Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah bermain cukup lama di arena skating, terjatuh beberapa kali, sampai aku sudah lancar berselancar tanpa harus dibantu olehnya. Itu sangat menyenangkan, sebuah pengalaman yang mungkin akan kuingat sebagai kenangan indah.
Tadi di arena skating, ketika aku duduk karena kelelahan. Dia tetap bermain, dia sangat lihai bermain skating, memang aku pernah dengar pembicaraan perempuan di kelas kalau Sunghoon adalah mantan figure skating yang punya banyak medali dan memenangkan banyak perlombaan. Perkataanya mungkin bukan sekedar omong kosong belaka.
Dia tersenyum, dia terlihat sangat bahagia, sangat bebas. Senyumannya kali ini sangat berbeda, terasa benar-benar tulus dan memancarkan sebuah kebahagian.
Dia meluncur dengan kecepatan tinggi lalu berputar di udara beberapa kali, sangat indah. Dan seketika pula, orang-orang yang sedang bermain di sampingnya bertepuk tangan. Dia hanya mengangguk-anggukan kepala dan mendekat padaku yang sedang duduk, lalu dia ikut duduk di sampingku. Membuka sepatunya, kalau sepatuku memang sudah dari tadi aku lepas.
"Kamu bermain dengan sangat bagus."
"Tahu, lo liat nggak? Semua orang langsung ngeliatin gue, pake tepuk tangan lagi."
Aku menoleh padanya, dia benar-benar sangat percaya diri, sebuah sifat yang tadinya aku kira tidak ada di dirinya.
Aku terkekeh pelan.
"Rasanya kaya ketemu sahabat lama, sangat menyenangkan," dia berbicara.
"Bukannya kamu dulu jadi atlet figure skating, kenapa berhenti? Kamu pernah cidera?"
"Ngga, gue ngga pernah cidera."
"Terus kenapa?"
Dia menoleh padaku, aku memang dari tadi memperhatikannya dari samping, jadi kontak mata sudah tidak bisa dihindarkan lagi.
Dia tersenyum, kali ini bukan senyuman bahagia seperti tadi, lebih seperti senyum sendu.
"Karena alasan gue untuk serius dalam hal ini udah ngga ada."