Kalau giliranku selalu jadi yang memahami, kapan giliranku dipahami?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku mulai membuka mataku pelan, dan langsung saja pusing menyergapku dengan cepat. Warna putih gading khas yang paling aku benci langsung menyapa tepat setelah aku membuka mata. Mendapati seseorang yang menatapku dengan raut muka khawatirnya. Dan juga..
Kenapa aku di infus? Sejak kapan disekolahku menyediakan infus? Kalau selang oksigen yang sedang ada di hidungku, aku tahu itu merupakan fasilitas sekolah.
Ahh, sepertinya aku sedang dirumah sakit setelah melihat sekeliling dengan seksama.
"Aku di rumah sakit ya?" Tanyaku memastikan.
Jungwon yang sedang berdiri di sebelah kasurku tak lagi melihatku dengan khawatir, melainkan raut mukanya menjelaskan sedang menahan marah. Aku berusaha duduk, yang langsung dibantu olehnya.
"Kan, udah dibilangin kemarin ngga usah hujan-hujanan! Pake ikutan kelas olahraga lagi. Pingsan kan?"
Aku tebak, pasti aku pingsan setelah memaksakan diri ikut kelas olahraga di saat aku belum sarapan. Aku membuka selang oksigen di hidungku, karena memang sepertinya aku sudah merasa lebih baik. Dan disambut bau disinfektan yang menyengat. Yang langsung dihadiahi pertanyaan oleh seseorang yang sedang menahan kesal disampingku.
"Kenapa dibuka si!?"
"Udah lebih baik."
Dia terdiam, tidak seperti biasanya menanyakan aku kenapa-kenapa atau tidak.
"Jungwon marah?"
"Nggak."
"Tapi mukanya merah tuh!"
"Biasanya juga gini."
Dia menjawab pertanyaanku dengan muka jutek. Pedulinya berbeda, dan aku nyaman dengan kepeduliannya yang berbeda itu.
"Aku kesini naik apa?"
"Naik kuda-kudaan!"
Dia masih saja marah, padahal aku kan tidak apa-apa.
"Masih marah?"
Dia menghela nafas panjang, panjang sekalii.
"Kamu kapan sih bisa perhatiin kesehatan kamu sendiri?" Nada suaranya melembut, juga menatapku dengan lembut, tatapan yang bisa meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. Ditambah mata cantik dan tulusnya yang terpancar dengan sempurna.
"Kan ada kamu." Dia menghela nafasnya panjang, yang mengundang senyumanku.
"Kenapa harus dibawa kerumah sakit? Aku kan cuma pingsan."
"Kata dokter kamu demam."
"Padahal kemarin ngga sampai satu jam hujan-hujanannya." Gumamku heran.
"Sebentar lagi bunda kesini." Nada suaranya terdengar pasrah, aku bisa membayangkan akan seperti apa kedatangan bunda Yoona nanti mendengar aku masuk rumah sakit. Lagian kenapa harus dibawa ke rumah sakit, aku saja ngga kenapa-kenapa.