunia ini milik berdua yang lain ngontrak.

"Sayang aku pengen beli sepatu nih, boleh enggak?" rengek Alex pada Rona.

Sudah Rani duga bahwa Alex memacari Kakaknya itu hanya karena ingin uangnya saja bukan cinta.

Rona mengangguk, "boleh dong!"

"Kamu emang pacar terbaik, makin sayang deh aku sama kamu," goda Alex seraya mencubit gemas pipi Rona. Aneh, seharusnya cewek yang dibelanjakan oleh cowoknya ini malah sebaliknya. Rani yang melihat itu bergedik ngeri merasa jijik.

"Ah, kamu..." Lalu mereka berdua berhenti pada toko sepatu yang harganya selangit.

Rani memutuskan untuk mengikuti mereka dan meminta izin pada Lala dan Ikke untuk pergi dengan alasan ada urusan mendadak. Tak lupa, Rani membeli topi dan kacamata hitam agar saat membuntuti mereka tidak ketahuan.

Alex dan Rona pergi ke sebuah bioskop dan Rani ikut ia memesan tempat duduk yang sedikit jauh dari mereka dua puluh menit kemudian film pun mulai diputar. Setelah keluar dari bioskop Alex dan Rona pergi ke toko baju. Rani terus mengikuti mereka sempat ingin berhenti mengikuti namun perasaannya tidak enak seperti akan terjadi suatu hal yang tak terduga.

Sudah satu jam mengamati kedua orang itu di sebuah toko baju lalu mereka berdua keluar dari mobil dan Rani mengikutinya menggunakan mobil taxi.

Mobil Rona yang dikendarai oleh Alex berhenti pada sebuah hotel dan Rani pun terkejut, mereka ingin apa berduaan disana? Dengan cepat, ia memotret.

"Mau kemana ini, non?" tanya supir taxi tersebut.

"Kita puter balik aja, Pak." dan supir itu mengangguk.

Sepanjang perjalanan pikiran Rani penuh dengan tanda tanya. Ia khawatir jika Rona semakin dimanfaatkan oleh lelaki itu, Alex. Yang ia tahu, Alex adalah orang yang tak baik dan Rona juga pasti tahu tapi mengapa tetap mau dengannya? Terkadang, cinta memang bisa membutakan segalanya.

Lamunan Rani terpecahkan oleh dering ponsel, ia mendapat telfon dari Bimo.

"Nanti malam, kita jadi ke pasar malam?"

"Iya,"

"Oke, nanti di jemput. Masih tinggal bareng Lala 'kan?"

"Iya, see you."

***

Malam minggu ini, Bimo akan pergi ke pasar malam bersama Rani, seorang cewek yang sedang ia pikirkan akhir-akhir ini.

Rani sedang bersiap diri seraya memilih bawahan yang cocok dengan atasan bajunya.

"Cie yang mau malmingan," goda Lala pada Rani dan pipi gadis itu merona, kesemsem.

"Dih sampe merah gitu lhoo pipinya, cie... Mana dong PJ-nya!"

"PJ?" Rani mengernyit.

Lala mengangguk cepat, "iya PJ, pajak jadian bambang!"

Rani menggaruk belakang lehernya seraya tersenyum malu.

"Belum jadian, Lala."

Lala terngaga lalu mendekati Rani.

"Belum jadian? Wah kirain udah, abisnya belum pacaran tapi tingkah kalian berdua udah kayak orang pacaran!"

"Ada pepatah berkata, mendung belum tentu hujan dan dekat belum tentu jadian. Jadi, kita dekat bukan berarti pacaran..."

Lala melemparkan bantal, "sok puitis dasar!" mereka berdua tertawa. Seketika tawa mereka menjadi diam karena sebuah ketukan pintu dari luar.

"Noh sang pangeran udah datang," lagi-lagi Lala menggoda Rani.

"Udah ih, jangan ledek mulu."

"Yaudah gih sana cepet pergi jangan sampe pulang malem-malem banget,"

"Iya-iya gak akan! Ohiya, mama lo dimana?"

"Mama gue tadi lagi ke rumah tetangga, ngasihin makanan."

"Ohh gitu, bilangin, ya, gue pergi dulu,"

Lala langsung sigap dan hormat, "siap Bu!"

"Enak aja, gue bukan ibu-ibu," Rani meninggalkan Lala lalu balik lagi.

"Lo beneran gapapa sendirian di rumah?"

"Ah elah, kan nyokap gue juga ada di deket sini enggak ditinggal pergi jauh, lagipula gue udah gede gak penakut kayak lo,"

"Yaudah, bye-bye!" Rani melambaikan tangannya.

Lala berteriak, "awas lo jangan bawa dia jauh-jauh terus pulang malem, gak direstuin sama gue kalau lo nembak dia!"

"Banyak omong lo, La." Sahut Bimo.

Sepuluh menit diperjalanan, mereka pun sampai di pasar malam. Bimo mengajak Rani untuk membeli harum manis dan jalan-jalan mengelilingi pasar malam sembari mengobrol tentang hal yang random.

"Pengen tahu enggak kenapa aku suka banget mikirin kamu?" kata Bimo enteng tanpa beban. Rani mematung setelah mendengar itu.

"Hanya dengan memikirkan kamu, beban pikiran seketika hilang." Lagi-lagi perkataan Bimo mampu membuat jantung Rani berdebar dengan kencang.

•••

VOTE & KOMEN!

FOLLOW IG: @/deiviraelzikra

BIMO [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang