Hari jum'at neh hehehe..
nyok ah di lanjut aja, kalau publish nya ngaret maaf ya, soalnya baru selesei editnya neh,, hehehe..
lanjutin ke Uwuwan nya atau lanjut tuntasin masalah neh?? hehhehe
gimana kalau langsung baca aja ? hahahahaha...
monggo dilanjuttt....!!
Kata-kata diatas adalah awalnya,, eh malah ketiduran jadinya lupa hahhaha... terus pas sabtunya aku di vaksin eh efeknya bikin ngantuk. gak ada daya upaya untuk proses editnya ahhahahahha... maafkan ya guys,,,
Dan tadi tuh aku ada acara dirumah, curhat bentar hehehe dilema jadi anak perempuan satu-satunya dan mungkin jadi serba "Hassssss" gitu hahahhaha... jadi baru bisa UP sekarang dh... hihiiihi
sekarang mah monggo dilanjut yoooo.... kalau masih bnayak Tyfo haraf dimaklum dan dimaafkan..
***
Al dan Yuki menikmati keheningan malam dengan segelas Hot Chocolate seraya menatap langit yang seolah ingin ikut memberikan keindahan pada malam ini dengan menampilkan kecerahan dan bertabur bintang. Al mengalihkan matanya pada Yuki, "Aku akan menunggu kamu untuk mengatakan "Iya" padaku, karena kamu Yuki yang aku cintai dan Melody yang menjadi kehidupanku" batin Al.
***
Yuki menaruh gelasnya yang sudah tak berisi, ia membenarkan letak selimbut yang diberikan AL padanya, Yuki sadar jika Al masih memperhatikannya. Yuki melihat Al tak bergerak sedikit pun, mungkin kini wajah Yuki mulai memerah. Yuki pun memberanikan diri untuk tidak terlalu larut dalam tatapan AL, "Muka aku aneh ya?" tanya Yuki seraya menatap AL, bukannya menjawab pertanyaan Yuki, Al malah terlihat salah tingkah mengetahui Yuki memergokinya menatap Yuki sedari tadi. "Al?" Yuki masih menunggu jawaban Al, "Enggak kok. Cuma wajah kamu kaya ada magnetnya. Gak bisa ngelepas tatapan mataku" lancar banget ya Al mengatakan itu, Kini Yuki yang mulai tersipu.
"Al" panggil Yuki, "Iya" jawab AL cepat. Yuki menyandarkan badannya dengan selimbut yang menyelimuti tubuhnya, "kamu pasti udah tahu apa yang jadi rahasiaku selama ini?" tanya Yuki, Al sedikit berpikir untuk maksud yang ditanyakan Yuki, "kamu kan termasuk orang yang teliti, kamu pasti sudah lihat apa yang ada dikamarku. Atau mungkin kamu sudah menemukan jawabannya dari Jessy" lanjut Yuki, AL menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. AL tahu kearah mana pembicaraan Yuki, "Jika ini tentang "Melody", Ya aku sudah tahu. Apalagi setelah aku mendengarkan apa yang sedang kamu buat. Dan kalau aku ingat lagi, melody yang kamu senandungkan di UKS sekolah kita dulu, ada ciri khas "Melody" didalamnya. Tapi aku tak menyadarinya. Tapi seingat aku, karena hal itu aku mulai makin menyukai kamu dan musik" Jelas Al. Jujur, Yuki senang mendengar jawaban Al. "Sekarang, kamu lebih ngeliat aku siapa?" tanya Yuki lagi, AL menundukkan kepalanya "sejujurnya aku masih ragu, karena nyatanya aku tak mengenal sosok Yuki dengan sangat dalam. Terbukti jika aku tak bisa menangkap sosok yang lain dalam Yuki yang aku temui. Tapi ketika aku mendengar semua karyamu, meski dibawakan oleh orang lain aku mampu menebak jika itu ciptaan Melody. Tapi, yang aku bahagia saat ini adalah jika kedua sosok itu adalah satu" Al mengungkapkan semuanya, ia tak ingin menutupi lagi perasaannya.
Yuki terdiam, ada kehangatan yang menjalar dalam hatinya. "Kamu tak kecewa karena selama ini kamu seperti dipermainkan?" Yuki tak ingin menyisakan rasa penasarannya, "awalnya iya. Aku seperti terlihat bodoh mengejar Melody yang nyatanya ada didekat aku sejak awal. Tapi setelah aku pikir lagi, mungkin itu jg kesalahan aku yang tak cukup baik mengenal kamu" Jawab AL.
Sepertinya Yuki sudah cukup mendengar jawaban dari Al. Yuki beranjak dari kursinya namun Al menahannya, "boleh kamu tetap disini sebentar lagi?" tanya AL, Yuki menimbang "mungkin ini saat terakhir ia bisa bersama Al. Setelah nanti ia harus meninggalkan semuanya" Yuki bergumam dalam hatinya. Yuki kemudian duduk kembali ditempat semulas, AL dengan sigap menyelimbuti Yuki lagi. "Kamu gak dingin?" tanya Yuki, Al menggelengkan kepalanya "hati aku hangat ada kamu" ucapnya, "Apakah semua yang biasa membuat lagu selalu menggombal seperti ini?" tanya Yuki, Al menaikan satu alisnya "entah untuk yang lain, tapi untuk aku hanya pada seseorang yang aku sayangi. Aku bisa berbuat seperti ini, mungkin seperti orang bodoh pun aku bisa melakukannya" ucap AL. Yuki tersenyum, kini mereka duduk berdua bersila dan saling berhadapan. AL menatap Yuki, membelah wajah Yuki dengan tatapannya. Sungguh, ekspresi saat ini yang Al rindukan, ketika Yuki terlihat membuat sesuatu di Ipadnya kala itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
Fanfictionsetiap kehidupan itu punya iramanya sendiri, dan memiliki komposisi nada yang berpareasi. begitupun ketika nada itu mampu membuat dua hati menemukan benang merah yang terhubung dal kehidupannya.. tentang dia, tentang nada dan irama dari sebuah kisah...
