Reyes membeku di tempat. Tangannya yang memegang sedotan juga otomatis terlepas begitu saja saat ia berpandangan dengan Dizar dan Sandi yang berada di hadapannya sekarang.
Tadi sepulang sekolah, Dizar dan Sandi mengirim pesan bersamaan untuk menemuinya di Amora Cafe. Cafe rooftop yang biasa mereka tempati sebagai ajang pertemuan.
Letaknya cukup jauh dari sekolah, tentu saja ini dilakukan dengan maksud agar anak-anak sekolah mereka tidak tau kalau ketiganya berteman baik.
Jadi, di sinilah Reyes. Duduk di meja paling pinggir rooftop, sementara di seberang ada kedua temannya---Dizar dan Sandi---yang sekarang melempari tatapan tajam ke arahnya.
Kalau saja meja ini ada di ruangan hitam alih-alih pinggir rooftop yang ramai dengan pemandangan hiruk-pikuk kendaraan di bawah sana, mungkin Reyes bisa dikatakan sedang diinvestigasi layaknya tersangka.
"Lo berdua... kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Sandi sudah melipat kedua tangannya seraya memandang Reyes tajam, begitu juga dengan Dizar yang dagunya sudah terangkat-angkat tinggi.
Sudah jelas sekali Reyes melakukan kesalahan yang tidak ia ketahui.
"Gue... kenapa?"
"..."
"Ayolah lo berdua tinggal ngomong aja apa masalahnya, gak usah memperlakukan gue seakan-akan gue tersangka kasus pembunuhan berantai!"
"..."
"Dikit lagi maghrib, nih, keburu setan pada nongol."
"..."
"Anj---"
"Gak ada yang mau lo omongin ke kita?" tandas Dizar.
Syukurlah, setidaknya Dizar mau meresponnya. Meski begitu Reyes masih belum mengerti. Cowok yang memakai hoodie berwarna maroon itu menaikkan sebelah alisnya bingung. "Apaan emang?"
"Coba inget-inget atau lo gue paksa inget." Sandi kini bersuara. Suara dalam yang cowok itu keluarkan sukses bikin Reyes merinding.
Memangnya, apa sih kesalahan Reyes? Ia benar-benar tidak tahu. Kalau Sandi sudah mengeluarkan suara dalamnya yang cocok dinyanyiin rapper itu, Reyes tahu betul kesalahannya tidak bisa ditoleransi.
"Lo beneran cuma jalan sama Sharline?" Dizar yang tak sabar semuanya terungkap mulai memberi clue.
Well, kali ini Reyes mulai paham arah pembicaraan mereka. Cowok itu menghela napas lelahnya sambil bersandar pada punggung kursi, lantas meletakkan es krim mangkuknya cukup kasar ke meja. Kedua bolamatanya bergerak menelusuri Sandi dan Dizar bergantian.
"Lo berdua masih curiga sama hubungan gue dan Sonia?"
Dizar sudah mau membuka mulutnya, tapi Sandi lebih dulu memotong. "Ya." tandasnya. Sorot matanya membara amarah menatap Reyes. Punggungnya ia majukan sehingga mengikis jarak antara keduanya. "Waktu mau ke rumah sakit Bunda, gue gak sengaja liat nama Sonia nelpon lo. Gak cuma itu aja, dia juga banyak ngirimin chat dan minta antarin almetnya yang ketinggalan di kamar lo."
Kalau sudah urusan begini, Dizar juga sangat tahu kalau Sandi adalah orang paling depan yang siap memaki, membenci, menghunus pedang pada cewek bernama Sonia itu.
Ingatannya terlempar pada saat Reyes hampir difitnah, di mana Sandi hampir membuat Reyes babak belur kalau saja Dizar tidak menengahi. Saat itu Sandi tidak hanya menganggap Reyes adalah cowok brengsek yang bisa membuat perempuan rusak, tapi juga seorang lelaki yang merusak masa depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Trinity ✓
FanfictionReyes, Sandi, dan Dizar membuktikan kalau sahabat adalah orang yang dapat dipercaya. Tapi, bagaimana kalau suatu keadaan membuat mereka terpaksa saling mengkhianati? warning! °°mental health issues, harsh words, drugs, alcohol, etc. ©tanbaebaes, 20...
