Hai aku kembali dan Happy New years....
kita lanjut yaaaaa....
***
Al ikut masuk ke bangku depan, "Dik, gue titip barang gue ya? Nanti suruhan gue yang ambil di bandara" ucap Al pada telpon genggamnya. Yuki terlalu lelah untuk mencegah apa yg dilakukan Al, kini dia gak peduli dengan apa pun. Yuki hany sedang menguatkan hatinya untuk tidak terjatuh lebih dalam. Jessy menggenggam tangan Yuki dengan erat, Yuki memaksakan senyuman dan bibirnya. Kemudian ia sekilas melihat ke depan dan melihat dari arah kaca spion Al sedang memperhatikannya. Tanpa sadar Yuki kini terkunci dalam tatapannya.
***
Dalam perjalanan tak ada yang membuka suara sampai mobil yang mereka kendarai telah sampai di tujuannya. Yuki masih dengan tatapan yang kosong, sampai ia tersadar ketika pintu mobil disampingnya terbuka menampilkan orang yang sedari tadi ia sadari tak melepaskan tatapannya pada dirinya.
"Ayo keluar" ucap Al, tanpa banyak kata Yuki seolah mengikuti apa yang Al ucapkan. Kemudian Al membawa barang bawaan Yuki dan Jessy dari bagasi. Ketika Yuki akan mengambil kopernya, bukan koper yang ia raih tapi sebuah tangan yang kini menggenggam tangannya. Yuki sontak terkejut dan menarik tangannya, namun genggaman itu tak mengikuti permintaan Yuki. Yuki menatap Al, "Buat kali ini loe gak boleh lepasin tangan gue" ucap Al dengan tatapan yang dalam pada Yuki. Yuki menoleh kearah Jessy yang kini sedang tersenyum, melihat Yuki dan Al meski sepertinya Jessy bingung harus merespon seperti apa.
Al menuntun Yuki memasuki bandara dan menuju pintu masuk. Jessy berada di depan dengan paspor Yuki dan Jessy. Ketika sampai ke pintu ada beberapa orang yang menghampiri Al, "pesawatnya sudah siap" ucap salah satu orang yang menghampiri. "Tolong urus pembatalan tiket mereka" ucap Al kemudian membawa Yuki memasuki pintu tanpa pengecekan tiket dan paspor. Yuki yang bingung menoleh ke Jessy yang masih diam tanpa kata dan langsung mengejar Yuki setelah tersadar.
"Kita mau naik pesawat yang mana?" Ucap Yuki karena tak bisa menahan penasarannya. "Kamu ikutin aja" ucap Al. Yuki tak melihat ke sekitar hanya menatap tangannya yang digenggam dan dituntun kemana pun Al melangkah. Yuki hanya mengikuti langkah Al yang terbilang pelan, mungkin ia menyesuaikan langkah ya dengan Yuki, dan bayangan Yuki teringat ketika ia berjalan dengan Dimas. Yuki yang selalu mengikuti langkah Dimas, dan itu sudah terbiasa. Tapi kali ini ia tak perlu terburu-buru untuk berjalan dan tak perlu takut tertinggal. "Apa yang gue pikirin? Kenapa gue ngebandingin keduanya?" Batin Yuki seraya menggeleng-geleng kepalanya.
Al menghentikan langkahnya dan dihadapannya sebuah pesawat pribadi dengan orang-orang yang sepertinya siap melayani mereka. Al menoleh ke Yuki, "Yuk masuk" ucap Al. Yuki hanya mengikutinya dan Jessy masih terlihat terkagum kagum. Al duduk berhadapan dnegan kursi Yuki, sedangkan Jessy duduk di kursi sisi yang lain. "Aku harap kalian menikmati perjalanannya. Istirahatlah" ucap Al pada Jessy dengan akhirnya menatap Yuki. Yuki hanya tersenyum, entah apa yang harus ia ungkapkan. Hanya saja, ini sepertinya lebih baik untuk kondisi hatinya saat ini.
Jessy sudah mulai terlelap dalam tidurnya, Yuki hanya menatap keluar jendela. Al entah sekarang dimana, ia tadi pamit ke suatu tempat. Yuki mengingat apa yang ia alami tadi, perasaanya sakit. Yuki menyayangi Dimas, ia terlanjur merasa nyaman disamping Dimas. Apalagi kegigihan Dimas mendekatinya. Tanpa terasa air matanya kini keluar lagi, buru-buru Yuki menghapusnya. Dan ada sebuah tisu terulur padanya. Yuki menatap arah ulurannya dan Al kini sedang memandangnya.
"Hapus" ucap Al seraya menyodorkan tisu pada Yuki, dan Yuki mengambil tisunya lalu menyeka air matanya, "aku ga suka lihat kamu nangis karena orang lain" lanjutnya. Yuki merasa ini harus diluruskan, "Al, ada yang ingin aku jelaskan. Sebenarnya..." Ucapan Yuki terputus, "Kamu ga perlu jelasin apapun jika itu sulit. Aku akan diam sampai kamu siap menjelaskan semuanya sama aku dari awal" ucap Al, "kenapa kamu lakuin ini?" Tanya Yuki. "Sejak dulu, saat kamu kirim pesan itu dan esok harinya kamu menghilang. Aku memegang janji itu tanpa mencari tahu apa pun yang sebenarnya terjadi. Tapi aku berharap kamu selalu baik-baik saja dan bahagia" ucap Al , Yuki mendengarkan dengan seksama "sampai akhirnya aku ketemu kamu di kampus, jujur aku bahagia. Tapi melihat kamu menatapku dengan tatapan yang sama, sama seperti tatapan sebelum kamu mau membuka diri kamu. Aku mengurungkan niatku. Dan aku gak tahu kalau akhirnya Dimas, sahabatku menyukaimu dan dia meminta bantuan ku untuk mengenalmu lewat temen-temen. Dan saat kamu menerima Dimas, ada pandangan yang sama seperti saat itu, namun rasanya berbeda. Sejak saat itu, aku berjanji pada diri sendiri untuk hanya akan menjagamu dalam diam" jelas Al seraya menatap Yuki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
Fanfictionsetiap kehidupan itu punya iramanya sendiri, dan memiliki komposisi nada yang berpareasi. begitupun ketika nada itu mampu membuat dua hati menemukan benang merah yang terhubung dal kehidupannya.. tentang dia, tentang nada dan irama dari sebuah kisah...
