Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku terpana melihat pemandangan yang aku lihat di balik kaca tembus pandang berukuran kecil di depanku. Di dalam ruangan sana, ayah tergeletak dengan banyaknya peralatan menancapi tubuhnya.
Tadi pagi, tiba-tiba istri ayah datang kerumahku, bilang bahwa ayahku sakit. Ketika itu juga, duniaku rasanya luluh lantah begitu saja.
Aku memilih menghindar dan membiarkan ayah pergi dengan keluarga baru, tidak apa aku tidak bisa bersama ayah, tidak apa jika aku harus merasa kesepian, maka setidaknya ayah harus bisa bahagia.
Tapi berita macam apa ini? Pengorbanan dan semua perasaan yang aku tahan hanya untuk sebuah berita bahwa ayah sakit bukannya bahagia?
Rasanya aku ingin tertawa, menertawakan kebodohanku, dan mencaci maki semesta yang membuat skenario seburuk ini untukku.
Di depan pintu ruang rawat ayah, aku hanya meremas tali tas selempangku, menyalurkan semua perasaan yang terlanjur tidak bisa diuraikan.
Jadi, selama ini aku berkorban untuk apa?
"Kamu tidak masuk?" Istri ayah bertanya, mau tau hal lucu? Aku bahkan tidak tahu siapa nama seorang wanita yang terlihat anggun menggunakan setelan jas berwarna abu-abu didepanku.
Aku hanya merelakan ayah pergi untuk meraih bahagianya, karena akan terasa sulit jika aku mengetahui seluk beluk kehidupan bahagianya, aku memilih tidak mau tahu.
"Ayo masuk, dari kemarin Ayah Gaeul nanyain Gaeul terus loh," beliau menepuk pundakku pelan.
Mengumpulkan semua keberanianku yang masih tersisa, aku memutar handle pintu dengan pelan, meminimalisir suara.
Kini, aku satu ruangan dengan ayah, yang entah kapan terakhir kali kami bertemu, mungkin satu setengah tahun yang lalu.
Pertahananku runtuh, aku menangis sejadi-jadinya, aku mendekat, meraih tangan Ayah yang dingin dan menempelkannya di pipiku.
"Ayah, apa ini?" Aku duduk di kursi samping brankar tempat tidur ayah.
"Ayah, bukankah Ayah pergi untuk bahagia? Kenapa malah kesini?"