Sebelumnya aku mau menegaskan kalau semua ini fiksiya. Jadi, belum tentu segala kejadian di chapter ini adalah kenyataan.
***
Makan indomie kari ayam di tengah-tengah cuaca dingin emang gak ada obat.
Alias super duper healing yang paling maksimal.
Siapa yang setuju?
Lihat saja, Reyes yang tadinya ketakutan setengah mati mulai makan mie indomienya terburu-buru. Seolah-olah dia sedang dikejar sesuatu. Padahal, mah, memang perutnya keroncongan sedaritadi karena di perjalanan pun mereka gak sempat makan berat selain roti-rotian atau snack.
Di samping Reyes yang duduk di tanah, ada Dizar yang menghirup dalam-dalam kuah mie rebusnya juga. Beda sama Reyes, Dizar masih memikirkan itu.
Sementara di sisi lain, ada pula Sandi yang makan dengan santai sambil sesekali melihat ke sekitar mereka yang cukup ramai. Tipikal orang yang makan dengan menikmati pemandangan, persis kayak lagi syuting iklan.
"Sandi!"
Seruan Jelita tiba-tiba bikin ketiga oknum itu kaget seketika. Sandi yang ada di kursi lipatnya pun menoleh dengan bulatan mata yang kentara, melihat Jelita yang ada di depan tenda sambil memegang jaket.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Pake! Nanti kamu pulang-pulang tifus, lho." Jelita mulai menaruh jaket itu pada bahu Sandi, lalu mengambil alih mangkuk indomie yang dipegang Sandi.
Sandi hanya diam saja sambil mencoba memakai jaketnya. Dalam hati dia cekikikan, sementara bibirnya juga tersenyum tipis. Dia gak percaya... gimana bisa pulang naik gunung tiba-tiba tifus? Oh, ayolah, Sandi pernah hampir mati dan sekiranya---nyawanya ada banyak, menurutnya.
"Oke. Maaf."
Jelita hanya mencebikkan bibirnya biasa saja sebelum akhirnya memberikan mangkuk mie rebus milik Sandi lagi. Gadis itu pun masuk kembali ke tenda.
"Lampu hijau."
"Jalan!" Reyes berseru sambil mengangkat tangannya dengan pandangan datar.
Memandang kedua temannya yang mulai gila itu, Sandi tersedak tiba-tiba. "Lo semua kenapa?!"
"Lo tau lampu lalu lintas 'kan?" Dizar bertanya. "Itu tanda buat lo."