"Bencana sebuah hubungan kayanya gak jauh-jauh dari kepercayaan."
~~•~~
"Gimana pun masa lalu kamu, latar belakang kamu. Aku gak akan mempermasalahkannya. Sama seperti kamu gak mempermasalahkan latar belakanng keluarga aku." Bagi Ily perasaan cinta ini hanya bagaimana cara kita menerima dan membalasnya.
Gravi menggenggam hangat kedua telapak Ily. "Inilah kenapa, aku gak bisa ngelepasin kamu gitu aja. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku setelah kepergian mama."
Gravi menarik Ily ke dalam dekapannya. "Ly, denger. Bianca gak berarti banyak buat aku, dia cuma temen biasa."
Rasa biasa itu berpotensi menjadi cinta, kan. Apalagi dengan cewe sesempurna Bianca, batin Ily.
"Percaya ya, sama aku," bisik Gravi pelan
Hampir, Ily hampir seratus persen percaya ucapan Gravi, tapi kembali lagi pada keraguannya sejak kemarin. Ily tak lebih cantik dari Bianca, dia juga tak lebih kaya dari Bianca, good attitude ... Ily rasa Bianca juga perempuan yang baik.
"Ily," Gravi melepas pelukan, "sebenernya gimana perasaan kamu ke aku?"
Melihat tak ada tanda-tanda Ily akan merespon. Gravi kembali mengimbuhi, "Udah tiga atau empat kali, aku liat kamu ketemuan sama Halim di cafe Bianca. Kenapa kamu rahasiain itu?"
"Aku takut kamu marah." Tak ada kalimat yang dimanipulasi, memang itu alasan yang terbesit saat Gravi melontarkan pertanyaan.
"Dengan merahasiakannya, kamu yakin kalau aku gak akan marah pas aku tau hal itu?"
"Aku gak pernah berpikir sampai ke sana." Memang Ily tak pernah menyangka Gravi akan mengetahuinya secepat ini.
"Lagi pula, baru-baru aja aku ketemu Kak Halim. Itupun karena gak sengaja ketemu di halte."
"Halte?" Ily mengangguk cepat.
"Dia pasti punya maksud lain, Ly. Dia itu gak sebaik keliatannya." Ily mengerti. Gravi mengatakan itu karena memang Gravi benci dengan Halim.
"Dia terlalu perhatian ke kamu. Jangan deket-deket, aku gak suka. Dia berusaha bikin hubungan kita makin renggang."
Untuk yang satu ini Ily tidak setuju dengan Gravi. Ily merasa, Halim tidak pernah mecoba menarik perhatiannya lebih dari seorang kakak kelas kepada adik kelas. Apalagi berniat merusak hubungan Ily dengan Gravi. Toh, lagi pula Ily sama sekali tak ada ketertarikan dengan saudara tiri Gravi.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Ly," Gravi berhenti sejenak, "Apa kamu masih cinta sama aku?"
"Aku di sini karena perasaan itu, Gra. I love you."
Gravi mendekat lantas menciun kening Ily. "I love you too."
Tak berselang lama Gravi memundurkan wajah, tangannya berdiam di pipi Ily. "Kapan kita bisa rayain anniversary seharian?"
Alis Ily tertekuk, "Harus seharian?"
"Masa iya cuma makan doang. Itukan anniversary pertama kita."
Ily membenarkan dalam hati. Setelah nanti Ily kuliah dan bekerja diwaktu yang bersamaan, pasti mereka akan kesulitan menghabiskan waktu bersama. Kalau Gravi bisa, kenapa Ily tidak.
"Aku siap kapan aja, deh."
Gravi tersenyum, melipat kedua tangan di depan dada. "Kalo gitu, lusa, ya."
"Malming?"
Gravi mengangguk, "Gimana?"
"Aye-aye, captain." Tangan Ily letakkan di atas pelipisnya. "Eh, tapi. Aku kan kerja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravihati
RomanceCowo baik tapi sialan. Pernah nemu jenis cowo kaya gini? Berarti kamu satu nasib sama Ily. Ily ini 18 tahun, baru lulus SMA, gagal kuliah, padahal udah lolos SBM tinggal go kampus aja. Sayangnya, tiba-tiba Gravi datang ingin bertanggung jawab atas k...
