Hai
Andaikan Anya tidak bego, pastilah banyak orang yang mau berteman dengannya
Andaikan saja.
| Surat Pengunduran Diri (2) |
"Anya," panggil Bu Soliman setelah duduk di kursi guru dan menatap Anya yang sedang sibuk mencari tutup kotak makan di dalam tas.
Anya langsung menoleh ke Bu Soliman. "Kenapa, Bu? Iya, Bu, iya. Saya janji enggak bakal bawa laba-laba lagi."
Bu Soliman menggeleng, bukan itu maksudnya memanggil Anya. "Iya, saya percaya."
Anya mengernyit. "Lah? Terus kenapa, Bu?"
"Nama kamu kepanjangan, bisa disingkat enggak?"
"Memangnya buat apa, Bu?"
"Mau saya masukin daftar 'anak terduebes' di buku map, tetapi nama kamu enggak cukup di kolom."
Anya langsung melebarkan mata ketika namanya akan masuk ke daftar Anak Terdeubes karena daftar itu khusus untuk anak-anak nakal, kurang ajar, tengil, dan nantinya sebagai pengurang nilai pelajaran.
Tentu saja tidak ada yang mau masuk ke daftar itu, bisa-bisa nilai bahasa Indonesia-nya berwarna merah semua di buku penilaian.
"Lah? Jangan dong, Bu. Saya janji enggak bakal ngulangin lagi kok," mohon Anya sambil memasang wajah semelas mungkin ditambah puppy eyes, berharap Bu Soliman luluh seketika.
"Enggak! Nama kamu sudah saya tulis," tekan Bu Soliman, dia menunduk. "Saya tulis nama kamu jadi : ANYA di buku map ini." Wajah Bu Soliman sangat datar menatap Anya.
"Yaaah, saya enggak bisa pamer dapet nilai bagus ke Kempot lagi dong hari ini," keluh Anya kecewa. Kenapa sangat tidak adil? Ini pasti karena si Ocop dan Ocap bergelut tadi. Mata Anya menatap murka pada dua laba-laba di dalam kotak makan tersebut.
"Baiklah. Kita mulai belajar hari ini." Bu Soliman membuka buku paket bahasa Indonesia diikuti oleh murid-muridnya.
"Anya," panggil Maya sambil membuka halaman buku paket.
Anya bergumam dengan lesu sambil membuka halaman buku.
"Kau hebat lho."
"Kau muji apa ngehina, nih?" Anya menatap Maya jengkel.
"Eh, emm, dua-duanya, he he he." Maya menampakkan deretan giginya yang kuning, tapi tersusun rapih dan bagus.
"Ck! Emang hebatnya di mana? Orang dapet nilai merah kok."
"Ya, hebatlah karena baru kau yang terdaftar sebagai 'anak terdeubes' di semester ini."
Anya yang tadinya terpuruk dan tidak mood langsung menoleh ke Maya dengan energy 100 persen dan tersenyum lebar. "Iya-ya! Hebat juga aku, baru aku lho yang terdaftar," kata Anya takjub dengan dirinya sambil menggeleng kecil.
"Mantap, Nya." Kedua jempol tangan teracung di depan wajah Anya, Maya tersenyum lebar. Ternyata mengembalikan mood seorang Anya emang gampang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kapan Sah? [ END ]
Jugendliteratur(Proses Revisi) Genre : romance - comedy FOLLOW SEBELUM BACA :V Blurb: Ini hanyalah sebuah fiksi remaja yang disajikan dengan berbagai bumbu cerita. Ada canda dan ada sedikit duka. Ada keunikan dan dilema. Apalagi kisah si polos yang mencoba berba...
![Kapan Sah? [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/247549453-64-k596022.jpg)