17. jelita & rara

208 34 9
                                        

"Jadi lo masih bisa liat setan sekarang?"

Sandi yang ada di hadapan Dizar membulatkan matanya lebar-lebar sambil bertanya. Sementara itu, Dizar yang sedang tidur celentang santai di atas rerumputan hijau itu mengangguk sambil menyipitkan matanya yang menghadap ke awan-awan yang kian menggelap.

Sekarang, selepas Reyes shock berat karena kenyataan Dizar yang masih bisa lihat hantu dan Dizar juga Reyes yang ketahuan menguping pembicaraan Sandi lewat kamar mandi. Mereka memutuskan untuk mampir ke rumah Reyes, sekalian berdiskusi sebenarnya apa sih yang sedang terjadi di antaranya.

Alih-alih memilih kamar Reyes yang sebenarnya juga nyaman itu, mereka bertiga beralih pada taman belakang rumah Reyes yang asri dengan tanaman juga rerumputan.

"Ya. Begitulah."

Dizar yang menjawab, lantas mengundang pukulan telak lengan atas Sandi dari Reyes. "Tuhkan, lo masih gak percaya sama gue?"

Sandi hanya mengusap pelan lengan atasnya sambil merengut. "Beneran? Masih bisa liat setan di rumah Reyes, dong?"

Pertanyaan Sandi membuat Dizar beranjak duduk. Ia menaikkan alisnya bertanya, "Maksud lo si Iman? Tuh, lagi cabutin bunga."

Dizar mengarahkan dagunya pada pojok taman belakang rumah Reyes ini. Dari penglihatan orang biasa, hanya ada tanaman bunga anggrek yang dirawat sebaik mungkin. Tetapi kalau Dizar yang melihat, sekarang ada Iman---yang lagi memandangnya dengan alis naik-naik sebelah.

Dia hantu rumah Reyes turunan Belanda yang agak lekong.

"Iman, long time no see." sapa Dizar santai sambil melambaikan tangan pada si Iman yang membalasnya dengan cengiran lebar.

Beda lagi kalau Sandi dan Reyes yang bereaksi, sekarang kedua cowok itu sudah jauh-jauh bersembunyi di belakang Dizar.

Reyes berbisik. "Dia masih ada di sini? Kok bisa sih?!" tanyanya panik. Pasalnya, dulu, mungkin setahun yang lalu? Reyes meminta Dizar untuk negosiasi sama Iman buat pergi dari rumahnya. Tetapi, yang namanya hantu berhabitat memang agak sulit.

Bukannya berhasil mengusir Iman, Dizar malah berakhir mendengar curhatan si Iman yang dari dulu di diskriminasi sama lingkungannya hingga kini menjadi hantu. Oh, ya, meskipun Iman adalah hantu turunan Belanda, dia mempunyai nama Iman karena diberi oleh pria yang dicintainya dulu.

Sampai sekarang Iman menyebut dirinya .... Iman. Dizar juga tidak tahu siapa nama aslinya.

Dizar yang sudah berpenampilan seperti cowok biasa itu mendecak dan mendorong Reyes agar tidak bersembunyi di belakangnya, membuat Reyes jatuh duduk. "Gak bisa. Emang habitat dia di sini. Santai ajalah, dia juga gak ganggu lo."

"Ya tapi tetep aja!"

"Dia cuma suka bunga-bunga di taman belakang rumah lo. Masuk ke rumah juga buat ngobrol sama hantu yang lain."

"Hantu yang lain?!" seru Reyes.

"Ah," Dizar menutup mulutnya tiba-tiba. "Gue keceplosan."

"Maksud lo? Ada hantu lain di rumah gue?!"

"Cuma ada lima kok."

"Lima?!"

Heuh, kalau berbicara hantu memang Dizar ini tidak cocok dengan Sandi dan Reyes. Reyes cuma jago memikat cewek saja, eh, hantu cewek juga sih. Tetapi masalah perhantuan cowok satu itu sangat amat ketakutan. Kalau ditanya sama Dizar alasannya;

"Dulu gue nonton film Rumah Kentang. Sampai sekarang gak bisa lupa sama wujud muka setannya."

Parnoan.

Sweet Trinity ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang