Benar. Dugaan Dizar tidak pernah salah.
Malam itu, saat ia sengaja menginap di kamar Reyes, ponselnya berdering mengukir nama Eric.
"Halo?"
"Halo, Zar." Kesadaran Dizar yang masih setengah itu langsung merespon cepat nada bicara Eric yang terengah.
"Kenapa?"
"Sorry to say this.—Sandi... kecelakaan."
👑🐙⚽
Masih memakai seragam sekolah, Reyes dan Dizar mengendarai mobil dengan brutal sampai akhirnya tiba disini.
Di depan bangsal rumah sakit yang memiliki lcd bertuliskan 'surgery' dengan napas yang terengah. Mata mereka saling mencari sebelum akhirnya muncul Eric.
"Dokter bilang dia perlu operasi. Sorry, gue nggak minta persetujuan kalian karena keadaannya gak memungkinkan. Lo berdua tenang, berdoa semoga gak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan." ucap Eric dengan luwes. Tak lupa juga meremas bahu Reyes dan Dizar bergantian.
Dizar mengangguk kecil. "Makasih banyak, Ric."
"Di mana Haris?" Berbeda dengan Dizar, Reyes malah tersulut amarah. Rahangnya mengeras dan matanya menyiratkan emosi.
Dizar langsung menyentak bahu Reyes. "Lebih baik lo diam, Rey."
"Bener. Semuanya udah diurus polisi, yah, walau gue nggak yakin juga. Tapi Rey, ini yang namanya risiko. Gue harap lo ngerti," jelas Eric.
Tentu saja Dizar tau betul itu. Dia tau kalau ini semua resiko yang akan ditanggung Sandi karena sudah melakukan hal ilegal tersebut.
"Kalau gitu gue duluan ya, gue bakal balik lagi besok." pamitnya pada Dizar sebelum akhirnya menepuk bahu Jeno yang masih terdiam.
"Gue yakin Sandi bakal baik-baik aja." ujar Hyunjin sembari duduk di bangku depan bangsal, meremas bahu Reyes menenangkan.
Sandi kecelakaan karena beberapa hal yang Reyes dan Dizar yakini perbuatan teman-teman Hwall.
Cowok itu berbaring di rumah sakit selama dua minggu dengan kondisi tidak sadar.
Reyes dan Dizar saling bergantian menjaga sahabatnya karena keluarga Sandi tidak menyanggupi.
Bukan. Bukannya tidak bisa.
Tapi situasilah yang tidak memungkinkan karena ayah Sandi yang sibuk dengan pekerjaannya.
Sampai akhirnya, di malam itu, yang entah kenapa Reyes serta Dizar ada di malam yang sama di kamar tempat Sandi di rawat.
Saat itu Reyes tengah ke kamar mandi, sementara Dizar tergeletak di karpet tertidur.
Saat Reyes kembali, dia melihat Sandi membuka mata. Refleks membuat cowok itu heboh hingga membangunkan Dizar.
Dan ini hal yang membuat Reyes serta Dizar dengan sangat keras melarang cowok itu kembali 'balapan'.
"Gue mimpi indah banget."
"Mimpi apa?"
"Ketemu Bunda."
⚽🐙👑
Srrt srrrt
Dizar mendecak. "Buang." Sebelum akhirnya ia angkat kaki kembali ke rumah.
Sandi melihat tingkah Dizar terkekeh kecil. Ia tau cowok itu kembali ke dalam rumah Jeno karena susu yang ia pegang sudah habis. Dan Dizar yang paling benci suara sedotan kosong itu lantas berniat mengambilkannya susu kotak yang tersisa di kulkas.
Sudah pasti.
"Tapi, kepala lo. Gimana?" tanya Reyes tiba-tiba. Menghamburkan fokus Sandi sebelumnya.
Sandi berdeham. "Udah gapapa. Santai sih."
Reyes mendengus. Ia tau Sandi mengada-ngada. "Kepala lo udah gak sering pusing?"
"Nggak elah."
"Lo masih kuat main bola selama sejam?"
"Bawel njir. Ya kuatlah."
Reyes tertawa. Menaruh gelas yang ia pegang ke rumput-rumput yang mereka berdua duduki.
"Lo bener-bener berhenti balapan?"
Sandi langsung menoleh pada Jeno dengan tatapan—Jeno langsung tertawa keras. "Anjir! Biasa aja kali muka lo!"
Dengan begitu Sandi mengubah air mukanya, lantas menghembuskan napas.
"Gue percaya kok sama lo, bayi besar."
"Lo tau sendiri mau umur lo udah mulai beranjak dewasa pun, balapan tetep berbau negatif. Inget. Lo pernah hampir mati."
"Masa mau mati sebelum bikin pabrik susu?" Dizar yang entah kapan datang menyahut. Tangannya menyodorkan sekotak susu vanilla pada Sandi sebelum akhirnya ikut duduk di samping cowok itu.
Sandi menerimanya sambil mengangguk pelan. "Lo juga—" tunjuknya pada Reyes, sontak membuat cowok itu tersentak. "Jangan mainin cewek mulu. Nanti kena karmanya lagi. Masa mau punya anak sebelum jadi CEO tampan?"
Dizar mengangguk seraya tertawa mendengar kalimat Sandi yang telak itu.
Reyes yang melihat tidak diam begitu saja. Dia langsung menunjuk Dizar dan membuat cowok itu tersentak dan membulatkan matanya. "Lo juga ya Mr. Ej! Alias Mr. absurd, jangan sampe ketangkap! Katanya mau jadi Steve Job kedua?"
Dan ketiganya pun sontak tertawa bersama. Saling memandang dengan mata yang menyipit.
Masing-masing mereka memiliki impian. Dan masing-masing mereka juga mempunyai masa lalu.
Ketiganya tanpa disangka membentuk sebuah ikatan yang orang jarang mengerti.
Dimana mereka menggunakan masa lalu mereka sebagai kunci bagi kesuksesan bersama.
Reyes dengan kelemahannya sebagai cowok brengsek.
Sandi yang memiliki emosi tinggi, seorang pembalap liar.
Dan Dizar yang tak takut hukum demi memuaskan hobinya.
Ketiganya memiliki kombinasi yang sempurna untuk dijadikan sebuah 'kunci' sekaligus 'ancaman'.
Tapi siapa sangka kalau ancaman itu malah menusuk masing-masing dari mereka?
🐙⚽👑
hai aku berterimakasih banget buat kalian yang masih baca ff ini :") aku tau ff ini gada menariknya samasekali, jadi aku salut buat kalian yg masih baca huhuhu :")
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Trinity ✓
Fiksi PenggemarReyes, Sandi, dan Dizar membuktikan kalau sahabat adalah orang yang dapat dipercaya. Tapi, bagaimana kalau suatu keadaan membuat mereka terpaksa saling mengkhianati? warning! °°mental health issues, harsh words, drugs, alcohol, etc. ©tanbaebaes, 20...
