oke kita lanjut ya, mumpung lagi kena benang merah nih....
***
"Aku di Lombok, mengingat perkataan kamu tadi. Aku bingung untuk ada ditempat yang sama dengan kamu. Semua yang aku bangun seketika runtuh saat lihat kamu berdiri di depan aku dengan suara kamu terdengar dalam lagu itu. Aku harus apa? Mengabaikan kamu yang nyatanya aku rindukan, atau aku harus berusaha merebut kamu dari sahabatku? Karena aku merasa kamu masih memiliki perasaan yang sama seperti saat itu. Kalau saja kamu tak ada malam itu, mungkin sampai saat ini aku masih bisa mempertahankan dinding yang aku bangun untuk melindungi perasaan ini dan bisa berada ditempat yang sama dengan mensyukuri bahwa kamu dalam keadaan yang baik-baik saja, dan bahagia"
Isi pesan yang kini memberikan hantaman baru pada hatinya, Yuki bingung harus apa. Yuki tau kalau ini pesan dari Al, dan Yuki gak tau Al punya nomornya dari siapa. Satu hal yang Yuki sesali adalah Yuki tak bisa menahan dirinya pada malam itu.
"Aku harus apa?" Lirih Yuki
***
Setelah mendapat pesan itu, Yuki hanya terduduk diam. "Apa yang harus aku lakukan? kenapa aku bisa kaya gini? kenapa tiba-tiba kaya gini? kenapa aku gak bisa bilang apa-apa? kenapa aku hanya bisa diam? Ada apa dengan aku?" resah Yuki. Yuki mendekap dirinya, seharusnya ia merasa senang dengan ia tahu kebenarannya bahwa orang yang selama ini ia cari sudah ketemu,orang yang berarti untuk saudaranya itu. Tapi nyatanya ia bingung ketika orang tersebut adalah orang yang berada disekitarnya. Dan melihat reaksinya kemarin membuat ia semakin cemas. Entah apa yang kini ia rasakan. Bahkan kini lagu yang selalu ia putar dalam keadaan gelisah tak lagi bisa membuat ia tenang. Yang ada Yuki makin mengingat tatapan Al, Yuki makin memejamkan matanya.
Satu dekapan menghentakkan pikirannya, secara spontan Yuki berteriak. "Sayang, ini aku!" Ucap Dimas seraya memeluk Yuki. Yuki membuka matanya, ia melihat Dimas menatapnya dengan cemas. Yuki menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Dimas, ia tak ingin Dimas makin jelas melihat kegelisahan dalam matanya. Dimas hanya memeluk Yuki tanpa berkata apa pun.
"Ada apa Kuy?" Tanya Jessy yang datang bersama beberapa orang yang tak Yuki lihat, karena ia masih dalam dekapan Dimas. "Gue gak tau Jess, pas gue sentuh dia malah teriak" Ucap Dimas, "sebenernya ada apa? apa yang terjadi disana?" tanya Dimas pada Jessy. Yuki tahu kalau Jessy bingung menjawabnya, Yuki menarik nafas panjang dan melepaskan pelukannya "Aku gak apa-apa, tadi aku mimpi. Dan pas aku bangun aku merasa asing disini. Jadi pas aku menenangkan pikiranku kamu dateng dan tiba-tiba peluk aku, jelas aku kaget" Ucap Yuki dengan setenang mungkin, kemudian ia melirik kearah Jessy. Dan Jessy tersenyum, sepertinya ia paham dengan tatapan Yuki.
"Kamu bikin aku takut" Ucap Dimas lega, "maaf!' ucap Yuki dengan nada yang lembut. "Maaf ya, Ngga!" ucap Yuki karena ia melihat Angga dan Jasmine juga ikut masuk dengan Jessy. Yuki merasa pegangan Dimas sedikit lebih kuat, seperti menginginkan kekuatan lebih. Yuki mengelus dadanya Dimas dan tersenyum padanya. "Aku lapar?" Ucap Yuki dan Dimas menganggukinya, "Aku dah siapin makanan buat kamu. Kita keluar ya?" Ucap Dimas dan Yuki merangkul pinggang Dimas dan tersenyum. Mereka semua keluar dari kamar Yuki menuju ruang makan yang sepi. Hanya terdengar suara anak-anak yang lain dari arah halaman belakang, Yuki duduk di kursi yang disediakan Dimas. Jessy ikut bergabung karena tadi emang nunggu Yuki.
"Loe makan aja dulu ya, Yuk. Gue gabung ke anak-anak dulu" Ucap Angga, "maksih ya" ucap Yuki dan seraya tersenyum pada Jasmine. Namun Yuki melihat sikap yang acuh tak acuh dari Jasmine meski ada senyum yang dipaksakan. "Dia kenapa ya? kaya ga suka sama aku" Batin Yuki. Jessy menggenggam tangan Yuki, ia paham semua perubahan tingkah Yuki sekecil apa pun. Yuki tersenyum dan menganggukan kepalanya menandakan bahwa ia tak apa-apa.
Yuki dan Jessy menikmati makanannya, dan Dimas menemani mereka dengan sesekali menceritakan tingkah anak-anak kemarin. "Itu seru tuh, malem main lagi dong!" Ucap Jessy. "Boleh aja seh, emang anak-anak malem pengen adain party di kolam renang. kayanya sekarang mereka lagi nyusun acaranya deh" Ucap Dimas, Jessy bersorak "wah bakal seru neh" antusias Jessy. Yuki hanya menyimak obrolan keduanya sampai sebuah suara menghentikan aktifitasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
Fiksi Penggemarsetiap kehidupan itu punya iramanya sendiri, dan memiliki komposisi nada yang berpareasi. begitupun ketika nada itu mampu membuat dua hati menemukan benang merah yang terhubung dal kehidupannya.. tentang dia, tentang nada dan irama dari sebuah kisah...
