7. red vs cartien

356 67 4
                                        

Pagi itu, Reyes masuk ke gerbang sekolah dengan irama tatapan yang mengikutinya. Reyes seperti biasa. Memakai jaket merah maroonnya, memegang sebuah kunci motornya, dan memasuki sekolahnya dengan tidak telat.

Namun hari itu berbeda, semua orang menatapnya penuh perhatian. Membuat cowok itu bertanya-tanya.

Ketika dia sampai di sebuah lorong kelasnya—tatapan itu masih menghiasi arah tujuannya. Namun tiba-tiba dua remaja cowok menghalanginya.

"Lo..?" tanya Reyes, dia langsung berbisik pada kedua remaja itu. "Gue kenapa sih? Makin ganteng?"

Bukannya menjawab, Sandi segera menarik tangan Reyes dengan kasar. Sementara Dizar mengikuti dari belakang.

Sandi menghempaskan tangan Reyes dengan kasar saat mereka sudah berada di belakang Perpustakaan Sekolah. Reyes yang tidak mengerti memandang keduanya bertanya-tanya.

"Lo berdua kenapa sih?" tanya cowok itu.

Sandi menghela napas. Hyunjin menahan napas. "Minggu kemarin lo ke mana?" tanya Dizar, tersirat nada kecemasan disana.

Reyes menyatukan alis. "Gue udah bilang kan—"

"Hotel Candrakarya?" potong Sandi yang wajahnya sudah memerah. "Bangsat lo Rey."

"A-apa?"

"Lo apain Sonia?"

"Gue?" Reyes makin bingung. "Maksud lo apa sih?"

"Gue gak tau lo sebangsat ini, Reyes Baskara." ucap Sandi masih berapi-api. Menambah ketidak mengertian Reyes sendiri.

Hyunjin yang memerhatikan sepertinya suntuk sendiri. "Jujur sama kita, lo apain Sonia?"

"Maksud lo berdua apaan sih? gue kan udah bilang kita movie date disl sana. Nggak yang lain." Reyes menjawab dengan yakin. Sontak matanya membulat. "Kenapa lo berdua gin—" cowok itu terdiam.

Dizar mengangguk pelan. Ia merogoh saku kemeja seragam dan mengeluarkan ponselnya, mengutak-atik lama sebelum akhirnya menyerahkannya pada Reyes. Ia pun mengambil alih ponsel itu dengan cepat.

Sedetik, dua detik, tiga detik, "Apa-apaan nih?!" tanya Reyes kalap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sedetik, dua detik, tiga detik, "Apa-apaan nih?!" tanya Reyes kalap. "Ini bukan gue!"

Sandi yang masih tersulut emosi, melirik ke Reyes tanpa ampun. "Jujur, Rey."

"Gue serius! Ini bukan gue." Reyes menunjuk ponsel itu dengan brutal yang entah isinya apa. Seolah meyakinkan kedua temannya.

Dizar memejamkan matanya pelan. "Gue udah bilang kan San? Itu bukan Rey." ucapnya pada Sunwoo.

Sandi terdiam, menatap Reyes dengan selidik.

"Gimana lo bisa dapat foto ini?" tanya Reyes, napasnya mulai terengah-engah. "Gue dijebak. Pasti."

"Oke. Gue tau akhirnya kayak gini," kata Dizar, ia merogoh saku celananya mengeluarkan kunci mobil dan melemparnya ke Sandi. "Lo dijebak. Sohye gak sepolos yang lo kira."

Sweet Trinity ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang