Part 32. Seoreun Dul

19 5 0
                                        

Hai sobat semua hari ini aku akan update 2 cerita ya. Ini cerita Dey puspakirana55 yang kemarin mergokin Ardi dan Fey berduaan. Kira-kira Dey cemburu gak ya🤭

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Part 32. Seoreun Dul
By: Puspa Kirana

“Dey! Tunggu, Dey!” Terdengar Hara berteriak.

Aku tak peduli. Dada ini serasa diremas-remas. Kenapa harus Kak Fey?! Bukannya Kak Fey kemarin bersama cowok mirip Cho Si Won itu? Ke mana dia sekarang?! Kenapa membiarkan Kak Fey berduaan dengan Kak Ardi? Atau Kak Fey lebih memilih Kak Ardi? Kenapa harus Kak Fey, sih?!

Hawa panas yang tiba-tiba muncul menyebar cepat di dada dan naik ke kepala. Ini tidak adil! Benar-benar tidak adil! Kak Fey selalu mendapatkan apa yang kuinginkan! Kemarin AD! Dan sekarang … aku tertegun. Apa aku menginginkan dia? Ah, kalaupun iya, sekarang sudah terlambat!

“Dey!” Genggaman tangan Hara membuaku tersentak. “Lo kenapa, sih? Tiba-tiba pergi gitu aja ninggalin gue. Katanya lapar.”

Aku menoleh ke arah Hara dan berkata pelan, “Gue mau balik ke kosan aja. Anterin gue ya, Ra.”

“Lah, terus makan siangnya gimana?” Kedua alis Hara menjauhi mata.

“Nanti di kosan aja.”

“Lo kenapa sih, Dey? Aneh banget, deh? Memang ada apa di restoran tadi? Lo kayak lihat hantu aja.”

Aku menggeleng dan mulai melangkah pelan menuju mobil Hara diparkir.

“Dey!”

Aku kembali menggeleng dan melirik ketika mendengar Hara mendengkus pelan, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Udara sepanjang perjalanan menuju indekos terasa gerah. Padahal pendingin mobil Hara disetel cukup rendah saat aku melirik angkanya. Lagu-lagu Stray Kids yang sepertinya sengaja diputar Hara tidak banyak membantu mendinginnya hati. Aku diam menatap lurus ke jalanan menembus kaca depan. Ramainya kendaraan yang tak beraturan seolah kompak dengan hati yang berantakan.

Begitu sampai di indekos, rasanya seperti tak menapak saat berjalan menuju kamar. Aku langsung duduk di ranjang, diam menatap gorden toska muda di hadapan.

“Dey.”

Aku menoleh. Kulihat senyum Hara saat menyodorkan segelas milo dingin. Aku menerima gelas itu tanpa membalas senyumnya.

“Lo mau makan apa?”

Aku melirik Hara yang duduk di sebelah dan sedang membuka aplikasi ojek online. Aku tak menjawab malah menyesap milo dingin. Tegukan pertama segera mengurangi panasnya tenggorokan. Cairan dingin dan manis itu mengalir melewati dada dan memadamkan sebagian bola api yang tadi sempat berpijar.

“Gado-gado atau ayam goreng?”

Aku menarik napas dalam. “Terserah, deh.” Rasanya tak berselera lagi untuk makan siang.

“Oke, gue pesankan gado-gado aja, ya.”

Aku tak menjawab.

“Dey.” Setelah beberapa waktu berkutat dengan ponselnya, Hara mengusap-usap lenganku. “Gue enggak tahu apa yang lo lihat di restoran itu. Terus terang gue penasaran. Tapi kalau lo belum mau cerita, enggak apa-apa. Asal lo tahu aja, gue siap kapan pun dengerin cerita lo. Gue Zuhur dulu, ya.”

* * *

“Lo yakin itu Pak Ardi sama kakak lo?” Hara membelalak.

“Mata gue masih normal, Ra.” Aku berusaha menahan agar suara ini tidak meninggi. Dinding kamar indekosku tidak kedap suara dan aku melihat sandal dan wedges Citra ada di rak penyimpanan alas kakinya. Berarti kemungkinan besar ia ada di kamar. “Terus apa coba maksud dia kemarin ngomong di parkiran basement? Ini hati, Ra!” Aku menunjuk dada. “Bukan permen yang gampang dilepeh kalau ternyata kita enggak suka rasanya!”

“Lo tadi enggak bilang gue sih pas lihat mereka. Kalau bilang, gue pasti deketin dan nyapa mereka. Terus nanya lagi ngapain berduaan di sana. Kalau ada apa-apa di antara mereka,  pasti salah tingkah. Apa lagi lihat lo ada di sana.”

“Ah, udahlah Ra. Gue udah enggak interest lagi. Baru dekat dikit, udah main cewek di belakang gue. Sama kakak gue lagi! Mungkin Tuhan lagi kasih tahu kalau dia bukan orang yang tepat buat gue.” Suaraku memelan di akhir kalimat. Tiba-tiba ada yang berkelebat. Apa aku perlu memberitahu Kak Fey kalau dia bukan cowok yang baik? Kak Fey bisa terluka untuk yang kedua kali. Namun, hati kecilku menolak. Itu bukan urusanmu lagi, Dey!

“Iya, bisa jadi. Tapi, jangan sedih terus kayak gitu dong, Dey. Gue jadi ikutan sedih lihatnya.”

Aku agak tersentak karena Hara memelukku, tetapi segera kubalas pelukan itu. Panas di dadaku makin mereda melihat tingkah teman baikku itu. “Iya. Kasih gue waktu semalam aja buat tenangin hati, ya Ra.”

“Beneran, ya. Semalam aja, jangan lama-lama! Besok gue enggak mau lihat Dey yang merengut seharian. Mood lo tuh kelihatan banget, tahu enggak?”

Aku mengurai pelukan. “Masa, sih Ra?”

Hara tertawa. “Banget! Lo bukan orang yang bisa pasang poker face.”

Aku tersenyum.

“Yeayy, that’s good! Lo udah bisa tersenyum selebar itu.” Hara bertepuk tangan dengan norak membuat senyumku makin lebar.

Tiba-tiba terdengar ponsel berbunyi. Aku bangkit dan mengambil ponsel dari meja kerja. Langsung kutolak dengan kesal begitu terbaca nama Kak Ardi melakukan WA call. Mau apa lagi, sih? Dua kali nada WA call kembali terdengar dari orang yang sama, dua kali pula aku menolaknya. Tak lama aku membaca pemberitahuan pesan masuk.

Lazuardi Dewandaru: Dey, ada apa?
Lazuardi Dewandaru: Kamu reject tiga kali WA call-ku.
Lazuardi Dewandaru: Kamu lagi di mana?
Lazuardi Dewandaru: Aku tugas ke Bandung lagi Senin besok.
Lazuardi Dewandaru: Bisa kita ketemu sebelum Senin?

“Siapa, Dey?”

Aku menoleh ke arah Hara dan balik bertanya, “Ra, boleh enggak gue nginep di rumah lo malam ini?”

* * *

Senin menjelang Magrib, aku memasukkan laptop sambil bersenandung lagu Levanter dari Stray Kids. Hampir seharian aku tidak melepas headphone yang sampai sekarang menempel di telinga. Dendangan lagu-lagu Stray Kids bisa mengalihkan perhatianku yang kadangkala masih berkelana ke peristiwa Sabtu kemarin. Walaupun aku berusaha mengabaikan peristiwa tersebut dengan fokus kepada pekerjaan dan Kireina, tetapi hati belum mau sepenuhnya menuruti keinginan itu.

I wanna be myself (I don't care)
Ajik natseolda haedo (Just don't care)
Neol beoseonan sungan naega boyeo
Modeun ge da, nunapi da
Ijeneun algesseo (Now I know)
Naege pillyohaetdeon geon naran geol
Nae du bari ganeun daero georeoga
I feel the light, I feel the light

Tiba-tiba lagu Levanter mengecil dan menghilang ketika nada WA call terdengar. Aku mendecak dan membiarkan nada itu berhenti sendiri. Lagu Levanter terdengar lagi. Namun, tak lama kembali mengecil. WA call itu lagi! Aku sudah menduga, jadi kubiarkan seperti tadi. Aku menunggu sejenak karena biasanya ia melakukan WA call tiga kali berturut-turut sebelum mengirimkan pesan. Namun, kali ini tidak kudengar lagi. Aku menaikkan kedua alis sejenak sebelum kembali merapikan meja kerjaku.

Satu tepukan di bahu membuatku terlonjak dan menoleh. Helen menyodorkan ponselnya kepadaku. Aku mengerutkan kening sambil menjauhkan satu head phone, mulutku mengucap “Apa?” tanpa suara.

“Boco kita.” Mulut Helen mengucap tanpa suara juga dengan senyum menggoda.

Aku menggeleng kencang sambil mengucap tanpa suara, “Bilangin gue udah pulang.” Aku menatap Helen memohon, “Please.” Tetap tanpa suara.

Helen mengerutkan kening, tetapi akhirnya ia mendekatkan ponselnya ke telinga. “Maaf, Pak. Baru aja Dey pulang.”

Aku menarik napas lega dan segera mencangklongkan tote bag sebelum melangkah keluar kubikel.

* * *

Hihi Dey cemburu ternyata🤭 Dey makanya kasih kepastian sama Ardi dong🤭

Areumdaun DuoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang