Ily mengunyah pelan bubur dari sendok yang ibu Nura sodorkan. Rasanya tidak enak, hambar. Suiran ayam pun juga begitu, tidak ada gurih-gurihnya sama sekali. Ily mengeluh dalam hati. Sebenarnya ini makanan orang sakit atau apa sih. Menunya sama sekali tidak membangkitkan selera makan.
Ily mengelus permukaan perut. Sejak ia tersadar empat jam yang lalu, janinnya ini tak menendang sedikit pun. Apa dia juga kaget dengan kejadian tadi, ya.
Ily menengok pada ibu metuanya. “Ma, Gravi ke mana? Kenapa dia gak ke sini ke sini.”
Kata ibu mertuanya, Ily menelpon sekitar pukul sebelas siang. Dan siuman pukul setengah dua tadi. Jadi, sudah sekitar tujuh jam Ily di sini. Namun, tak ada siapa pun kecuali ibu Nura saja.
“Halim lagi jemput dia, nanti juga ke sini.” Ily mengangguk saja.
“Ma?” dia memanggil ibu mertuanya lagi.
“Hmm, ada apa?”
“Orang tua Ily ... apa udah tau, Ma?”
Nura mengulas sebuah senyum. “Udah, lagi disusul sama Halim.”
Ah, ternyata Halim menyusul banyak orang. Pantas jika dia lama sekali keluarnya. Ily melihat lagi pada wajah ibu mertuanya, lelah dan kuyu. Sepertinya dia kelelahan menjaga Ily.
“Mama pulang aja, mandi, makan, istirhat. Ily gak apa-apa kalo sendirian, lagian kan Ily masih bisa ngelakuin semuanya.”
“Ily, mama juga gak masalah di sini. Ah, iya papamu gak bisa dateng jenguk karena dia lagi di luar kota.”
Cklek
Pintu terbuka, bahu Ily turun. Bukan Gravi yang datang, tetapi saudra kembarnya. Halim mendekat memegang bahu Nura.
“Mama sholat aja dulu, Halim udah selesai.”
Kepala berambut pendek Nura mengangguk sekali. “Ya udah, jagain bentar ya.” Lantas sosoknya hilang di balik pintu coklat.
“Masih lemes, Ly?”
Halim menggeser kursi mendekat pada ranjang pasien. Dia menatap sang adik ipar dengan mata sayu. Ily menggeleng, tangannya mengelus perut buncitnya lagi.
“Oh, iya.”
Ily menoleh dengan anatusias dan mata berbinar, Ily melontarkan satu pertanyaan. “Gravi udah di sini? Dia lagi sholat?”
Geleng Halim menjawab pertanyaan Ily. Sayangnya, mengharapkan kedatangan Gravi adalah sebuah kekecewaan yang Ily lakukan berulang kali hari ini.
“Gravi gak di kampus, HP-nya juga gak aktif. Mungkin dia lagi di tempat lain.”
Kemana lagi, sih, Gravi. Ily menghela napas panjang. Kira-kira Gravi akan sekaget apa melihat apartment-nya yang kotor. Darah Ily pasti tercecer di mana-mana.
“Kalo ibu sama bapak aku gimana? Katanya mama, Kak Halim jemput mereka juga.”
“Iya, mereka bakal dateng. Bentar lagi paling sampe. Ibu lo gak bareng gue karena masih nunggu bapak lo pulang kerja.”
Halim meraih jeruk di meja sebelah ranjang. Mengupas, lalu mnyodorkannya pada Ily.
“Kak Halim, maaf kalo aku nyusahin kak Halim seharian. Terus mobil kakak juga pasti kotor gara-gara darah aku.”
Tangan Halim mendorong pelan kening Ily. “Halah, pake sungkan segala. Kaya ama siapa aja.”
Ily memanyunkan bibir melihat tawa Halim yang pecah. Dia kembali mengelus perut, menunggu respon berupa sebuah tendangan halus yang beberapa jam ini ia nanti-nantikan. Beruntung tak ada apa pun yang terjadi pada janinnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravihati
RomanceCowo baik tapi sialan. Pernah nemu jenis cowo kaya gini? Berarti kamu satu nasib sama Ily. Ily ini 18 tahun, baru lulus SMA, gagal kuliah, padahal udah lolos SBM tinggal go kampus aja. Sayangnya, tiba-tiba Gravi datang ingin bertanggung jawab atas k...
