Jika biasanya orang-orang melebihkan kebetulan yang ada adalah sebuah takdir, tetapi Reyes memilih untuk mengatakan hal yang sebaliknya.
Menurut Reyes, apa yang terjadi saat ini hanyalah kebetulan. Ya. Sebuah kebetulan yang justru kini membuatnya agak repot.
Beberapa waktu yang lalu, seperti yang dikatakan Nenek Anjani, mereka pun melakukan yang namanya 'makan malam' ala-ala keluarga konglomerat. Makan malam di rumah, tetapi rasanya seperti makan malam di hotel bintang sepuluh.
Hm, oke, itu agak berlebihan.
Namun, mereka benar-benar merasa seperti itu.
Bagaimana tidak? Setiap detik saat mereka sedang makan malam tadi, beberapa pelayan datang dan mengganti menunya sesuai urutannya masing-masing.
Ah, sialnya, sebagai orang yang biasa-biasa saja, Reyes, Dizar, dan Jelita tidak tahu menahu dan hanya bisa mengangguk. Setidaknya, ini bisa jadi pengalaman, 'kan?
Ah, ya, kembali oleh sudut pandang Reyes. Cowok itu kini bertemu lagi dengan Sharline untuk pertama kalinya sejak itu. Sesuatu yang membuat hubungan mereka kandas dan sepertinya memiliki ending yang menggantung.
Ternyata oh ternyata, Sharline menjadi guru les Nenek Anjani. Lebih tepatnya, guru les bahasa Inggris. Toh, tidak heran, Sharline memang anak pintar di sekolah. Mungkin, alasan Nenek Anjani memilih Sharline alih-alih guru les lulusan Oxford atau Standford karena Sharline adalah siswi yang berprestasi.
Mungkin begitu.
Tadi juga, begitu Nenek Anjani menyelesaikan sesi kursus bahasa Inggrisnya, beliau mengajak Sharline untuk makan bersama. Tetapi, tampaknya kehadiran Reyes dan teman-temannya membuat gadis manis itu merasa tidak nyaman hingga menolak dengan sopan.
Untungnya, Sandi inisiatif untuk mengajaknya, begitu juga Jelita yang entahlah mereka kenal darimana.
"Shar, ini udah malam. Sebaiknya lo di sini dulu." Siapa yang berucap? Tentu saja Sandi.
Reyes tidak bisa melakukan hal itu. Benar-benar tidak bisa. Ia hanya bisa memandang lekat Sharline dengan hatinya yang mencak-mencak untuk meminta gadis itu tetap di sini.
Meskipun kehadirannya membuat jantung Reyes mau mati, tetapi setidaknya---ia bisa melihat gadis itu dalam waktu yang cukup lama.
Akhirnya, berakhirlah mereka di taman tempat Sandi, Dizar, dan Reyes bertengkar tadi. Jelita dan Sharline sudah bercengkrama kecil, entahlah apa yang mereka omongi, sementara Dizar sedang berbisik-bisik---ah, ya, jangan lupa kalau Rara pun ada di sini.
Di sisi lain, Sandi sedang mengecek ponselnya. Dan Reyes...? Dia hanya terdiam seribu bahasa sambil melirik-lirik Sharline.
Ha. Dasar anak SMA....
"Perhatian-perhatian!" Sandi tiba-tiba beranjak dari duduknya, lantas menghadap ke semua teman-temannya yang kini duduk santai di kursi rotan itu.
Semua teman-temannya pun serentak mendongak, memandang Sandi yang sepertinya siap mengumumkan sesuatu.
"Lo semua gak penasaran kenapa gue ada di sini? Dan.... kenapa?!" tanyanya.
Dizar mengerutkan dahinya heran. "Ngapain penasaran? Nenek Anjani udah jelasin tadi kali. Sia-sia gue khawatir sama lo, sial. Ternyata lo di sini lagi cosplay jadi pangeran," cemooh Dizar, menghasilkan anggukan dari Reyes dan gelakan tawa dari Sandi.
Jujur, Sandi tidak menduga kalau teman-temannya ini datang berbondong-bondong hanya ingin mengetahui keberadaannya. Padahal, sudah jelas-jelas Sandi mengatakan kalau gue akan balik dua hari lagi. Kalau tidak salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Trinity ✓
FanfictionReyes, Sandi, dan Dizar membuktikan kalau sahabat adalah orang yang dapat dipercaya. Tapi, bagaimana kalau suatu keadaan membuat mereka terpaksa saling mengkhianati? warning! °°mental health issues, harsh words, drugs, alcohol, etc. ©tanbaebaes, 20...
