“Sebenarnya gue takut ditinggalin dia.”
~~•~~
“Iya Bu, udah makan, kok. Ily masuk kamar dulu, ya.”
Masih lengkap dengan jaket dan celana training hitam, Ily merebahkan diri pada kasur. Menangis lagi, tak menyangka ia akan berbuat sejauh itu. Ily, bukan lagi anak perempuan yang bisa membanggakan Dipta dan Shinta. Setelah ini, ia harus melakukan apa.
Ily duduk di pinggir kasur. Mengeluarkan dua benda biru yang sukses membuat banjir wajah, sesak dada, dan gemetar kakinya. Butuh waktu dua jam untuk Ily menenangkan tangis di dalam kamar mandi tadi. Ily bersyukur, keputusan dia untuk melakukan tes di masjid sudah benar.
Menatap nanar lagi pada dua buah testpack itu. “Karena kamu aku hancur, Gravi,” gumam Ily pelan.
Setetes air meluncur lagi, bibirnya bergetar menahan isak. Lelah. Ia sudah lelah menangis di dalam kamar mandi masjid tadi. Bagaimana dia harus menghadapi situasi ini. Ily benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri. Andai saja malam itu Ily tak melakukannya dengan Gravi. Maka saat ini ia akan baik-baik saja. Hidupnya akan tenang sahaja.
“Dua benda ini, tak boleh sampai ada yang tahu.”
Ily bangkit mendekati meja, meraih tas lalu menyimpan benda kecil biru itu di resleting paling depan. Tak akan ada yamg menggeledah tas ini. Rahasianya akan aman. Iya, satu-satunya hal terbaik yang bisa Ily lakukan hanya merahasiakan kehamilan ini dari keluarga, orang sekitar, juga ... termasuk Gravi. Ily tak memiliki keberanian untuk mengakui hal itu pada orang tuanya. Ily tak ingin mengecewakan mereka. Dan sejujurnya ia sangat takut dengan kemarahan Dipta.
Masih dengan sesenggukan, Ily kembali menjejal wajah di bantal. Meratapi kebodohannya sampai lelah dan terlelap menuju alam bawah sadar.
Sorenya di cafe tempat Ily bekerja ....
Telapak seorang gadis mengusap mulut yang basah. Wajahnya ia angkat, menatap lurus ke depan. Betapa menyedihkan dirinya. Wajah lelah, berpadu mata sembab, tak ada rona di pipi. Terlihat kusam dan pucat.
“Ly, lo udah mulai jadi bahan omongannya anak-anak.”
Melalui pantulan di cermin, Ily melirik sekilas pada Nada. Dia harus bagaimana jika sudah begitu. Mual-mual ini tak sedikit pun bisa Ily sembunyikan.
“Gue gak tau harus gimana, Nad.” Ily akhirnya angkat bicara.
Nada mendekat, membuka kran air dan mencuci tangan lantas berujar, “Jangan dengerin omongan mereka, udah itu aja.”
Ily menghadap kanan. “Nad, menurut lo gue harus gimana?”
Sebuah hembusan terdengar sampai ke telinga Ily. Kepala Nada menggeleng, tangannya memegang bahu Ily. “Yang tau lo mau melakukan apa, ya, cuma diri lo sendiri, Ly. Apa yang lo mau, apa yang jadi tujuan lo, apa yang menurut lo baik. Itu semua jawabannya ada di lo, gue gak tau dan gak punya jawabannya.”
Ily menunduk, menutupi wajah dengan kedua telapaknya. Dia ingin lepas dari beban ini. Haruskah Ily menyingkirkan habis sumber masalahnya.
“Cowo itu, udah tau keadaan lo?” Nada bertanya menyambung percakapan.
“Enggak.”
“Kenapa?” Nada mengerutkan kening, dia memang tidak mengerti ketakutan Ily.
“Sebenarnya gue takut ditinggalin dia.”
Nada membuang pandangan ke arah lain. “Lo pikir, mengulur waktu bisa meredakan semua masalahnya?”
“Gue pernah menyesal karena menunda,” lanjut Nada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravihati
CintaCowo baik tapi sialan. Pernah nemu jenis cowo kaya gini? Berarti kamu satu nasib sama Ily. Ily ini 18 tahun, baru lulus SMA, gagal kuliah, padahal udah lolos SBM tinggal go kampus aja. Sayangnya, tiba-tiba Gravi datang ingin bertanggung jawab atas k...
