33. can we?

130 29 2
                                        

"Sandi,"

Suara seseorang yang memanggil namanya, lantas membuat Sandi yang tengah menyalakan api rokok terhenti. Begitu ia menoleh, Jelita muncul dengan senyum manisnya---yang langsung bergantikan pelototan kaget.

"Kamu ngerokok?!" Buru-buru Jelita mengambil rokok yang ada di bibir Sandi lalu mematahkannya, langsung memandang Sandi tajam. "Kamu benar-benar mau mati, ya?" Oh gosh---Jelita bisa sesarkas ini dengan Sandi?

Sandi yang tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak lantas menaikkan sebelah alisnya heran. Oke. Jadi, saat ini, Jelita sedang melarangnya merokok?

Persis sekali seperti seorang pacar yang tidak suka melihat cowoknya merokok tidak, sih?

Mendengar bisikan hatinya itu Sandi tersenyum miring. "Kenapa?"

"Kamu baru aja sembuh dari kecelakaan. Sekarang mau celakain diri sendiri lagi?"

"..."

"Sandi! Kok malah bengong?"

Sandi tersenyum lebar. Ia menepuk-nepuk kepala Jelita, lantas mengerucutkan bibirnya. "Lo gak pernah berubah, ya."

"Kamu udah bilang kayak gitu beribu kali kayaknya."

Sandi terkekeh. Ia pun mengambil alih patahan rokok yang dipegang Jelita, lalu menarik Jelita duduk di kursi balkon ruang makan.

Kini, hanya ada Jelita dan Sandi yang ada di sana. Tentunya, ditemani oleh bunyi serangga yang bersautan di luar rumah.

Tadinya, Sandi memang berniat melipir sebentar dari kumpulan teman-temannya itu. Usai acara Jelita nangis-nangis, Sandi pikir Jelita akan membutuhkan Sharline dan Dizar---barangkali ia membutuhkan penjelasan yang lebih detail.

Namun, nyatanya tidak. Baru saja Sandi ingin menyesap batang tembakau itu, Jelita tiba-tiba datang secara mengejutkan.

Begitu mereka sudah duduk di bangku, tiba-tiba Sandi merasa ada sesuatu yang janggal. Maka, ia pun meneliti wajah Jelita lamat-lamat hingga membuat cewek itu agak salah tingkah. 

Tak lama kemudian, Sandi berbisik 'maaf' lalu mendekati kepala Jelita---lantas melepas ikatan rambut cewek itu. Jelita yang diperlakukan seperti itu langsung tersentak kaget. 

Namun, senyuman lebar Sandi menjelaskan bahwa cowok itu tidak berniat jahat. Bahkan, kini Sandi menjepitkan satu jepitan berwarna merah di poni cewek itu.

"Kamu ngapain sih?" Jelita bingung. Ia lantas menyentuh jepitan yang diberi Sandi secara tiba-tiba.

Sandi tau tingkahnya ini mendadak. Tetapi---entahlah, semuanya juga terjadi begitu saja. Nalurinya membimbing Sandi melakukan itu. 

"Nah, kalo gini beneran seratus persen sama."

"Maksud kamu---? Ah, waktu kita sekolah dasar?"

Sandi mengangguk kecil.

"Aku masih suka pake jepitan kok. Kamu ingat gak? Kamu yang bikin aku pake jepitan. Gara-gara kamu, di usia aku yang mau dewasa ini aku masih kayak anak kecil."

Sandi yang bikin Jelita pakai jepitan....? Sebentar, Sandi tidak pernah mengingat hal itu. Ia pun menggeleng pelan. "Maksud lo?"

"Kamu yang bikin aku betah pake jepitan! Masa gak ingat?"

"Ngga..."

"Jadi, waktu itu, aku pernah dihukum sama Bu Teti karena rambutku panjang dan berantakan. Gak keurus deh waktu itu."

Sandi yang mengingat nama Bu Teti langsung melebarkan senyum. "Bu Teti yang guru Bahasa Indonesia itu?!"

"Ya. Guru yang paling ditakutin anak-anak."

Sweet Trinity ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang