Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
👑⚽🐙
Pernahkah kalian menemui satu tokoh fiksi yang membenci orang tuanya karena beberapa kesalahan?
Benci itu perlahan tumbuh menjadi dendam. Memperumit konflik cerita. Hingga akhirnya, sang tokoh justru menyesal dan mereka berbaikan kemudian.
Saat menemui kisah seperti itu, rasanya Reyes sedang berkaca. Suatu ketika, ia pernah menonton film bersama Dizar dan Sandi yang filmnya berkaitan dengan hal itu. Saat menonton, Reyes sontak terdiam. Memorinya terlempar pada dirinya dan kedua orang tuanya.
Hubungan Reyes dan Ayah serta Ibunya tidaklah baik.
Bukankah Reyes sudah bercerita?
Ambisi yang muncul dari orang tua Reyes menjadi boomerang bagi mereka sendiri. Hingga akhirnya, perpecahan pun terjadi di antara keduanya. Hingga akhirnya, Reyes menjadi satu-satunya korban karena keputusan mereka.
Usai perceraian itu, keduanya masih tinggal di rumah yang sama---sebelum akhirnya sang Ibu pergi terlebih dahulu.
Apakah beliau mengajak Reyes? Tentu saja. Reyes tau, meskipun sang Ibu memiliki ambisi kuat yang memberikan efek negatif baginya, ia tau, Ibunya itu sayang padanya.
"Reyes, mau ikut Ibu?"
Reyes kecil yang baru saja pulang dari latihan bulutangkisnya langsung menoleh. Sang Ibu berada di pintu kamarnya, lengkap dengan dua koper di sampingnya.
Jantung Reyes saat itu berdetak lebih kencang. "Ibu, mau ke mana?"
"Ibu akan pergi dari rumah ini. Kamu mau ikut Ibu?"
Reyes kecil tidak bisa menjawab. Ia hanya merasa dadanya mulai sesak. Bibirnya mulai bergetar dan kedua matanya memanas.
"Reyes," panggil Ibunya lembut---jarang sekali Reyes mendengar panggilan itu, serius. "Ibu yakin Reyes sudah besar, Reyes sudah tau dan paham, kalau Ibu dan Ayah tidak bisa bersama lagi. Sekarang, Ibu kasih pilihan, Reyes ingin ikut Ibu atau Ayah?"
Terjadi jeda yang cukup lama. Namun, jawaban itu tertuang pada air mata Reyes yang mulai mengalir dari kedua matanya. Tidak terisak, Reyes hanya menatap Ibunya nanar.
"Reyes," panggil sang Ibu lagi.
"Kenapa aku harus pilih Ibu atau Ayah?" tanya Reyes langsung. Keberanian itu timbul seketika saat ia merasa dirinya lemah.
Sang Ibu tidak bisa menjawab. Ia mencoba membaca ekspresi Reyes, tetapi yang ia temui hanyalah kesedihan yang mendalam.
Reyes menghapus air matanya kasar dengan punggung tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam---mencegah air matanya keluar lagi.