“Mama, Almarhum Mama Mila, dan ayah Rajendra. Kami bertiga adalah sahabat. ” Sementara Gravi memeriksa dan membaca seluruh kertas yang ada di map. Nura mulai menceritakan semua kisahnya.
“Mama, memiliki nasib yang sama seperti Ily. Hamil di luar nikah. Ketika itu, mama berusia dua puluh tujuh tahun. Ayah dari janin yang ada di rahim mama pergi begitu saja, dia melanjutkan studinya di luar negeri. Tak ada yang tahu kalau dia sudah mengamili seorang gadis.
Mama salah telah mencintai seorang pria dari keluarga kaya. Sedangkan Mama tidak punya siapa-siapa, karena sejak kecil mama hidup dan besar di panti asuhan. Mama tidak berani mendatangi orang tuanya.”
Ily tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu Nura mengetahui Gravi kembali mengulang kesalahan yang pernah dilakukan ayah kandungnya.
“Sementara mama hamil tua. Ayah Rajendra dan Ibu Mila yang sudah menikah selama lima tahun tak kunjung diberi karunia seorang anak. Mama dulu sempat syok karena hamil anak kembar. Mama tak sanggup jika harus mengurus sendiri dua anak sekaligus. Mama tak yakin bisa memenuhi segala kebutuhan dua bayi sekaligus.
Kemudian, mama Mila dan ayah Rajendra dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi orang tua dari salah satu bayi kembar mama.”
Nura mengusap air mata yang meleleh di pipinya. “Mama memberikanmu pada ayah Rajendra dan Ibu Mila.”
Suasana hening, Ily juga sudah ikut masuk ke dalam suasana haru yang Nura ciptakan.
“Gravi anak kedua mama. Dan Halim, dia itu kakakmu yang lahir sepuluh menit lebih dulu dari kamu, Nak.”
Ily jadi mengerti alasan dari setiap kesabar dan ucapan lembut ibu Nura menghadapi Gravi. Semua sikap baik yang dilakukan ibu Nura pada Gravi, terasa lebih masuk akal sekarang. Bukan hanya karena wanita itu baik, melainkan karena memang dia adalah ibunya.
Disebrang Ily, Gravi menunduk sedalam-dalamnya. Merasa bersalahkah dia. Gravi memang selalu mengatakan kalimat kasar juga sinis pada ibu Nura.
“Hari itu papa keluar rumah memang untuk menjemput Mama Nura ke rumah, karena mama Mila ingin bertemu denganya. Papa menikah dengan mama Mila juga bukan karena keinginan papa sendiri. Itu keinginan almarhum Mama Mila. Mama Mila ingin, ada yang mengurus Gravi kecilnya,” ungkap Rajendra
“Kenapa papa enggak cerita?” Gravi ikut angkat bicara.
“Mamamu selalu mencegah papa mengatakannya. Tapi semalam, papa sudah tak tahan melihat sikap kurang ajar kamu itu.”
Gravi hanya terdiam, menunduk lagi. “Pa, Ma, Gravi minta maaf untuk semua sikap buruk Gravi. Gravi udah salah sangka selama ini.”
Di depan mata Ily, Gravi menghampiri ibunya bersujud di kaki ibu Nura.
“Peluk Mama, Gra. Peluk mama aja,” ujar Nura seraya berusaha untuk membangunkan putranya dari posisi bersimpuh.
Ketiganya saling berpelukan hangat. Ily tersenyum melihat itu, dia jadi teringat ayah dan ibunya sendiri di rumah. Air mata merembes, apakah ibu dan ayahnya sudah memaafkan Ily.
“Ily sini, kamu juga anak mama sama papa.”
Ily bangkit, menyambut ajakan ibu mertuanya. Kedua tangan Ily diletakkan pada bahu Gravi dan ibu Nura. Saling memeluk satu sama lain. Sepertinya secercah cahaya mulai tampak dalam perjalanan hubungannya dengan Gravi. Masa kelam mereka, sepertinya akan segera berakhir.
***
Dua minggu berlalu sejak rahasia terbongkar. Sekarang ini usia kehamilan Ily memasuki minggu ke 28. Sudah tujuh bulan. Tak banyak hal yang terjadi, semuanya berjalan dengan semestinya. Normal dan tanpa ada banyak masalah, juga tanpa kesedihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravihati
RomanceCowo baik tapi sialan. Pernah nemu jenis cowo kaya gini? Berarti kamu satu nasib sama Ily. Ily ini 18 tahun, baru lulus SMA, gagal kuliah, padahal udah lolos SBM tinggal go kampus aja. Sayangnya, tiba-tiba Gravi datang ingin bertanggung jawab atas k...
