Euforia yang dirasakan Reyes benar-benar terasa mendebarkan.
Usai acara tangis-menangis dan saling membuka diri bersama Ibunya, entah mengapa jiwa Reyes terasa lebih tenang. Maksudnya---bukan berarti selama ini Reyes merasa gelisah.
Namun, entahlah, Reyes merasa sesuatu yang sangat berat mengembannya selama ini terlepas begitu saja. Bahkan, Reyes mampu menarik kedua sudut bibirnya setelah sekian lama ia bersama sang Ibu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Benar-benar melegakan.
Kini, Reyes dan Ibunya melangkahkan kakinya beriringan menelusuri restoran yang cukup besar ini. Well, menilik riwayat pekerjaan Ibu dan Ayahnya, mereka pasti akan menemui restoran yang berkelas tetapi juga pas di hati.
Ini juga pertama kalinya Reyes datang ke restoran yang berdesain mewah nan elegan dengan warna merah klasik yang mendominasi.
"Atas nama Ibu Kalina?" Seorang pramusaji lelaki menghampiri Reyes dan Ibunya ketika ia datang ke kasir. Lelaki berperawakan gempal ini memberikan senyuman ramah kepada mereka, sambil menyebutkan nama Ibu Reyes.
Ya. Nama Ibu Reyes adalah Kalina. Wanita berambut gelombang nan cantik itu membalas senyuman pramusaji lelaki tersebut dan mengangguk.
"Mari ikut saya," perintah sang pramusaji.
Dipimpin ia, Kalina dan Reyes berjalan beriringan. Dalam perjalanan tersebut, Reyes mengira-ngira... apakah sang Ayah akan benar-benar datang? Ia merasa agak waspada.
Pasalnya, Reyes merasa kalau ini semua akan semakin terasa canggung.
Namun, sekali lagi, Reyes sudah besar, bukan? Dia akan menjadi mahasiswa dan menjadi mahasiswa haruslah dewasa. Maka, Reyes tarik napasnya dalam-dalam saat mereka semakin dekat dengan meja reservasi tersebut.
Benar saja. Seorang pria berperawakan bahu yang lebar duduk membelakangi mereka berdua.
Reyes juga bisa melihat Kalina tampak waspada saat wanita itu menarik napasnya sebelum melangkah menuju seberang pria itu.
"Mas," tegur Kalina, bertepatan dengan pria itu mendongakkan kepalanya. Saat itu juga---Reyes yang mengikuti Kalina di belakangnya bisa melihat wajah keriput yang tampan milik sang Ayah.
Setelah menatap Kalina dengan berbinar, ia berpaling pada Reyes---memandang putranya dengan lebih berbinar. "Reyes?" panggilnya, berdiri dari kursi dengan pelan. Pria itu tersenyum dengan lebar---seolah menemui Reyes adalah hal yang paling membahagiakan.
Dengan dramatis, pria itu memutar meja berbentuk bundar ini dan segera datang kepada Reyes. Tak butuh waktu yang lama, ia pun langsung membawa Reyes ke pelukannya.
Oh... apakah ini benar-benar acara reuni?
Sial. Kedua mata Reyes mulai memanas lagi.
"Reyes.... kamu sudah sangat besar," bisiknya, mengusap-usap punggung Reyes yang sama lebarnya dengan sang Ayah.