Bocil is the Gombal

120 27 25
                                        

~❤~

Hai😂 yang vote dan komen di bab sebelumnya, terima kasih, ditunggu vote dan komennya lagi, ya😁 aku jadi semangat, xixi.

Yaudahlah, happy reading❤  

| Bocil is the Gombal |

Sore yang tampak cerah itu, keributan di rumah Anya gara-gara seekor tikus yang bernama Lulu membuat tetangga risau. Maka dari itu, tetangga-tetangga berdatangan dan berteriak di halaman depan rumah Anya.

"KAMI INGIN KETENANGAN!"

"KAMI INGIN TIDAK ADA KERIBUTAN!"

"KAMI INGIN KEADILAN!"

"KAMI INGIN KELUARGA SARMINAH PINDAH!"

"YA!"

"BENAR!"

"USIR SARMINAH DAN KELUARGANYA!"

"USIR!"

"USIR SEKARANG JUGA!"

"USIR!"

"AYO USIR!"

"USIR!"

Begitulah teriakan-teriakan demo para tetangga yang merasa dirugikan. Sarminah dan Anya yang berada di dapur seketika terkejut ketika mendengar mereka akan diusir.

Sarminah tidak terima. Dia sudah susah payah mempertahankan rumah ini dan dengan seenaknya mereka mengusirnya? Huh! Tidak semudah itu tetangga!

Sarminah berjalan dengan langkah lebar juga asap yang keluar dari otaknya. Anya yang tidak tahu apa yang terjadi pun hanya mengekori emaknya. Anya takut saja bila emaknya marah pada tetangga dan terjadilah perang dunia ke-100.

Brak!

Para tetangga langsung terdiam kala pintu dibuka dari dalam secara kasar hingga menimbulkan suara keras. Di ambang pintu berdiri seorang wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah Sarminah.

Anya bersembunyi di balik badan emaknya. Dia mengintip ke depan dan mendapati banyak orang. Kali ini bukan pacar-pacar Anya.

"Ngapain kalian teriakan-teriak di rumah saya?!" bentak Sarminah dengan menatap tajam para tetangganya.

Para tetangga saling senggol-menyenggol karena takut menjawab pada Sarminah yang seperti benteng betina. Mereka saling pandang dan berbisik-bisik.

"Kami 'kan bukan tukang warung yang naikin harga sembako, kok pada demo?" tanya Anya dengan menengokkan kepalanya.

Salah satu tetangganya maju, dia menantang mata Sarminah sambil berkacak pinggang. "Pipi bubu caca ugu aga agi gu gu! Cacacaa! Pipipu agi gu! Ga ga ga! Gu gi ga! Caca aaca nehi nehi! Ugu aga!" teriak seorang itu sambil menunjuk-nunjuk ke Sarminah dengan tangan mungilnya.

Keberanian si bocil emang patut diacungi jempol gorilla. Sarminah sedikit membungkukkan badan di depan anak laki-laki itu sampai kepala mereka sejajar. Suara anak laki-laki itu semakin kecil ketika mendapati pelototan dari Sarminah.

Kapan Sah? [ END ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang