Dua belas

2K 271 48
                                        


Sudah terhitung dua hari setelah kejadian itu, dan Hanbin nyatanya masih tetap diam dan jarang bersuara. Bahkan ia dengan teganya meninggalkan Lisa dan Haruto. Alhasil Lisa yang mengantar Haruto sekolah dan ia berangkat tanpa diantar oleh Bapak Direktur yang tampak lelah.

Dan sekarang itu yang tengah Lisa pikirkan, raganya berada di kantin rumah sakit, namun jiwanya melayang entah sampai ke planet mana.

"Arghhh.." semua mata menatap kearah Lisa yang tengah mengacak rambut panjangnya. Lisa yang mereka kenal selalu berwibawa kini malah tampak seperti orang gila disini. What's wrong?

Tanpa peduli dengan tatapan aneh dari orang-orang, Lisa berjalan meninggalkan kantin. Ia menuju ruangannya dan mengambil semua barang-barangnya, setelahnya ia pergi dari sana, melangkah keluar rumah sakit. Setelah mengenakan kacamata hitamnya, Lisa membuka pintu mobilnya, mengendarainya entah kemana.

Tak butuh waktu lama, hanya 45 menit saja, ia sudah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi. Dengan tekad kuat ia melangkah masuk, mengatakan pada resepsionis apa tujuannya datang kemari dan akhirnya ia menuju sebuah ruangan yang baru kali ini ia datangi.

Lift terbuka, gadis itu keluar setelah berada di lift cukup lama. Lantai 24 bukanlah lantai yang rendah, ini tinggi loh. Jatuh dari sini, nyawa anda akan melayang.

Dengan kecepatan melangkah, Lisa akhirnya sampai di ruangan yang ia tuju. Tangannya hendak meraih knop pintu, namun terhenti saat sebuah suara memanggilnya.

"Bu Lisa?"

Lisa menoleh, mendapati Siska, sekretaris direktur di perusahaan ini.

"Apa anda ada keperluan dengan Pak Hanbin?"

"Iya."

"Pak Hanbin sedang kedatangan tamu, mungkin Ibu bisa tunggu di ruang tunggu, sebelah sana." Jelas Siska lalu menunjuk kearah selatan dimana ruang tunggu berada.

Lisa memejamkan matanya sejenak, ia lalu mengangguk pasrah, "Oke."

Lisa terus menatap jam dinding yang terdapat di ruang tunggu, 20 menit lamanya ia menunggu, dan kini rasanya ia sudah bosan.

Dengan rasa kesal ia beranjak, melangkah cepat ke ruangan Hanbin.

"Maaf Bu Lisa, masih ada tamu didalam." Lisa tak peduli, ia terus berjalan dengan Siska yang mengikutinya mencoba menahan Lisa.

"Lepasin saya.." Lisa menghempaskan tangan Siska yang terus menahannya.

"Tapi Bu __"

Ceklek..

Yah Lisa berhasil membuka pintu itu.

Tatapan datarnya berubah meredup.

Harusnya ia mendengar apa kata Siska.

Namun sekarang, semua telah terlihat didepan matanya.

"Maaf saya mengganggu." Hanbin terdiam, ia menatap Lisa yang tengah menahan tangis.

"Saya permisi.."

"Lisa.." Hanbin menyingkirkan tangan wanita yang sejak tadi bergelayut dilehernya. Ia berlari mengejar Lisa yang sudah hilang dari pandangannya.

Hanbin terus berlari, ia terus mencari Lisa, dan dapat, ia mengejar Lisa.

"Lisa.."

Lisa berlari, tak tau harus kemana ia berlari, dan tangga darurat lah yang ia pilih.

Bertahan?

Untuk apa ia bertahan jika pria itu saja tak bisa menjaga kepercayaan Lisa padanya.

Lisa ingin egois, untuk saat ini saja Lisa ingin bersikap egois.

"Akh.." tubuhnya limbung, sama seperti dulu, heels nya patah. Dengan kasar gadis itu melepas sepatunya, membuangnya asal. Dan kembali berlari.

"Lisaa tunggu.." dan berhasil, Hanbin meraihnya, menahannya agar tak pergi.

"Lisa saya bisa jelaskan semua ini."

"Lepasin saya.."

"Ini semua gak seperti yang kamu lihat, jadi dengarkan penjelasan saya."

"Semuanya udah jelas, saya mencoba bertahan dengan semua ini, Bapak sepertinya gak ingin mengakhiri hubungan dengan wanita itu, saya gak masalah Pak, saya terlalu labil buat Bapak yang dewasa. Saya harus pulang ke rumah saya, agar Bapak bisa leluasa bersama wanita itu."

"Lisa kamu salah paham, saya sedang mengurus surat perceraian dengan Maria."

"Apa harus dengan cara seperti itu? Menjijikan."

Masih tercetak jelas di memori Lisa, bagiamana mesranya dua human itu. Wanita yang memeluk prianya yang tengah duduk seakan tak ingin sang pria diambil oleh gadis muda seperti Lisa.

Sangat menjijikkan bagi Lisa.

"Saya bisa jelaskan."

"Apa? Apa yang mau Bapak jelasin?!"

"Kamu salah paham."

"Salah paham? Saya lihat sendiri wanita itu peluk Bapak."

"Saya bisa jelaskan Lisa."

"Gak ada yang perlu dijelasin."

"SAYA BISA JELASKAN!!"

Lisa tersentak, Hanbin membentaknya?

Matanya memerah, satu kedipan mata, maka air itu akan keluar.

"Arghh.. Maaf Lisa maaf.." Hanbin mencoba meraih lengan Lisa tapi gadis itu menjauh.

"Saya akan pergi dari rumah Bapak.."

"Lisa jangan, Lisa.. LISA!!" Hanbin dengan cepat mengejar Lisa yang kembali berlari.

Cukup melelahkan berlari di tangga darurat, apalagi mereka berada di lantai yang paling atas.

"Lisa berhenti!!" Nafas Hanbin seakan ingin habis, namun ia tak menyerah, ia harus menahan gadis itu agar tak pergi.

"LISA SAYA CINTA SAMA KAMU!!"

GIMANA???

100 VOTE BISA GAK?

Jngn lupa follow

Kira" disini ada yg Deobi gk?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kira" disini ada yg Deobi gk?

My Sexy Husband [ Hanlis ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang