Dua Puluh (Dari Hati)

299 51 23
                                        

aku kembali,

adakah yang menunggu aku??

maaf ya lama? sebenarnya kemarin mau aku post, ternyata malah ketiduran hahahahha..

dan maaf atas kekonsistenan aku yang amburadul.. dan terimakasih atas semua dukungan kalian pada ku...

oke,, langsung aja kita next bacanya,, monggoooo

***

"Yang jelas Yuki pastinya bahagia punya kalian saat ini" Ucap Jessy.

***

"Gue gak cukup yakin Yuki merasakan hal itu. Loe gak perlu ngehibur kita" Ucap Dimas. Jessy menegakkan badannya, "Udah deh gak usah pada melow, kalau kalian kaya gini, gue sama Yuki harus gimana?" tanya Jessy. Angga dan Dimas tersenyum melihat Jessy yang bisa semenggemaskan itu.

"Gue akan siap ngelindungin loe" Ucap Angga mendahului Dimas, "gak usah kemakan sama gombalan Angga, dia modus" Sela Dimas. Jessy hanya menggelengkan kepalanya, setelah Yuki kini ada Dimas dan Angga yang doyan banget menggodanya. Dimas teringat dengan sesatu, "Jess, gue boleh nanya sesuatu?" Jessy mengerutkan keningnya "Ada apa?" tanya Jessy. "Kenapa sistem loe bisa serapih ini? Loe mata-mata FBI? atau Loe anggota badan intelegensi mana?" Dimas menyimpan pertanyaan ini cukup lama.

"Loe jangan pada kaget ya!" Jessy mengingatkan, Angga dan Dimas yang terlihat menganggukan kepalanya dengan semangat, "Gue anggota salah satu Intelegensi handal di USA, gue dapet pelatihan yang khusus. Tapi gue keluar saat tahu apa yang terjadi sama Azzura dan nyokap gue" Jelas Jessy, Dimas dan Angga bertepuk tangan kagum dengan apa yang baru mereka dengar, "Biasa aja kali gak usah se-wow gitu, lagian gue belum apa-apa sama seseorang yang dengan otodidak mempelajari apa yang gue pelajari di badan Intelgensi itu. Bahkan, dia satu-satunya yang bisa meretas gue dan mengunci gue untuk tidak masuk kedalam akun dia" Ucap Jessy, sebenarnya Jessy merasa kesal. Karena dipastikan Yuki pasti akan menyimpan rahasia yang ga bisa ia buka sama sekali.

Al yang penasaran dengan cerita Jessy lebih dulu bertanya, "Siapa?" Jessy menatap AL. "Orang yang ada dalam hati kalian bertiga" Ucap Jessy, "Yuki?" tanya Dimas dan Angga serempak. Jessy sedikit kecewa, perasaan dua cowok ini bilang akan berjuang buat dirinya. Tapi dengan cepat menebak Yuki dan menyebut nama Yuki "Iya" singkat Jessy. "Wow" respon Keduanya tanpa sadar perubahan mimik muka Jessy.

"Loe berdua gak peka banget seh?" ucap Al tetiba, Angga dan Dimas heran menatap AL "katanya mau dapetin Jessy, masih tetep gak move on dari Yuki" Al menyadarkan mereka. Dimas dan Angga langsung menatap Jessy, "Maklumin ya" ucap Dimas sedikit merayu. Jessy geleng-geleng melihat tingkah keduanya yang terlihat absurd buat Jessy. Ia pun meninggalkan Dimas, Angga dan Al.

***

Sepeninggalan Jessy, mereka bertiga berubah serius. "Kalau gitu, kita gak bisa diem aja. Kita harus pecahkan apa yang jadi permasalahan Yuki dan Nyokap Angga" Ucap AL, "Gue setuju, tapi kita mulai dengan apa?" tanya Dimas. Angga merasa tak nyaman dengan apa yang akan dilakukan, karena Mamanya lah yang jadi pusat penyelidikan ini. Al mendekat kearah Angga, ia paham apa yang dirasakan Angga. "Gue tahu ini berat buat loe. Loe bisa mundur dan tetep diam dengan masalah ini" Ucapan Al membuat Angga sedikit merasa tenang.

"Kalau gue gak ikut penyelidikan nyokap gue, gak apa-apa kan? gue akan urus bagian Jasmine" ucap Angga. "Boleh aja seh, toh sama-sama punya peran penting" Setuju Dimas. "Oke kalau gitu, kita mulai penyelidikan itu besok, gimana?" tanya Al. Dimas dan Angga menyetujuinya.

Angga ingat sama pertanyaan yang belum dijawab Dimas, "Dim, loe lom jawab pertanyaan gue yang di Rumah sakit" Tagih Angga, "Ah loe, kirain dah lupa" ucap Dimas. "Emang loe berharap kita gak nanya lagi?" tanya Angga, Dimas mengangkat bahunya sekali "Ya loe berdua bisa tebak. Apalagi loe AL, Loe pasti tahu kan semua tentang gue?" Ucap Dimas. Angga langsung menghadap kearah AL, orang yang kini ditatap Angga pun menghela nafasnya "Dimas ini pewaris salah satu Yayasan Rumah sakit ternama di Indonesia. Dan otomatis membawahi semua Rumah Sakit yang bernaung dibawahnya. Dan dia kan calon dokter" jelas AL. 

MelodyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang