Ily mengeluarkan semua isi perut pada mulut kloset. Beruntung di jam segini semua orang sudah berangkat untuk beraktivitas. Shinta juga sudah di teras. Ily mengusap lagi mulutnya dengan air, berkumur pelan. Rasa gejolak tadi datang lagi, membungkuk, kali ini yang keluar hanya saliva saja.
Menyusahkan. Satu kata itu, Ily selalu mengulanginya dalam hati. Rasa keinginana Ily untuk menyingkirka janin itu semakin memuncak. Ah, tapi masih saja terselip ragu di dalam hati. Sejak kemarin lusa, rencananya selalu tertunda.
Gadis itu menuangkan sedikit sabun cair pada gayung, menambah air dan mencampurkannya jadi satu. Harum senyawa basa itu merebak memenuhi rongga hidung. Satu langkah terahir yang harus Ily lakukan sebelum keluar kamar mandi agar bau muntahannya tidak tercium.
Oke, begini lebih baik. Ibunya akan menduga kalau dia baru saja selesai mandi. Mematikan kran air, Ily bergegas keluar. Mengayunkan kaki menuju kamar.
“Aku harus apa,” Ily mengusap pelan perut ratanya dari luar baju.
Di depan cermin, manik Ily mulai meneliti setiap jengkal tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Belum ada perubahan signifikan. Jika Ily memilih aborsi sekarang dan berhasil, maka usahanya tak akan sia-sia. Masalah selesai.
Diraihnya ponsel dari meja rias, mendudukkan diri di lantai. Kedua jempolnya luwes menari di atas layar pipih. Ily mulai mengetikkan sesuatu di mesin pencarian. Sekarang Ily harus tau semua info yang sempat membuat Ily takut. Gadis itu takut jika ia akan mundur setelah mengetahuinya.
Resiko Aborsi
1. Resiko Kompllikasi Aborsi
Setelah aborsi, wanita biasanya akan mengalami keluhan nyeri atau kram perut, mual, lemas, dan perdarahan ringan selama beberapa hari.
2. Perdarahan
Salah satu risiko yang sering terjadi setelah aborsi adalah perdarahan berat melalui vagina. Perdarahan berat juga lebih berisiko terjadi jika masih ada jaringan janin atau ari-ari yang tertinggal di dalam rahim setelah aborsi.
2. Infeksi
Infeksi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi akibat aborsi. Kondisi ini biasa ditandai dengan munculnya keputihan yang berbau, demam, dan nyeri yang hebat di area panggul.
3. Kerusakan Pada Rahim dan Vagina
Bila tidak dilakukan dengan benar, aborsi dapat menyebabkan kerusakan pada rahim dan vagina. Kerusakan ini dapat berupa lubang maupun luka berat pada dinding rahim, leher rahim, serta vagina.
4. Masalah Psikologis
Trauma psikologis juga dapat dirasakan oleh wanita yang menjalani aborsi. Perasaan bersalah, malu, stres, cemas, hingga depresi merupakan beberapa masalah psikologis yang banyak dialami oleh wanita setelah menjalani aborsi.
Risiko terjadinya komplikasi ini akan lebih besar jika aborsi dilakukan secara ilegal, dilakukan di fasilitas kesehatan yang kurang memadai, atau menggunakan metode tradisional yang tidak terjamin keamanannya.
Ily meletakkan ponselnya di lantai. Ia jadi teringat akan ucapan Nikya hari itu.
“Gue gak menyarankan lo untuk aborsi, Ly. Karena itu sakit banget. Selain itu aborsi juga membahayakan diri lo. Apalagi tempat yang gue tau ini ilegal. Gak berlisesnsi”
Jadi ini, bahaya yang Nikya maksud. Terlalu banyak resikonya. Ily memijat pangkal hidung, kembali melanjutkan membaca artikel tadi.
5. Kemungkinan untuk Kembali Hamil
Dalam waktu 4-6 minggu setelah aborsi, haid akan kembali seperti biasa. Dengan kata lain, pasien dapat hamil lagi setelah aborsi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravihati
RomanceCowo baik tapi sialan. Pernah nemu jenis cowo kaya gini? Berarti kamu satu nasib sama Ily. Ily ini 18 tahun, baru lulus SMA, gagal kuliah, padahal udah lolos SBM tinggal go kampus aja. Sayangnya, tiba-tiba Gravi datang ingin bertanggung jawab atas k...
