Hay, aku kembali...
maaf sebelumnya, kemarin lagi banyak tugas untuk persiapan Ujian kelas 9 tahun ini, angkatan kedua lulusan masa pendemi hehhheee.. dan kemarin sempat Drop juga. Setelah sembuh langsung dapet giliran pertama Vaksin Covid-19, al hasil bawaannya ngantuk banget... Hahahahahahaha..
So, baru bisa aku Up sekarang, soalnya kan aku harus edit dulu, meski nantinya masih banyak tyfo, aku mohon maaf...
oke kalau gitu,, monggo monggo dilanjut bacanya...
***
Jessy yang melihat AL pun ikut meneteskan air matanya, mencintai seseorang dengan mengetahui 2 sosok yang berbeda ketika ada disampingnya itu pasti sangat sulit. Tapi kini AL sudah menerimanya, Jessy harap Yuki tak akan menghindar dan menjauh lagi. Yang saat ini Jessy inginkan adalah Yuki sembuh. Angga menghampiri AL dan merangkulnya, "Perjuangkan sob, Gue udah relain Yuki dari dulu. Sejak tahu loe jatuh hati sama Yuki, Jadi jangan sia-siakan kesempatan loe" Ucap Angga.
"Gue akan perjuangin Yuki, sampai dia mau menerima kehadiran Gue. Dan jujur sama perasaannya" Ucap Al.
***
"Keluarga Yuki Aurora" Panggil salah dokter yang keluar dari ruangan Yuki, Jessy langsung menghampirinya "Saya Adiknya, bagaimana keadaan Kakak saya?" tanya Jessy, "Pasien masih belum sadar karena pengaruh obat penenang. Namun kondisinya baik-baik saja tidak ada hal yang serius. Tapi perlu ada pemeriksaan ulang untuk psikisnya, jadi saya sarankan untuk memeriksakan saudari Yuki Aurora ke psikiater" Jelas dokter yang memeriksa Yuki, "Jadi kakak saya bisa langsung pulang?" tanya Jessy. "Setelah ia siuman, bisa dibawa pulang" Ucap Dokter lagi, semua menghela nafas dengan lega. "Kalau gitu, saya permisi" Ucap Dokter pamit, "Terimakasih, Dok" Ucap Jessy.
Sepeninggalan Dokter yang memeriksa Yuki, Mereka masih menunggu di depan kamar rawat Yuki. "Yuk masuk" ucap Jessy, dan semua ikut masuk ke dalam ruang rawat Yuki. Al masih diam pada pijakannya, ia memikirkan apa mungkin kehadirannya bisa membuat Yuki tertekan lagi? atau ia bisa membuat Yuki tenang. Dimas yang tersadar dengan AL yang tertinggal menghampirinya, "Loe kenapa masih diluar? ayo masuk!" ajak Dimas. Al masih terdiam, hingga ia menatap Dimas "Gue tunggu diluar aja" ucap Al dingin. "Kenapa seh loe? bukannya loe khawatir banget sama Yuki?" tanya Dimas, AL duduk dibangku yang ditempatin Jessy tadi "Gue takut Yuki akan histeris atau tertekan dengan keberadaan Gue. Jadi, gue tunggu disini aja. Sampai loe semua pastiin Yuki bisa nerima kehadirin Gue" Ucap Al, Dimas paham dengan kondisi saat ini. Ia juga tak bisa memaksakan. Dimas menepuk pundak Al dan kemudian masuk ke ruangan Yuki.
Jessy melihat Dimas masuk tapi ia mengerutkan keningnya, "AL mana?" tanya Jessy, Dimas tersenyum "Dia nunggu diluar" jawabnya. "Kenapa dia ga masuk?" tanya Angga yan ikut terheran pada sikap Al. "Al gak mau bikin Yuki tertekan sama kehadirannya. Jadi, dia minta kita mastiin dulu gimana kondisi Yuki. Oke gak neh kalau Al ada disini" Jelas Dimas. Mereka pun menganggukan kepala secara bersamaan.
"Cinta emang rumit ya? kita gak bisa menentukan jalan cinta itu semulus yang kita inginkan" Ucap Jessy, Angga dan Dimas memandang kearah Jessy dengan bersamaan. "Loe berdua gak perlu liat gue sampe segitunya apalagi sampe berbarengan gitu" sadar Jessy, "Gue setuju. Dan ini sama kaya kita sekarang. Gue gak tahu akhirnya loe bakalan melabuhkan hati loe kesiapa. Yang jelas, saat ini Gue dan Dimas sedang berjuang dijalan yang sama nunggu pintu hati loe kebuka" Ucap Angga, dan Jessy yang mendengarkannya terkejut, lalu ia menatap Angga yang tersenyum kearah Jessy dan Dimas pun mengangguk anggukkan kepalanya dengan senyum yang terlihat diwajahnya. "Kenapa bisa kaya gini?" batin Jessy kemudian ia memalingkan kepalanya dari mereka berdua.
"Kalian kalau mau gangguin sodara gue gak disini tempatnya" suara yang membuat mereka bertiga terkejut, jelas itu adalah ucapan Yuki yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka, meski tak dari awal. "Yuki" Ucap berbarengan, Jessy langsung memeluk Yuki "Gue gak apa-apa" Ucap Yuki dengan mengusap punggung Jessy yang mulai bergetar "Maaf gue dah bikin loe khawatir" lanjut Yuki. Jessy melepaskan pelukannya dan melihat Yuki yang menampilkan barisan giginya "Kalau loe kaya gini lagi, nyembunyiin ini dari gue. Loe bakal kehilangan gue saat itu juga" Kesal Jessy, Yuki hanya tersenyum melihat tingkah Jessy "Yakin loe mau kehilangan gue?" goda Yuki, "Tapi loe emang harus ngebiasain diri loe tanpa gue" ucap Yuki akhirnya dengan nada yang becanda tapi tetap ada keseriusan dalam ucapnnya, "Berani loe!!" bentak Jessy, "Jangan galak-galak depan pangeran-pangeran loe" goda Yuki lagi, "Au ah...!!" Kini Jessy benar-benar kesel sama ucapan Yuki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
Fanfictionsetiap kehidupan itu punya iramanya sendiri, dan memiliki komposisi nada yang berpareasi. begitupun ketika nada itu mampu membuat dua hati menemukan benang merah yang terhubung dal kehidupannya.. tentang dia, tentang nada dan irama dari sebuah kisah...
