Disti mengalihkan pandangan dari televisi. Maniknya memerhatikan Ily yang baru kembali dari belakang. Di ruang tengah hanya ada mereka berdua, Delia sudah tidur begitupun ayah dan ibu mereka.
“Dari tadi bolak-balik ke belakang mulu, ngapain, sih?”
Ily menengok lantas terkekeh. “Pipis, Mbak.”
“Beser banget.”
Komentar asal dari Disti sukses membuat dada Ily bertalu kencang. Ily merasa kakak satu-satunya itu menyadari perubahan sikap Ily. Mungkin juga menaruh curiga. Entahlah, Ily hanya menduga saja.
Disti menguap lebar. Kakaknya menggeleng kecil lalu kembali melihat layar televisi. “Mbak tidur duluan, nanti lampunya jangan lupa dimatiin, ya.”
“Siaap.”
Tak berselang lama, Ily juga masuk ke kamarnya sendiri. Menyalakan lampu kamar lalu merebahkan diri di kasur. Ily meraba perutnya. Akan sesakit apa rasanya ketika keguguran dan akan sebanyak apa darah yang keluar. Ily berharap, es tebu dan nanas yang dimakannya berhasil.
Esok harinya, ketika semua orang di rumah sudah pergi beraktivitas. Ily tengah berada di dalam kamar mandi. Bukan kram ataupun perdarahan karena keguguran, melainkan mulas. Sepertinya Ily mengalami diare. Sesaat setelah sarapan dua jam lalu, ia selalu bolak-balik duduk di kloset.
Dengan langkah lunglai, Ily menghampiri ibunya di teras. Menumpahkan segala keluhannya pada Shinta. “Bu, perut Ily mules banget. Ily mau ke klinik ya, Bu.”
“Loh emang kenapa, kok bisa mules?”
“Ily gak tau Bu, cuma kemarin abis makan nanas. Masa gara-gara itu?”
Shinta mengangguk cemas, ia memegang bahu putrinya. “Yaudah, ayok, ibu anterin ke klinik. Biar warungnya dijagain ama tetangga sebelah.”
Ily menggeleng, “Gausah bu, Ily bisa berangkat sendiri. Ibu jagain warung aja.”
“Beneran kuat?”
“Iya Bu.”
Saat Shinta mengangguk setuju. Ily bergegas mengganti pakaian lalu mengambil tas. Ily bersyukur, semudah itu membujuk ibunya. Sekali lagi Ily beruntung. Kalau saja diare itu datang kemarin malam, pasti kakak atau ayahnya akan mengantr Ily ke klinik. Kabar buruknya, mereka pasti akan mendengar berita kehamilan Ily dari dokter yang memeriksanya.
Disinilah Ily, di Klinik yang tidak bisa dibilang begitu dekat dari rumah. Setelah diperiksa mengenai diarenya di dokter poli umum. Sekarang ini Ily sedang berada di depan ruangan dokter kandungan. Dokter yang di poli umum tadi, terus saja bertanya mengenai masalah Ily makan nanas. Akhirnya Ily berakhir di sini setelah mengakuinya.
“Antrian nomor 12, Nona Ratna.”
Ily masuk ke dalam ruangan. Dokter kandungannya laki-laki, masih muda pula. Astaga, Ily malu sekali.
“Nonka Ily 18 tahun masih lajang.” Ily balas tersenyum ketika dokter di depan Ily melempar senyum padanya.
“It's okay, gapapa. Wanita hamil itu wajar, terlepas ada atau tidaknya seorang suami.”
Ily mendongak meihat ke arah wajah dokter yang Ily taksir umurnya 30 tahun. Ily bersyukur, setidaknya ia tidak mendapat tatapan sinis yang seperti dokter di poli umum tadi.
“Saya mengerti, pasti sulit menerima kehamilannya, tapi janin itu anugrah Tuhan. Percobaan menggugurkan kandungan, tanpa ada pengawasan dari dokter akan sangat membahayakan. Bukan janinnya saja, tapi keselamatan si ibu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravihati
RomanceCowo baik tapi sialan. Pernah nemu jenis cowo kaya gini? Berarti kamu satu nasib sama Ily. Ily ini 18 tahun, baru lulus SMA, gagal kuliah, padahal udah lolos SBM tinggal go kampus aja. Sayangnya, tiba-tiba Gravi datang ingin bertanggung jawab atas k...
