Kakak Reyhan telah keluar dari sana. Wajahnya tampak kusam dan lesu. Sepertinya, ada hal yang tidak baik yang akan disampaikan.
"Bagaimana kak keadaan Zueny?" tanya Jihan khawatir.
"Zueny benar-benar harus istirahat total dan di bawah pengawasan saya. Keadaanya sekarang, sama seperti yang pernah di alami dulu. Bahkan lebih parah." jelasnya.
Jihan bertambah prihatin pada Zueny. Bahkan ia merasa dadanya semakin sesak. Dengan sigap, Reiko memeluknya untuk menenangkan. Ia tahu betul, rasanya di posisi gadisnya itu.
"Tapi, bisa kami kunjungi kan?" tanya Reiko. Perempuan yang berprofesi sebagai psikolog tersebut mengangguk.
Karena merasa mendapat persetujuan, mereka berlima segera masuk ke dalam. Terlihat di sana, ada Reyhan yang memeluk dan menenangkan Zueny.
Davian hanya menatap mereka datar.
Sedangkan yang lain? Tentunya sedikit syok. Tapi berusaha memaklumi, toh di sekolah Reyhan dan Zueny memang terlihat dekat.
Lelaki yang merasa paling mempesona itu melangkah menuju pinggiran kasur milik Zueny dengan penuh percaya diri. Lalu dengan sigap, melepaskan pelukan kedua insan itu dan memindahkan pelukan Zueny padanya.
Bahkan ia dengan sengaja menyenggol badan Reyhan agar menyingkir. Ia tak suka, bila Zueny akan bergantung pada orang lain. Ia harus memastikan, kalau Zueny hanya bisa bergantung, berlindung, bahkan menyukainya.
Reyhan yang diperlakukan seperti itu benar-benar ingin marah. Tapi ia sangat tahu situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Bila ia bertengkar dengan Davian, gadis itu akan semakin takut dan tertekan.
Ia memilih mengalah dan berpamitan untuk pergi dari sana. Davian tersenyum miring, karena orang itu sudah menyingkir. Setelah itu, yang lainnya ikut berkumpul dipinggiran kasur Zueny.
Mereka berusaha menghiburnya dengan segala cara. Mulai dari bercerita, membuat lelucon, bahkan membahas hal-hal kesukaan Zueny seperti tokoh-tokoh novel ternama. Ya, walaupun para kaum lelaki sedikit tidak paham.
Namun, setidaknya Zueny sudah mau menatap mereka. Walaupun, pandangannya masih sendu dan kosong. Tapi setidaknya, Zueny sudah berhenti untuk menyakiti kedua tangannya yang sebelumnya ia remas hingga menimbulkan goresan.
Kini, giliran Davian yang memberikan cerita untuk Zueny. "Zu, lo tahu nggak? Gue tuh, punya ibu yang super cerewet dan nyebelin. Masa setiap hari, gue di suruh ke rumah orang yang paling gue benci. Padahal kan gue nggak punya masalah, tapi kenapa gue tetep di suruh ke sana? Kalau nggak mau, ibu gue bakal ngomel-ngomel panjang lebar lah, sampai telinga gue sakit. Tapi, lo tahu nggak? Walaupun ibu gue sering banget ngomelin gue, tapi gue tetep sayang. Karena ibu gue habis ngomel pasti meluk gue pas gue tidur. Ah, ini hari ibu kan? Aduh, gue lupa mau ngasih kado!" ceplosnya panjang lebar.
Aduh, Davian pe'a!
Keempat temannya langsung menatap tajam Davian. Mendadak suasana jadi tegang. Bahkan, Davian juga bisa merasakan badan Zueny tegang.
Jihan dengan segera mengalihkan pembicaraan, "Zu, jalan-jalan ke taman yuk! Cuacanya lagi mendukung nih. Gue pengen lihat tanaman lo apa aja, hehehe ..."
Gadis yang berada di pelukan Davian masih terdiam. Lalu berkata lirih yang menyayat hati, "Bagaimana ... rasanya dipeluk ibu?"
"Seperti ketika kamu meluk saya Zueny," ujar kakak Reyhan yang tiba-tiba masuk.
Dokter itu menyuruh Davian untuk menyingkir sebentar. Lalu memeluk tubuh gempal Zueny yang masih lemas dan mengusap-usap kepalanya. Kakak Reyhan terus meyakinkan bahwa rasa pelukan seorang ibu sama dengan pelukan yang kini dirasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAZZLE [COMPLETED]
Teen FictionDavian Marven, lelaki dengan ketampanan dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia yang biasa di puji para kaum hawa hingga banyak yang ingin memiliki. Namun, ketika ia bertemu dengan perempuan gendut, jelek, pendiam, penyuka tokoh fiksi beserta novelnya...
![DAZZLE [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/224058241-64-k94605.jpg)