"Bu, Pak, Delia berangkat sekolah dulu."
Gadis delapan tahun berseragam merah putih bergegas mencium tangan kedua orang tuanya lantas beranjak dari dapur sekaligus ruang makan. Sedangkan, Ily meneguk air dalam gelas hingga tandas. Saat hendak beranjak untuk mencuci piring kotor. Shinta menginterupsi kegiatannya.
"Duduk dulu sini, Ratna."
"Kenapa, Bu?" Ily menoleh sekilas, meletakkan piring kotor ke wastafel lalu kembali duduk di kursinya.
"Ibu liat kamu jadi pendiem banget tiga hari ini. Ada apa? Kalo ada masalah cerita sama Ibu sama Bapak."
"Iya, bener Na, kata Ibumu. Ada masalah dengan persiapan kamu?" Dipta menyahut.
Ia kembali angkat bicara, berusaha menebak keresahan anak gadisnya itu. "Apa Ratna pengen ikut les kilat UTBK? Apa ... lagi perlu beli buku?"
Kebungkaman Ily memancing pertanyaan lain dari ibunya, "Masalah kerjaan lagi?"
Dipta memusatkan atensi sejenak pada Shinta. Lalu kembali angkat bicara, "Daripada ganggu konsentrasi belajar. Mending Ratna keluar aja dari kerjaan. Gapapa, biar Bapak yang berusaha lebih keras lagi. Ratna yang penting sekolah aja dulu sampe lulus S1."
Ily menggeleng, tersenyum kecil lalu menjawab, "Ily cuma ngerasa makin gugup aja Pak, Bu. Karena bentar lagi UTBK."
Ily berbohong lagi, tentu saja. Ada banyak harap di balik setiap ucapan orang tuanya, Ily tentu tak ingin mengecewakan mereka. Meski semua sudah terjadi. Namun, Ily yakin bahwa selama hal itu tetap jadi rahasia. Maka semua akan baik-baik saja, tak akan ada yang terjadi. Tidak ada. Berulang kali kalimat itu Ily tanam dalam hati.
"Ratna harus semangat, belajar terus, jangan pikirin biayanya. Bapak bakalan usahain uangnya, kaya dulu bapak usahain mbak kamu kuliah." Kerutan di sekitar mata Dipta terihat sangat jelas ketika dia tersenyum.
Dada Ily bertalu kencang bercampur perasaan hangat. Andai malam itu Ily tidak melakukannya bersama Gravi. Mungkin saat ini ia akan tersenyum lebar tanpa perlu menahan debaran kekhawatiran ini.
"Ibu sama Bapak yakin, Ratna pasti bisa lolos SBM." Ily berusaha tersenyum setulus mungkin.
.
Tok tok tok.
"Mbak Naaa .... De mau pinjem hpnya boleh gak?"
Ily melirik ke pintu, adiknya sudah pulang sekolah. Berarti sudah hampir dzuhur. Ily membuang napas panjang, bangkit dari tengkurapnya. Meraih ponsel di meja. Dibukanya sedikit pintu, tangannya terulur keluar lantas menyerahkan benda itu pada Delia tanpa menampakkan diri apalagi wajahnya.
Terdengar seruan riang di balik pintu. "Nanti jam satu hpnya Mbak Na bawa kerja, ya," pesan Ily.
"Iya, makaseee ... Mbak Na."
Ily menjawab dengan bergumam. Tak lama, suara cemprengnya menghilang begitu saja. Ia yakin adik kecilnya itu pasti sedang menjaga warung nasi ibunya.
Ily melangkah mendekat pada cermin di sisi meja belajar. Mata bengkak dan sembab terlihat sangat kentara. Dia meneliti setiap inci wajah, leher, bahu, dada, sampai ke ujung kaki. Ily sudah menodai dirinya sendiri. Ia bahkan membiarkan Gravi menyentuh setiap bagian tubuhnya dengan mudah. Merasa lebih hina lagi, karena ia menikmati semua sentuhan itu.
Kelopak Ily terpejam, rambut panjangnya ia tarik sekuat tenaga. Isak tangis tertahan membuat punggung Ily bergetar. Tubuhnya lunglai dan jatuh terduduk di lantai. Dalam benak ia menjerit, berharap agar Tuhan tak menjadikan dia hamil. Itu saja doa Ily selama ini. Sebab jujur saja, Ily tak siap menerima cemoohan, gunjingan, kucilan, bahkan lirikan sinis orang-orang. Ia tak bisa menanggung rasa malu sebesar itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravihati
RomansaCowo baik tapi sialan. Pernah nemu jenis cowo kaya gini? Berarti kamu satu nasib sama Ily. Ily ini 18 tahun, baru lulus SMA, gagal kuliah, padahal udah lolos SBM tinggal go kampus aja. Sayangnya, tiba-tiba Gravi datang ingin bertanggung jawab atas k...
